Rabu, 25 April 2012

Khutbah - Mencontoh Sahabat Ali

Hidup, mati, jodoh, dan rezeki ada di tangan Allah, manusia hanya punya hak berikhtiar. Segala keputusan ada di tangan-Nya.

Dari keempat hal tersebut (hidup, mati, jodoh, dan rezeki) manusia seringkali lebih disibukkan dengan urusan rezeki. Maklum, hidup masih dinikmati. Mati terasa berada jauh sekali, tidak ada yang tahu kapan akan datang. Sedangkan jodoh tinggal menjalani.

Oleh karena itu, kebanyakan manusia akan merasa sedih jika dijauhi rezeki dan merasa senang jika dihibur dengan rezeki.

Banyak orang yang berubah menjadi taat ketika berada dalam kesusahan. Rajin berdo’a, ibadah, tawakal ataupun bersedekah. Sebaliknya, ketika dalam keterbatasan harta, ia mengurangi komunikasi dengan Allah, bahkan, tidak jarang lupa dengan doa-doa yang pernah dipanjatkan selagi susah.

Dengan demikian, benarkah dunia itu harus selalu dikejar? Padahal dunia semakin dikejar semakin menjauhi kita.

Seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore. Fatimah, sang isteri menyambutnya dengan penuh sukacita. Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun."

Fatimah menyahut sambil tersenyum, "Karunia Allah tidak hanya di pasar, bukan?”

"Terima kasih Fatimah," jawab Ali. Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali.

Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan salat berjama'ah. Sepulang dari sholat, ia dihentikan oleh seorang lelaki tua. "Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?" Áli menjawab heran. "Ya betul. Ada apa, Tuan?''

Orang tua itu merogoh sakunya seraya berkata, "Dulu, sebelum ayahmu meninggal, aku pernah menyuruh dia menyamak kulit. Aku belum sempat bayar ongkosnya. Terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya." Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.

Petikan kisah sahabat di atas mengandung pesan bahwa rezeki bisa datang tanpa diundang juga dapat pergi tanpa diusir.

Ketulusan dan kesungguhan ikhtiar, itulah yang bermakna dan dianjurkan. Sedangkan jatah yang diterima, adalah kehendak Allah. Ada yang Allah jadikan kaya dengan melimpahnya rezeki. Ada pula yang dijadikan miskin.

Allah Ta’ala berfirman, "Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki." (An Nahl:71)

Dalam ayat lain Allah berfirman, "Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya." (QS. Al-Isra:30)

Berkaitan dengan rezeki, Ibnu Katsir menerangkan, “Seandainya Allah memberi hamba rizki lebih dari yang mereka butuh, tentu mereka akan melampaui batas, berlaku sewenang-wenang, serta akan bertingkah sombong. Akan tetapi Allah memberi rizki dengan melihat apa yang bermanfaat untuk hamba-hamba-Nya. Allah tentu lebih mengetahui siapa orang yang pantas menerima rezeki-Nya.”

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Sesungguhnya ada di antara hamba-Ku, yang imannya semakin baik jika dianugerahi kekayaan. Dan sesungguhnya, ada di antara hamba-Ku yang imannya semakin baik bila diberi keterbatasan, dahalm hal harta.”  Wallahu a’lam bish showaab.
Semoga Allah memberikan yang terbaik bagi kita semua.

Barakallah …, Dystar, 16 Maret 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar