Tampilkan postingan dengan label khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label khutbah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2012

Khutbah -- KELEMAHAN MANUSIA

Segala puji bagi Allah. Sholawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada Nabi kita, Muhammad Saw.

Allah berfirman dalam surat al-Hadid ayat 22 dan 23, “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya hal itu amat mudah bagi Allah. Kami jelaskan yang demikian itu, supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang hilang darimu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Manusia, sejak dalam rahim sampai kematiannya, tidak pernah lepas  dari kesulitan demi kesulitan, ujian demi ujian. Bagai seorang yang mengarungi samudera, bila selamat dari ombak yang mengganas, dia tetap cemas dan diliputi rasa takut oleh ikan yang ganas atau bahaya yang lain.
Manusia bila bebas dari lapar, dia boleh jadi tak bebas dari penyakit. Kalau dari keduanya dia bebas, boleh jadi anaknya yang menderita. Atau tangis pilu kelaparan dan penyakit para tetangga kita, hingga saudara-saudari kita dimanapun mereka berada. Dan kalaupun dia terhindar dari semua itu, dia tidak dapat mengelak dari penyakit tua yang kadang tidak dirasakannya.

Al-Quran menyimpulkan, “Sesungguhnya, semua manusia berada dalam kesulitan dan susah payah.” (Q. al-Balad 90: 4).

Bukan saja dalam memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga dalam memelihara dan melindungi diri dan keluarga mereka. Bahkan, dalam mewujudkan hal-hal yang baik pun, manusia harus berjuang menghadapi dirinya sendiri, sebelum menghadapi musuh-musuhnya yang lain.

Lantas, apakah kita tidak boleh mengeluh? Apakah kita tidak boleh mengadu kepada Allah Swt, Yang Maha Sempurna dalam segala hal?

Agama tidak melarang kita mengeluh. Sebab, para Nabi pun mengeluh. Ayyub menyeru Tuhannya, “sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.” (Q. Shaad 38: 41). Dengarkan juga keluhan Nabi Ya’kub yang ucapannya diabadikan dalam al-Qur’an, “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q. Yusuf 12: 86). Nabi Muhammad juga demikian. Beliau mengeluh, ketika di Mekah ditolak, dan di Thaif pun diganggu. Beliau mengeluh, “Wahai Tuhanku! Kepada siapa Engkau serahkan aku? … selama Engkau tidak murka kepadaku, aku sama sekali tidak perduli.”

Dengan bercermin dari keluhan para nabi itu, sebagai manusia yang lemah, tidak pantas bila menjauh dari Allah Swt. Seruan azan adalah sebentuk kasih sayang Allah untuk mencurahkan rahmat dan hidayahnya. Sajadah yang kita gelar di bumi mana pun, itu juga pertanda bahwa kita hanya mengadukan semua permasalahan hidup hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain. Sebab Allah adalah tempat bergantung bagi segala sesuatu. Allahush Shomad.

Barakallah ….
Bhayangkara, 13 Januari 2012

Khutbah - JAHAT ITU GELAP

Allah berfirman dalam surat 18, al-Kahfi, ayat 110. “ … Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia berbuat baik dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”

Berkaitan dengan berbuat baik, kiranya sudah jelas. Beberapa contoh sederhana disebutkan dalam hadis Nabi. Menjaga lidah dan tangan untuk tidak menyakiti tetangga adalah perbuatan baik. Membuang duri di jalan, juga perbuatan baik. Menuntut ilmu, juga perbuatan baik. Bahkan, senyum kita pun termasuk sedekah, dan itu termasuk perbuatan baik.

Lantas, bagaimana dengan lawannya, yakni perbuatan jahat, dosa, atau zalim? Ini pun untuk kebanyakan kita juga sudah jelas. Namun dalam kesempatan singkat ini khatib ingin menyampaikan salah satu segi pengertian tentang dosa itu.

Di dalam al-Quran, perkataan yang banyak digunakan untuk arti “kejahatan” atau “dosa” ialah “dzulmun,” dan pelakunya, yakni orang yang berbuat kejahatan atau dosa, disebut dzaalim (melalui deformasi menjadi lalim). Dari sudut makna kebahasaan atau etimologi, dhulm itu artinya “gelap,” karena memang kejahatan itu menimbulkan kegelapan hati. Dan dzaalim berarti “orang yang melakukan kegelapan.”

Makna bahasa ini berhimpitan dengan konsep lain dalam agama tentang hati. Dalam khazanah agama, kita sering menyebut hati kita ini secara lengkapnya “hati nurani” (yakni, hati yang bercahaya). Hal itu ialah karena hati kita bersifat menerangi jalan hidup kita, dan merupakan “hidayah bawaan” dari Sang Khaaliq kepada kita.

Dalam kitab suci al-Quran ditegaskan bahwa kalau seseorang melakukan kejahatan, dia tidaklah berbuat jahat terhadap Allah (dalam arti merugikan-Nya), melainkan dia berbuat terhadap dirinya sendiri; sebagaimana juga kalau dia berbuat baik, maka tidaklah dia berbuat untuk kebaikan Allah, melainkan untuk kebaikan diri sendiri.

" … Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (2:57)

Maka sesungguhnya, seperti yang ditegaskan dalam Kalamullah bahwa, azab yang diderita seseorang yang berbuat kejahatan tidak hanya bakal dirasakan di akhirat kelak saja, sekarang pun secara kontan, orang itu sudah mulai merasakannya, yaitu berwujud kegelapan dan kekotoran hatinya.

Dan ada azab Allah yang lebih-lebih lagi pedihnya dari semua ini adalah, jika yang bersangkutan malah tidak merasakannya. Sebab hal itu pertanda hatinya telah mati, telah benar-benar gelap, tidak lagi bersifat nurani, tapi sudah menjadi dhulmani (penuh dengan kotoran).

Dalam kitab hadis Bulughul Maram no 1511 Nabi memberi nasehat, “Jauhilah dosa, sebab dosa itu adalah kegelapan di hari kiamat.”

Dan dalam Kitab Suci al-Quran ditegaskan, “Barangsiapa di dunia ini buta (gelap), maka di akhirat kelak juga buta, dan akan lebih sesat jalan lagi.” (17 [al-Isra]:72)
Semoga Allah selalu membimbing kita kepada jalan-Nya yang lurus.

Barakallah … Dystar, 25 Maret 2011

Khutbah Idul Fitri -- Memaafkan Dan Mendoakan

By Kang Jalal

Hadirin-hadirat yang berbahagia.
Ketika fajar menyingsing pada dini hari Idhul Fitri, kita mendengar bukan hanya gemuruh suara takbir yang membesarkan Allah. Jauh dalam lubuk hati, kita mendengar gemuruh perasaan yang mengharu-biru, gemuruh suara kepedihan dan kegembiraan, gemuruh tangis dan tawa. Kita menangis karena mengenang Ramadhan, yang tiba-tiba meninggalkan kita, pada akhir waktunya, pada ujung jangkanya, pada kesempurnaan bilangannya. Kita tertawa karena tiba pada hari bersyukur, yang mengantarkan kita pada curahan hujan kasih sayang Allah, yang tidak ada batasnya, tidak ada hingganya dan tidak ada henti-hentinya.

Baru saja kita meninggalkan rumah kita dengan iringan takbir. Baru saja kita melanjutkan takbir di mesjid ini. Baru saja kita bersama-sama mengangkat tangan berulang kali mengucapkan Allahu Akbar. Baru saja kita meratakan dahi kita diatas sajadah sambil mengumamkan Subhana Rabbiyal 'Ala wa bi hamdih. Sekarang kita duduk bersimpuh di halaman kebesaran Allah SWT. Marilah kita rasakan semilir angin pagi mengusap muka kita. Marilah kita rasakan hangatnya matahari pagi merambat pada setiap pori-pori kulit kita. Marilah kita hirup wewangian surgawi yang memancar dari keberkahan Idul Fitri.

Hadirin-hadirat yang berbahagia.
Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit marilah kita kosongkan pikiran kita sejenak. Marilah kita ingat orang-orang yang kita cintai dalam hidup ini. Kenanglah ayah-ibu kita, kakek-nenek, suami-istri, kakak-adik, tetangga, kekasih, atau siapa pun mereka yang pada hari ini tidak dapat berbagi bahagia bersama.
Ada diantara mereka yang sekarang lagi diperantauan, lagi terbaring sakit atau ada yang sudah dipanggil Allah untuk menghadapnya.

Kemanakah ayah atau ibu yang pada lebaran lalu memeluk dan menyambut uluran tangan kita dengan kasih sayangnya? Kemanakah kakek atau nenek, yang pada lebaran lalu masih mencium kita? Kemanakah suami ibu atau istri bapak yang pada lebaran lalu masih bersama-sama dengan keluarga? Kemanakah kakak atau adik kita yang pada lebaran lalu gelak tertawa berbagi bahagia bersama kita? Kemanakah, tetangga, kekasih, sahabat yang lebaran lalu masih sempat menyalami kita dan mengirimkan kartu lebaran, mengucapkan selamat hari raya idhul fitri.

Ya Allah hari ini mereka tidak dapat berlebaran bersama kami, tidak bisa kami ulurkan tangan kami untuk meminta maaf atas dosa-dosa kami kepada mereka. Tidak bisa kami undang mereka untuk berkumpul di rumah kami. Tetapi kami mohon Ya Allah masukkanlah rasa bahagai kepada mereka. Harumkanlah kuburan mereka dengan wewangian doa-doa kami. Sampaikanlah salam kami yang tulus kepada mereka. Ringankan beban yang menimpa mereka di alam kubur.

Hadirin-hadirat yang berbahagia.
Ada doa-doa yang sangat menyentuh dan dianjurkan dibaca pada malam-malam ramadhan. Ramadhan sudah berlalu, tapi berguna bagi kita merenungkan kembali doa itu.

"Tuhanku para pengemis tengah berhenti dipintu-Mu. Orang-orang fakir tengah berlindung dihadapan-Mu. Perahu orang-orang miskin tengah berlabuh pada tepian lautan kemurahan Mu dan keluasan-Mu, berharap dapat singgah dihalaman kasih-Mu dan anugerah-Mu."

"Tuhanku jika di bulan yang mulia ini, Engkau hanya menyayangi orang yang menjalankan puasa dan shalat malamnya dengan penuh keikhlasan; maka siapa lagi yang akan menyayangi pendosa yang kurang beribadah, yang tenggelam dalam lautan dosa dan kemaksiatan."

"Tuhanku jika Engkau hanya mengasihi orang-orang yang taat, maka siapa lagi yang akan mengasihi orang yang durhaka. Sekiranya Engkau hanya akan menerima orang-orang yang banyak amalnya saja, maka siapa lagi yang akan menerima orang sedikit amalnya."

"Ilahi beruntunglah orang-orang yang berpuasa. Berbahagialah orang-orang yang shalat malam. Selamat sejahteralah orang-orang yang ikhlas. Sedangkan kami hanyalah hamba-hamba-Mu yang berlumuran dosa. Sayangilah kami dengan kasih sayang-Mu. Bebaskan kami dari api neraka dengan maaf Mu. Ampuni dosa-dosa kami dengan kasih-Mu, wahai yang paling Pengasih dari segala yang mengasihi."

Hadirin-hadirat yang berbahagia.
Doa diatas menunjukan bukan hanya kerendahan hati pendoa, tetapi juga pengakuan pendosa. Kita merasakan segala kelemahan diri kita dan menggantungkan segala amal kita kepada kasih sayang Dia.
Memang, kita telah berusaha mengisi Ramadhan dengan amal-amal kita. Tetapi, kita tahu banyak sekali kekurangan kita. Kemalasan kita lebih banyak dari ketaatan kita. Kealpaan kita lebih besar dari zikir kita. Lidah-lidah kita lebih banyak bergunjing, memaki atau mengeluarkan kata-kata yang tidak patut ketimbang membaca Al-Quran, menyebut asma Allah, atau menghibur hamba-hamba-Nya. Seluruh anggota badan kita lebih cepat memenuhi perintah hawa nafsu daripada menjemput panggilan Tuhan.

Apa akibat dari semuanya ini? Kita terus menerus dirundung musibah. Kegelisahan lama bersambung dengan kegelisahan baru. Kecemasan kita bertambah setiap hari. Kita kejar kebahagian tapi kita sering menemukan penderitaan. Kita tak pernah tenang.

Allah Swt berfirman, "Tidaklah menimpa kalian musibah kecuali karena perbuatan tangan-tangan kalian juga. Tetapi Allah mengampuni banyak sekali," ( QS. Al-Syura; 30).

Imam Ali bin Abu Thalib a.s bersabda, "Tidaklah urat terkilir, batu tergelincir, tongkat tertusuk, kecuali karena dosa. Dan apa yang diampuni Allah sungguh banyak. Barang siapa yang Allah dahulukan siksanya atas dosa-dosanya didunia ini, maka sesungguhnya Allah terlalu mulia dan terlalu agung untuk mengulangi siksanya lagi pada hari akhirat." ( Ushul Al-Kafi, 2:445)

Jadi apa pun yang menimpa kita berasal dari dosa-dosa yang kita lakukan. Tubuh yang sakit, rezeki yang sempit, musuh yang menyerang, bencana yang menimpa, hati yang terluka, semuanya adalah akibat dosa. Tetapi Allah yang Maha Pengasih tidak selalu menghukum dosa-dosa kita.

Dengan sabar Dia membiarkan kita dan menunggu kita untuk kembali pada-Nya. Allah selalu menanti hamba-hamba-Nya yang mau melabuhkan perahunya pada tepian lautan kasih sayang-Nya.

Allah berfirman, "Sekiranya Allah menyiksa manusia karena apa yang mereka lakukan, tentu tidak akan tinggal dipunggung bumi ini satu makhluk pun ( yang hidup); tetapi Allah menangguhkan mereka sampai ke waktu yang ditentukan. Maka apabila datang waktunya maka sesungguhnya Allah selalu mengawasi hamba-hamba-Nya," (QS. Al Fatir; 45).

Allah Swt masih memberikan tempo kepada kita untuk bertaubat. Bersihkan dosa-dosa kita dengan meninggalkan dosa-dosa itu sekarang juga. Datanglah kepada Allah dengan penuh penyesalan. Akui segala kesalahan dan kemaksiatan kita. Segera setelah Dia yang maha kasih menerima taubat kita, semua akibat buruk dosa itu akan dihapuskan. Bukan itu saja Allah juga akan mengganti seluruh keburukan kita dengan kebaikan. Allah akan mengganti ketakutan kita dengan rasa damai, kefakiran kita dengan kecukupan, kebodohan dengan pengetahuan, kesesatan dengan petujuk.

Allah Swt berfirman, "Kecuali orang yang bertaubat dan beramal shalih, maka mereka akan Allah gantikan keburukannya dengan kebaikan. Adalah Allah maha Pengampun dan maha Penyanyang." ( Al-Furqan; 70)

Hadirin hadirat yang berbahagia.
Dengarkanlah juga bagaimana Allah yang maha Pengasih memanggil hamba-hamba-Nya yang berdoa dengan sapaan yang sangat mesra.

Ya 'Ibadi. Hai hamba-hambaku, "Katakanlah; Hai hamba-hambaku yang telah melewati batas dalam berbuat dosa. Janganlah kalian berputus asa dari kasih sayang Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa seluruhnya. Seungguhnya Dia maha Pengampun dan maha Penyanyang. Kembalilah kalian kepada Tuhanmu, berserah dirilah kepada-Nya, sebelum datang kepada kalian azab kemudian kalian tidak lagi dapat membela diri (QS Al-Zumar; 53-54)

Siapakah yang dipanggil Allah dalam ayat ini?
Allah tidak memanggil; Ya 'Ibadiyalladzina aqamush shalat- "Wahai hamba-hambaku yang mendirikan shalat" atau Ya 'Ibadiyalladzina 'amilush shalihat- wahai hamba-hambaku yang melakukan amal shaleh".
Yang dipanggil Allah untuk kembali kepangkuan-Nya adalah Ya 'Ibadiyalladzina asrafu 'ala anfusihim- wahai hamba-hamba-Ku yang sudah melewati batas'. Yang dipanggil Allah adalah kita semua, yang sudah menghabiskan usia kita dalam kemaksiatan. Yang disapa Allah adalah dengan penuh kasih adalah kita semua, yang sudah membebani punggung kita dengan kedurhakaan. Yang dipinta Allah tidak banyak. Janganlah berputus asa. Dosa-dosa kalian besar, tetapi lebih besar lagi ampunan Allah. Kalian tidak layak menggapai kasih sayang Allah, tetapi kasih sayang Allah sangat layak untuk mencapai kalian karena kasih sayang Tuhan meliputi langit dan bumi.

Hadirin hadirat yang berbahagia
Rasulullah Saw bersabda; " Ada tiga dosa yang akan disegerakan siksanya di dunia ini juga tidak akan ditangguhkan pada hari akhirat; durhaka kepada orang tua, berbuat zalim kepada manusia, dan tidak berterimakasih kepada kebaikan orang lain.

Jika kita merasa kurang berkhidmat kepada orang tua, jika kita selama ini mengabaikan mereka, jika kita tidak segan-segan menyakiti hati mereka, segeralah datang kepada keduanya. Bersimpuhlah di kaki mereka, cium tangan mereka, dan basahi tangan yang pernah menimang kita dengan air matanya, mintakan maaf atas kekurangan pengkhidmatan kita kepada mereka. Jika diantara keduanya sudah meninggalkan dunia, kirimkan doa yang tulus kepada mereka. Antarkan doa itu dengan amal shalih dan hadiahkan amal shalih itu kepada mereka. Ziarahilah kuburan mereka. Lalu bertaubatlah kepada Allah. Mohonkan Rahmat-Nya agar Dia tidak menurunkan azab-Nya kepada kita. Mohonkan kepada Allah agar Dia mengasihi kedua orangtua kita sebagaimana mereka mengasihi kita diwaktu kecil.

Marilah ditempat ini kita bacakan doa untuk mereka; Ya Allah balaslah kebaikan mereka karena telah mendidik kami. Berikanlah ganjaran kepada mereka karena telah memuliakan kami. Jagalah mereka sebagaimana mereka telah memelihara kami pada masa kecil kami.

Ya Allah, untuk setiap derita yang menimpa mereka karena kami, untuk setiap hal yang tidak enak mengenai mereka karena kami, untuk setiap hak mereka yang kami abaikan, jadikanlah itu semua sebagia penghapus terhadap dosa-dosa mereka, ketinggian dalam derajat mereka, kelebihan dalam kebaikan mereka. Wahai yang mengubah keburukan dengan kebaikan secara berlipat ganda.

Jika kita pernah merampas hak orang lain atau menggunjing dan memfitnah mereka atau memeras tenaga mereka untuk keuntungan kita sendiri, atau menyakiti hati mereka dengan penghinaan atau makian, atau mendengki mereka dan berusaha menjatuhkan kehormatan mereka dengan tuduhan keji, atau menyiksa mereka dengan lisan atau tindakan, atau kita mengabaikan mereka ketika mereka meminta pertolongan, atau tidak memaafkan mereka ketika mereka meminta maaf, kita sesungguhnya telah berbuat zalim kepada mereka.

Allah Swt berfirman: Dan orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat bukan karena apa yang mereka lakukan, sungguh mereka telah memikul fitnah besar dan dosa yang nyata ( Al-Ahzab 58).

Kita telah mengundang azab Allah. Kembalikanlah segala hak mereka yang telah kita rampas. Muliakanlah kehormatan mereka yang telah kita rendahkan. Berbuat baiklah kepada mereka setelah kita berbuat jahat kepada mereka. Mintalah maaf dengan tulus. Jika mereka sudah meninggal dunia, ucapkan doa buat mereka. Hadiahkan amal shaleh kepada mereka. Lalu bertaubatlah kepada Allah. Mohonkan Rahmat-Nya agar Dia tidak menurunkan azabnya kepada kita.

Jika kita pernah menerima kebaikan dari makhluk Allah, yang lewat mereka Allah mengalirkan nikmatnya kepada kita, lalu kita tidak membalas kebaikan itu dengan kebaikan, atau kita tidak sedikitpun menampakkan terima kasih kita kepada mereka, kita telah mengundang azab Allah.

Mereka yang berbuat baik kepada kita tidak terhitung jumlahnya. Disitu ada orangtua yang membesarkan kita, guru yang mengajarkan ilmu kepada kita, kawan yang menolong kita, istri atau suami yang berkhidmat kepada kita, pegawai yang melaksanakan perintah kita, atau orang-orang kecil yang secara tidak langsung membesarkan kita. Berbuat baiklah kepada mereka sekarang juga. Ungkapkan terimakasih kita kepada mereka, paling tidak dengan penghormatan yang kita berikan kepada mereka. Berbuat baiklah kita kepada mereka setelah kita berbuat jahat kepada mereka. Mintakan maaf yang tulus. Sebutkan nama-nama mereka dalam doa-doa kita. Jika mereka sudah meninggal dunia, hadiahkan amal shaleh kita kepada mereka. Lalu bertaubatlah kepada Allah. Mohonkan rahmat-Nya agar Dia tidak menurunkan azab-Nya kepada kita, karena kita tidak berterimakasih kepada orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita.

Hadirin-hadirat yang berbahagia
Mari kita isi sisa hidup kita di dunia ini dengan sedapat mungkin meninggalkan upaya untuk menyakiti hati orang lain. Tinggalkanlah gerakan-gerakan lidah yang mempergunjingkan dan menjatuhkan kehormatan orang lain. Hindarkanlah segala perbuatan tangan dan kaki kita dari berbuat sesuatu yang dapat menganiaya mereka. Karena kezaliman yang kita lakukan akan menghapus seluruh amal shalih kita. Marilah kita mulai hidup kita ini sekarang dengan berusaha untuk membahagiakan orang lain, membahagiakan orang-orang disekitar kita. Maafkanlah segala kesalahan yang pernah mereka lakukan.

Setelah shalat Id nanti, berkunjunglah kita kekuburan, kita ziarahi kuburan orang-orang terdekat kita atau kepada orang-orang yang pernah kita sakiti. Merenunglah di sana, di atas pusara ayah-ibu, kakek-nenek, atau orang-orang yang kita cintai. Kenanglah bahwa kita juga akan berbaring di bawah tanah seperti mereka dibungkus dengan kain kafan, tergolek seperti seonggok tubuh yang tak berguna dan terlupakan. Tengoklah kekiri dan kekanan. Bukankah lebaran lalu mereka masih bersama kita, ikut pergi ke mesjid ini, ikut menggemakan takbir disamping kita? Tetapi hari ini Allah memanggil mereka terlebih dahulu. Kirimkanlah doa yang tulus kepada mereka. Mohonkan kepada Allah supaya Dia memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada mereka. Kita juga tidak tahu, mungkin saja setelah shalat Id nanti atau besok kita yang akan dipanggil Allah untuk menghadap-Nya. Kita juga akan diantarkan oleh kaum kerabat kita kekuburan. Untuk itu mulai saat ini marilah kita mengingat akan kematian, dengan selalu meninggalkan apa yang dilarang Allah dan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya, serta dengan selalu membahagiakan hamba-hamba Allah dimuka bumi ini. Amin Ya Rabbil 'Alamin.

<http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/khotbah-idhul-fitri-2.html>

Khutbah - Esensi Silaturahmi

by Kang Jalal

Hadirin dan hadirat, 'Aidin dan 'Aidat, Faizin dan Faizat
Baru saja kita rebahkan diri kita, bersimpuh di depan pintu kebesaran Allah yang Mahakasih Mahasayang. Baru saja kita mengakhiri salat kita dengan menyebarkan salam sejahtera kepada semua makhluk di sekitar kita. Sejak tadi malam sampai pagi ini, kita memenuhi langit dengan suara takbir kita. Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd!

Jauh dari kedalaman hati kita yang paling bening, terbersit rasa syukur yang tidak terhingga. Rasa syukur yang mengisi setiap pembuluh darah kita, mengalirkan kesejukan ke dalam pori-pori kulit kita, urat-urat syaraf kita, jaringan-jaringan daging kita, butir-butir darah kita, dan sampai ke dalam tulang sumsum kita. Seperti tetes-tetes embun di pagi hari, air mata kita perlahan-lahan menggenangi pipi kita. Air mata terima kasih kita kepada Dia Yang Mahasayang. Air mata kepuasan karena kita bisa berhari-raya lagi. Air mata kebahagiaan karena kita mendapat peluang untuk menyelesaikan puasa dan salat malam kita di bulan Ramadhan.

Dan inilah kita sekarang: Para aidin dan aidat, faizin dan faizat! Orang-orang yang berhari raya! Orang-orang yang merayakan kemenangan! Kenanglah kesibukan kita di bulan Ramadhan: Menahan lapar dan haus, mengendalikan hawa nafsu, membaca Al-Quran, menghadiri tadarusan, melakukan salat malam atau berbagi makanan kepada fuqara dan masakin. Kenanglah malam-malam qadar ketika kita melantunkan doa-doa kita dalam kesepian atau dalam kerumunan, di rumah sendiri atau di rumah Tuhan.

Kenanglah sabda Nabi saw di tengah-tengah sahabatnya, lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu. "Pada malam Qadar Allah memerintahkan malaikat Jibril untuk turun ke dunia bersama rombongan para malaikat...Ketika fajar terbit, Jibril berseru: Wahai para malaikat, kembalilah, kembalilah. Para malaikat pun menyahut: Ya Jibril, apa yang telah dilakukan Allah dalam memenuhi hajat-hajat kaum mukmin umat Muhammad? Jibril berkata: Allah swt telah memenuhi keperluan mereka - membahagiakan dan mengampuni mereka semua kecuali empat orang! Para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, man hum? Siapakah mereka yang tidak diterima ibadatnya, yang ditolak doanya, yang tidak diampuni dosa-dosanya?

Dengarkan Nabi saw bersabda: Semua orang dipenuhi keinginannya kecuali empat orang: orang yang terus menerus minum khamar, orang yang durhaka kepada orangtuanya, orang yang memutuskan silaturahmi, dan orang yang sedang bermusuhan (Al-Baihaqi, Syu'b al-Iman 3:336 hadis 3695; Rawdhat al-Wa'izhin 380, dari Imam Ali a.s).

Hadirin dan hadirat, Faizin dan Faizat:
Kita tahu, minum khamar adalah dosa besar. Alhamdulillah, kita semua berhasil menghindarinya. Yang tidak kita sadari adalah kenyataan bahwa seperti minum khamar, durhaka pada orang tua, memutuskan silaturahmi, dan meneruskan permusuhan adalah dosa-dosa besar. Karena dosa-dosa besar itu, pintu-pintu langit ditutupkan, ibadah-ibadah dicampakkan, doa-doa dilemparkan, dan permohonan ampunan ditolakkan.

Marilah kita kenang ibadah-ibadah kita di bulan Ramadhan. Ketika kita menadahkan tangan kita di atas sajadah kita, kenanglah apakah sebelumnya kita membuat orang tua kita murka atau sakit hati? Apakah kita menyakiti pasangan kita, saudara kita, sahabat kita, tetangga kita, atau pegawai kita? Apakah kita tidak mau meminta maaf dan tidak mau memaafkan? Apakah kita menyimpan dendam dan memelihara permusuhan? Dalam taman kehidupan, apakah kita menjadikan diri kita seperti rumpun berduri yang tumbuh di tengah jalan. Semua orang yang lewat pasti terluka karena duri-duri kita yang tajam. Bila kita menjawab ya, kita keluar dari bulan Ramadhan dengan tangan hampa. Tanpa ijabah doa. Tanpa ampunan Tuhan. Tanpa anugrah Ramadhan.

Tanyalah dirimu! Ketika lidah kita membacakan ayat-ayat suci, ingatlah apakah lidah yang sama telah menghamun maki orang lain hanya karena fahamnya berbeda dengan kita, atau karena pendapatnya tidak kita setujui, atau karena kelakuannya tidak seperti yang kita inginkan? Apakah lidah kita telah menjadi ular yang menyemburkan bisa kepada semua orang. Bisa fitnah yang menjatuhkan kehormatan orang. Bisa namimah yang mengadu domba orang-orang yang saling mencinta. Bisa membongkar aib yang mempermalukan orang. Hitung berapa banyak hamba Allah yang merintih pilu, menderita karena bisa-bisa menyengat yang keluar dari mulut kita.

Sambil memegang tirai Ka'bah, Nabi saw mengagumi rumah Tuhan: Betapa agungnya kamu. Betapa besarnya kamu. Tapi, demi Allah, yang jiwaku ada di tanganNya, jika ada orang yang meruntuhkan kamu, wahai Ka'bah, bata demi bata, kemudian menghancurkannya dan membakarnya, dosanya jauh lebih rendah daripada orang yang meruntuhkan kehormatan kaum mukmin." (Dengan redaksi yang lebih singkat, hadis ini diriwayatkan dalam Sunan Ibn Majah 3932; Syu'b al-Iman 6706; Bihar al-Anwar 67:71; Tanbih al-Khawathir 1:52)

Jika lidah kamu masih juga menghancurkan kehormatan orang, menyebarkan aib, fitnah, dan makian, kamu keluar dari bulan Ramadhan dengan tangan hampa. Tanpa ijabah doa. Tanpa ampunan Tuhan. Tanpa anugrah Ramadhan.

Marilah kita bermuhasabah! Hari ini adalah hari yang paling layak untuk bermuhasabah! Ketika kita rukuk dan sujud di hadapan Tuhan, ketika kita merebahkan kepala kita di atas sajadah, apakah kepala kita itu di luar tempat salat kita dongakkan untuk menunjukkan kebesaran kita dan merendahkan orang lain?

Nabi saw bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada perasaan sombong walaupun hanya sebesar debu saja!" (Bihar al-Anwar 73:235; Mizan al-Hikmah 8:304)

Orang-orang yang sombong keluar dari bulan Ramadhan dengan tangan hampa. Tanpa ijabah doa. Tanpa ampunan Tuhan. Tanpa anugrah Ramadhan. Orang-orang yang menyakiti sesama makhluk Tuhan, orang yang menyebarkan kebencian dengan fitnah, hasutan dan makian, orang-orang yang meruntuhkan kehormatan orang lain, orang yang sombong dan merasa diri paling benar dan paling soleh, adalah orang-orang yang memutus-mutuskan silaturahmi. Mereka dilaknat Allah di dunia dan akhirat.

Allah swt berfirman (Al-Quran, Surat Muhammad saw 22-23): "Bukankah apabila kalian berpaling dari ajaran Al-Quran, kalian akan berbuat kerusakan di bumi dan memutus-mutuskan silaturahmi. Mereka itulah orang-orang yang Allah laknat mereka. Allah butakan dan tulikan mereka."

Marilah kita memohon perlindungan kepada Allah yang Mahakasih dari perbuatan yang memutuskan silaturahmi. Pada hari Id ini, mari kita bukakan gerbang-gerbang langit, mari kita luaskan pintu-pintu ijabah, dengan menyebarkan kasih sayang ke tengah-tengah manusia. Mintakan maaf kepada semua orang yang pernah kita lukai hatinya: orangtua, pasangan hidup, karib-kerabat, tetangga dan sahabat-sahabat kita. Mintakan maaf dengan tulus, karena maaf mereka adalah kunci untuk mendapatkan ampunan Tuhan; karena maaf mereka adalah wasilah untuk mengembalikan kepada kita pahala amal-amal saleh kita, keberkahan dan keselamatan, kemuliaan dan kebahagiaan.

Bertekadlah, mulai hari ini, demi kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat, kita hanya akan menyebarkan senyuman Sang Nabi saw, memaafkan orang yang berbuat salah, mengenyangkan orang yang lapar, menyembuhkan orang yang sakit, menghibur orang yang menderita, membantu orang yang kekurangan. Sekali lagi, marilah kita buka pintu-pintu ijabah, tirai-tirai kegaiban, dengan doa yang kita peroleh dari manusia-manusia suci:

(Naskah ini ditulis oleh Prof DR KH Jalaluddin Rakhmat [Ketua Dewan Syura IJABI] yang dibacakan oleh beberapa Khatib IJABI dalam pelaksanaan Idul Fitri di beberapa daerah di Indonesia).

<http://ahmadsahidin.wordpress.com/2011/09/05/khutbah-idul-fitri-1432-h-silaturahmi-esensi-ajaran-islam/#more-2048>