"Siapa yang merusak nama baik atau harta benda orang lain, maka minta maaflah kepadanya sekarang ini, sebelum datang hari di mana uang tidak laku lagi. Kalau ia mempunyai amal baik, sebahagiannya akan diambil, sesuai dengan kadar aniaya yang telah dilakukannya. Kalau ia tidak mempunyai amal baik, maka dosa orang lain itu diambil dan ditambahkan kepada dosanya" (HR. Bukhari).
Terpengaruh oleh janji orang-orang yang sedang mengejar kedudukan, sebahagian kita saling memaki satu sama lain. Padahal belum tentu orang yang berjanji itu akan berbuat sebagaimana janjinya, bila terpilih. Sedangkan kita sudah terlanjur bermusuhan. Yang lebih parah lagi, kita menjadi orang-orang yang bangkrut.
Meskipun di bulan suci Ramadhan disediakan berlipat ganda pahala, tak tertutup kemungkinan terjadi defisit bagi sebahagian orang. Orang-orang seperti ini disebut demikian karena pahalanya tergerus atau mengalami kebangkrutan. Itu terjadi karena perilakunya sendiri.
Rasulullah s.a.w. pernah menjelaskan tentang bagaimana maksudnya orang yang bangkrut. Katanya, orang yang bangkrut dari kalangan umatnya adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan-amalan ibadah shalat, puasa, dan zakat. Tetapi pada saat yang sama ia juga datang sebagai orang yang pernah mencaci maki orang lain, menuduh orang lain, makan harta orang lain, mengalirkan darah orang lain, memukul orang lain. Maka orang-orang lain tersebut (korban) akan diberikan pahala kebaikan dia (pelaku). Ketika seluruh kebaikannya habis sebelum dia dapat menebusnya, maka dosa-dosa mereka (para korban) akan ditimpakan kepadanya (pelaku), kemudian dia akan dilemparkan ke dalam api neraka (HR. Muslim).
Karena itu, bulan suci Ramadhan sejatinya menjadi saat-saat yang tepat untuk melatih diri agar tidak (lagi) menjadi orang bangkrut. Apalagi di bulan itu, karena ingin meraih pahala dan meraih taqwa, banyak orang berusaha untuk menata dirinnya dengan rasa peduli, gemar bersedekah, gemar berzikir, dan lain-lain. Sungguh rugi berada dalam lingkungan orang-orang seperti itu, kita tak sanggup menghindar dari kebangkrutan.
Oleh Jarjani Usman
DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.
Rabu, 25 April 2012
Tafakur -- Kualitas
"Takut kepada Allah harus dengan ilmu tentang Allah; ilmu tentang Allah juga harus dengan rasa takut kepadaNya. Dan takut kepada Allah harus melahirkan ketaatan kepadaNya. Orang-orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang mengerjakan perintah-perintahNya serta menghindari segala bentuk larangan-Nya" (Ibn Taimiyah).
Ada proses yang berulang dalam kehidupan manusia. Perulangan itu seharusnya menambah kelancaran prosesnya dan menghasilkan kualitas yang terus meningkat. Namun, perulangan itu hanya menjadi rutinitas yang tidak melahirkan kualitas bagi sebahagian orang. Tidak ada kelancaran, juga tanpa peningkatan kualitas ketundukan, meskipun berpuluh tahun telah dihabiskan untuk melakukan hal yang sama.
Shalat, misalnya, dilakukan dengan cara yang sama setiap hari. Demikian juga dengan doa. Sebahagian orang hanya mengucapkan lafal dalam shalat dan doa saja, tetapi tak pernah memikirkan apa yang diucapkan dan didoakan. Padahal semua itu adalah permintaan. Dalam setiap permintaan, tentunya harus memahami apa saja yang diminta.Permintaan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tidak tergesa-gesa. Hati harus selalu dilibatkan dalam setiap urutannya. Permintaan yang tidak sungguh-sungguh tidak akan diterima.
Tidak adanya kelancaran dan kualitas lainnya dari proses yang berulang menunjukkan bahwa tidak ada upaya menuntut ilmu, bagi sebahagian orang. Padahal ilmu adalah hasil yang bisa diperoleh dari proses melaksanakan sesuatu, termasuk melaksanakan shalat dan doa. Dengan kata lain, ilmu untuk beramal dan dengan cara beramal menghasilkan ilmu. Di antara perintah wajib, kata Rasulullah, adalah menuntut ilmu sejak dalam ayunan hingga ke liang lahat. Itu artinya, tak ada istilah berhenti dalam menuntut ilmu, sebagai wujud ketundukan dan ketakutan kepada Allah. Jadi, berhenti menuntut ilmu karena alasan usia, termasuk suatu pelanggaran.
Oleh Jarjani Usman
DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.
Ada proses yang berulang dalam kehidupan manusia. Perulangan itu seharusnya menambah kelancaran prosesnya dan menghasilkan kualitas yang terus meningkat. Namun, perulangan itu hanya menjadi rutinitas yang tidak melahirkan kualitas bagi sebahagian orang. Tidak ada kelancaran, juga tanpa peningkatan kualitas ketundukan, meskipun berpuluh tahun telah dihabiskan untuk melakukan hal yang sama.
Shalat, misalnya, dilakukan dengan cara yang sama setiap hari. Demikian juga dengan doa. Sebahagian orang hanya mengucapkan lafal dalam shalat dan doa saja, tetapi tak pernah memikirkan apa yang diucapkan dan didoakan. Padahal semua itu adalah permintaan. Dalam setiap permintaan, tentunya harus memahami apa saja yang diminta.Permintaan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tidak tergesa-gesa. Hati harus selalu dilibatkan dalam setiap urutannya. Permintaan yang tidak sungguh-sungguh tidak akan diterima.
Tidak adanya kelancaran dan kualitas lainnya dari proses yang berulang menunjukkan bahwa tidak ada upaya menuntut ilmu, bagi sebahagian orang. Padahal ilmu adalah hasil yang bisa diperoleh dari proses melaksanakan sesuatu, termasuk melaksanakan shalat dan doa. Dengan kata lain, ilmu untuk beramal dan dengan cara beramal menghasilkan ilmu. Di antara perintah wajib, kata Rasulullah, adalah menuntut ilmu sejak dalam ayunan hingga ke liang lahat. Itu artinya, tak ada istilah berhenti dalam menuntut ilmu, sebagai wujud ketundukan dan ketakutan kepada Allah. Jadi, berhenti menuntut ilmu karena alasan usia, termasuk suatu pelanggaran.
Oleh Jarjani Usman
DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.
Tafakur -- Apatis
"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan" (QS. Al Baqarah: 177).
Orang yang berlama-lama membaca Alquran dan shalat belum tentu pertanda orang baik, bila tidak memperbaiki akhlaknya. Sebab, Alquran adalah aturan atau pedoman untuk hidup dengan akhlak mulia, sebagaimana dicontohkan Nabi s.a.w. Rasulullah juga diutus untuk memperbaiki akhlak manusia. Apalagi perilaku manusia dipengaruhi hatinya. Tidak tertutup kemungkinan, pada saat melakukannya, hati sedang ingin dipuji (oleh yang mendengar atau melihatnya).
Dengan kata lain, niat tidak lagi suci karena Allah, karena telah terkotori.Akan bermakna apa yang dibaca bila menjadi kebaikan dan perbaikan. Yaitu, terbuka mata untuk melihat kenyataan di sekitarnya. Juga menjadi tajam telinga untuk mendengar, misalnya, jeritan orang-orangfakir dan miskin, anak yatim, dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Yang lebih penting lagi adalah tergugah hati, antara lain, untuk peduli dan bergerak untuk tak henti melakukan perbaikan, meskipun kecil. Bisa jadi, dengan itu semua, kita sedang diuji sejauhmana mau peduli.
Orang-orang yang apatis atau tak peduli, diancam Allah dengan neraka Jahannam. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, "Dan sesungguhnyaKami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai" (QS. Al A'raf: 179).
Oleh Jarjani Usman
DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.
Orang yang berlama-lama membaca Alquran dan shalat belum tentu pertanda orang baik, bila tidak memperbaiki akhlaknya. Sebab, Alquran adalah aturan atau pedoman untuk hidup dengan akhlak mulia, sebagaimana dicontohkan Nabi s.a.w. Rasulullah juga diutus untuk memperbaiki akhlak manusia. Apalagi perilaku manusia dipengaruhi hatinya. Tidak tertutup kemungkinan, pada saat melakukannya, hati sedang ingin dipuji (oleh yang mendengar atau melihatnya).
Dengan kata lain, niat tidak lagi suci karena Allah, karena telah terkotori.Akan bermakna apa yang dibaca bila menjadi kebaikan dan perbaikan. Yaitu, terbuka mata untuk melihat kenyataan di sekitarnya. Juga menjadi tajam telinga untuk mendengar, misalnya, jeritan orang-orangfakir dan miskin, anak yatim, dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Yang lebih penting lagi adalah tergugah hati, antara lain, untuk peduli dan bergerak untuk tak henti melakukan perbaikan, meskipun kecil. Bisa jadi, dengan itu semua, kita sedang diuji sejauhmana mau peduli.
Orang-orang yang apatis atau tak peduli, diancam Allah dengan neraka Jahannam. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, "Dan sesungguhnyaKami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai" (QS. Al A'raf: 179).
Oleh Jarjani Usman
DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.
Tafakur -- Kelebihan
"Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu, ia tunaikan dan mengajarkannya" (HR. Bukhari & Muslim).
Manusia banyak memiliki kelebihan dibandingkan kekurangan. Kelebihan didapatkan setiap saat, namun kekurangan terjadi sekali-sekali saja. Kelebihan ada, meskipun kadangkala tidak banyak. Namun kelebihan-kelebihan itu jarang disadari, sehingga tidak merasa lebih.
Akibat tak merasa lebih, banyak yang tak mau menyedekahkan sedikit kelebihannya kepada orang lain. Padahal setiap saat manusia diberikan kelebihan tenaga, harta, waktu, dan ruang. Dengan tenaga seharusnya manusia bisa mengeruk pahala yang berlimpah, bila digunakan untuk meringankan beban orang yang membutuhkan pertolongan. Sama halnya dengan harta, banyak orang bisa hidup mudah, bila diinfaqkan. Demikian juga halnya dengan waktu dan ruang, yang bisa disisihkan untuk beramal, mulai dari mencari ilmu hingga mengajarkannya dengan suara dan perilaku yang baik dalam masyarakat.
Digunakan atau tidak, semua kelebihan itu akan hilang pada saatnya, khususnya saat kematian. Kata Rasulullah s.a.w. ketika kematian tiba, siapapun akan terputus kesempatannya untuk beramal. Namun, dikecualikan kepada orang-orang yang sempat mempergunakan kelebihannya sewaktu hidup untuk beramal jariyah, menuntut dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat, dan mendidik anak hingga salih. Siapapun patut iri kepada orang-orang seperti ini. Mereka pantas mendapat kelebihan karena telah mengorbankan sebahagian kelebihannya sewaktu di dunia.
Oleh Jarjani Usman
DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.
Manusia banyak memiliki kelebihan dibandingkan kekurangan. Kelebihan didapatkan setiap saat, namun kekurangan terjadi sekali-sekali saja. Kelebihan ada, meskipun kadangkala tidak banyak. Namun kelebihan-kelebihan itu jarang disadari, sehingga tidak merasa lebih.
Akibat tak merasa lebih, banyak yang tak mau menyedekahkan sedikit kelebihannya kepada orang lain. Padahal setiap saat manusia diberikan kelebihan tenaga, harta, waktu, dan ruang. Dengan tenaga seharusnya manusia bisa mengeruk pahala yang berlimpah, bila digunakan untuk meringankan beban orang yang membutuhkan pertolongan. Sama halnya dengan harta, banyak orang bisa hidup mudah, bila diinfaqkan. Demikian juga halnya dengan waktu dan ruang, yang bisa disisihkan untuk beramal, mulai dari mencari ilmu hingga mengajarkannya dengan suara dan perilaku yang baik dalam masyarakat.
Digunakan atau tidak, semua kelebihan itu akan hilang pada saatnya, khususnya saat kematian. Kata Rasulullah s.a.w. ketika kematian tiba, siapapun akan terputus kesempatannya untuk beramal. Namun, dikecualikan kepada orang-orang yang sempat mempergunakan kelebihannya sewaktu hidup untuk beramal jariyah, menuntut dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat, dan mendidik anak hingga salih. Siapapun patut iri kepada orang-orang seperti ini. Mereka pantas mendapat kelebihan karena telah mengorbankan sebahagian kelebihannya sewaktu di dunia.
Oleh Jarjani Usman
DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.
Khutbah - Doa Para Malaikat
PUJI dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah menurunkan al-Quran di bulan Ramadhan, sebagai al-Huda (petunjuk), al-Bayyan (penjelas), dan al-Furqan (pembeda antara yang hak dan yang batil) bagi semua manusia.
Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah Muhammad Saw, keluarganya, para sahabatnya, dan umatnya hingga yaumil akhir.
Alquran menyebutkan bahwa Allah menurunkan al-Quran pada malam Lailatul Qadar. Malam yang nilainya lebih baik dari alfi syahr (1000 bulan). Berbarengan dengan itu, para malaikat pun, termasuk malaikat Jibril, diturunkan dan diberi izin untuk mengucapkan salam dan doa keselamatan kepada manusia pilihan.
Doa para Malaikat Allah itu diabadikan dalam surat al-Mu’min ayat 7-8, "... Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu. Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan api yang menyala-nyala.”
Ayat selanjutnya, ”Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ’Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, orang-orang saleh di antara mereka, bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka. Sungguh Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Siapa gerangan orang-orang yang didoakan malaikat supaya dilindungi dari api yang menyala-nyala itu? Siapa pula yang akan masuk ke dalam surga Adn itu?
Ayat itu menyebutkan tanda-tanda mereka. Pertama, mereka yang kembali dan mengikuti jalan Allah.
Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, dalam kesucian. Kata nabi, ”Kullu mauluudin yuuladu ’alal fitrah.” Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, suci. Fitrah inilah yang menyebabkan hati kita mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain, mudah tergetar karena Firman Allah, atau mudah khusyu’ ketika shalat.
Namun karena kelemahan kita, kadang-kadang fitrah ini sering kita lupakan, bisikkannya sering kita abaikan. Lalu hiduplah kita jauh dari fitrah ini.
Karenanya, berbahagialah orang yang di tengah perjalanan menyadari kekeliruannya. Ditutup lembaran masa lalunya yang hitam, dan dirintisnya kehidupan baru di atas tuntunan agama yang lurus. Mereka bukan orang yang tidak pernah bersalah, melainkan orang yang menyadari kesalahan dan memperbaikinya. Mereka pernah berbuat maksiat dan menyesali maksiatnya serta menebusnya dengan ibadah. Mereka pernah tersesat, tetapi kemudian melihat cahaya hidayah dan mengubah jalan hidupnya sesuai syariat. Mereka adalah orang-orang yang kembali mengikuti jalan Allah.
Tanda kedua, orang yang didoakan para malaikat adalah mereka yang mengisi hidupnya dengan iman dan amal saleh. Iman adalah tashdiiqun bil qalbi, wa iqraarun billisaani, wa a’maalun bil arkaan. (Membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota tubuh). Sedangkan amal saleh ialah amal yang baik. Amal yang mendatangkan manfaat. Ada amal saleh yang memberi manfaat secara pribadi, seperti shalat malam, berzikir, i’tikaf, dan seterusnya. Kemudian ada juga amal saleh yang selain bermanfaat bagi pelakunya, juga bermanfaat bagi orang lain. Ini adalah amal sosial, amal-amal kemasyarakatan, seperti membebaskan orang dari kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan.
Dalam Islam, amal sosial ini dinilai lebih tinggi ganjarannya dari pada amal-amal individual. Amal-amal kita di tengah masyarakat diberi ganjaran lebih besar dari pada amal-amal yang hanya menguntungkan diri sendiri.
Rasulullah ditanya, ”amal apa yang paling utama?” Beliau menjawab, ”Memasukkan rasa bahagia ke dalam hati orang beriman, melepaskan rasa lapar, dan membebaskannya dari kesulitan, dan membayarkan utang-hutangnya.” (Ibnu Hajar al-Asqalani)
Dalam riwayat lain Nabi bersabda, ”Tidak ada kebajikan yang lebih utama setelah iman, selain mendatangkan manfaat bagi orang lain. Dan tidak ada kejelekan yang lebih jahat setelah musyrik, selain mendatangkan kesengsaraan pada orang lain.”
Demikianlah, semoga bermanfaat, dan ibadah puasa yang tengah kita jalankan dapat menghapuskan dosa-dosa kita, sehingga kita bisa kembali kepada fitrah kita. Amin ya Robbal alamin.
Barakallah .... Bhayangkara, 26 Agustus 2011
Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah Muhammad Saw, keluarganya, para sahabatnya, dan umatnya hingga yaumil akhir.
Alquran menyebutkan bahwa Allah menurunkan al-Quran pada malam Lailatul Qadar. Malam yang nilainya lebih baik dari alfi syahr (1000 bulan). Berbarengan dengan itu, para malaikat pun, termasuk malaikat Jibril, diturunkan dan diberi izin untuk mengucapkan salam dan doa keselamatan kepada manusia pilihan.
Doa para Malaikat Allah itu diabadikan dalam surat al-Mu’min ayat 7-8, "... Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu. Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan api yang menyala-nyala.”
Ayat selanjutnya, ”Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ’Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, orang-orang saleh di antara mereka, bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka. Sungguh Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Siapa gerangan orang-orang yang didoakan malaikat supaya dilindungi dari api yang menyala-nyala itu? Siapa pula yang akan masuk ke dalam surga Adn itu?
Ayat itu menyebutkan tanda-tanda mereka. Pertama, mereka yang kembali dan mengikuti jalan Allah.
Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, dalam kesucian. Kata nabi, ”Kullu mauluudin yuuladu ’alal fitrah.” Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, suci. Fitrah inilah yang menyebabkan hati kita mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain, mudah tergetar karena Firman Allah, atau mudah khusyu’ ketika shalat.
Namun karena kelemahan kita, kadang-kadang fitrah ini sering kita lupakan, bisikkannya sering kita abaikan. Lalu hiduplah kita jauh dari fitrah ini.
Karenanya, berbahagialah orang yang di tengah perjalanan menyadari kekeliruannya. Ditutup lembaran masa lalunya yang hitam, dan dirintisnya kehidupan baru di atas tuntunan agama yang lurus. Mereka bukan orang yang tidak pernah bersalah, melainkan orang yang menyadari kesalahan dan memperbaikinya. Mereka pernah berbuat maksiat dan menyesali maksiatnya serta menebusnya dengan ibadah. Mereka pernah tersesat, tetapi kemudian melihat cahaya hidayah dan mengubah jalan hidupnya sesuai syariat. Mereka adalah orang-orang yang kembali mengikuti jalan Allah.
Tanda kedua, orang yang didoakan para malaikat adalah mereka yang mengisi hidupnya dengan iman dan amal saleh. Iman adalah tashdiiqun bil qalbi, wa iqraarun billisaani, wa a’maalun bil arkaan. (Membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota tubuh). Sedangkan amal saleh ialah amal yang baik. Amal yang mendatangkan manfaat. Ada amal saleh yang memberi manfaat secara pribadi, seperti shalat malam, berzikir, i’tikaf, dan seterusnya. Kemudian ada juga amal saleh yang selain bermanfaat bagi pelakunya, juga bermanfaat bagi orang lain. Ini adalah amal sosial, amal-amal kemasyarakatan, seperti membebaskan orang dari kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan.
Dalam Islam, amal sosial ini dinilai lebih tinggi ganjarannya dari pada amal-amal individual. Amal-amal kita di tengah masyarakat diberi ganjaran lebih besar dari pada amal-amal yang hanya menguntungkan diri sendiri.
Rasulullah ditanya, ”amal apa yang paling utama?” Beliau menjawab, ”Memasukkan rasa bahagia ke dalam hati orang beriman, melepaskan rasa lapar, dan membebaskannya dari kesulitan, dan membayarkan utang-hutangnya.” (Ibnu Hajar al-Asqalani)
Dalam riwayat lain Nabi bersabda, ”Tidak ada kebajikan yang lebih utama setelah iman, selain mendatangkan manfaat bagi orang lain. Dan tidak ada kejelekan yang lebih jahat setelah musyrik, selain mendatangkan kesengsaraan pada orang lain.”
Demikianlah, semoga bermanfaat, dan ibadah puasa yang tengah kita jalankan dapat menghapuskan dosa-dosa kita, sehingga kita bisa kembali kepada fitrah kita. Amin ya Robbal alamin.
Barakallah .... Bhayangkara, 26 Agustus 2011
Langganan:
Postingan (Atom)