Minggu, 20 April 2014

Amin Sholihin menambahkan Anda ke lingkarannya dan mengundang Anda untuk bergabung dengan Google+

Amin Sholihin menambahkan Anda ke lingkarannya dan mengundang Anda untuk bergabung dengan Google+.
Gabung dengan Google+
Google+ menjadikan berbagi di web semakin menyerupai berbagi di kehidupan nyata.
Lingkaran
Cara mudah untuk berbagi beberapa hal dengan teman kuliah, hal yang lain dengan orang tua, dan tidak berbagi apa-apa dengan atasan. Seperti halnya di kehidupan nyata.
Hangouts
Percakapan lebih baik dilakukan sambil bertatap muka. Gabung dengan Hangout video dari komputer atau ponsel Anda untuk bersosialisasi, menonton video YouTube bersama, atau bertukar cerita dengan maksimal 9 teman sekaligus.
Mobile
Chatting berkelompok secepat kilat. Foto yang diupload otomatis. Tampilan yang merangkum hal-hal yang terjadi di sekitar. Kami membuat Google+ dengan mempertimbangkan perangkat mobile.
Anda menerima pesan ini karena Amin Sholihin mengundang wasiattakwa.1234@blogger.com untuk bergabung dengan Google+. Berhenti berlangganan email ini.
Google Inc., 1600 Amphitheatre Pkwy, Mountain View, CA 94043 USA

Mencintai Buku

REPUBLIKA - Tgh Habib Ziadi

Generasi salafus shalih pernah menguasai dunia berkat keimanan mereka yang kokoh bagai gunung dan keilmuan mereka yang mendalam bagai lautan. Kecintaan mereka pada iman, ilmu, dan amal melebihi cinta manusia biasa pada harta, anak, dan istri.

Dalam konteks kecintaan terhadap ilmu, Imam Ibnu Qayyim menyatakan, "Adapun pecinta ilmu, kecintaannya pada ilmu melebihi kecintaan seseorang kepada kekasih. Dan banyak di antara mereka tidak tergoda melihat manusia tercantik di dunia sekalipun."

Simak pula Muhammad bin Marwan Ad-Dimasyqi, "Sungguh, aku lebih memilih ditemani tinta sepanjang hari daripada seorang kawan. Aku lebih suka seikat kertas daripada sekarung tepung. Tamparan ulama di pipiku lebih terasa nikmat daripada minuman lezat."

Seseorang tidak bisa menjadi pecinta ilmu sebelum buku/kitabnya lebih berharga daripada bajunya. Konon ada orang melihat seseorang duduk di atas kitabnya, lalu dia ditegur, "Apakah pakaianmu lebih berharga bagimu dibanding kitabmu?"

Hal itu karena orang tersebut duduk beralaskan kitabnya agar pakaiannya tidak terkena debu. Salah satu tanda cinta ilmu adalah menangis ketika kehilangan seorang syaikh yang mulia dan sedih ketika kehilangan buku berharga.

Diriwayatkan, Abul Hasan Al-Fali (w 448 H), salah seorang ahli nahwu dari Baghdad, Irak pernah memiliki kitab Al-Jamharah karya Ibnu Duraid yang sangat bagus. 

Akibat terdesak oleh kebutuhan, ia terpaksa menjual kitab tersebut seharga 60 dinar. Kehilangan kitab itu membuatnya berduka hingga kematian menjemputnya.

Menurut Al-Jahidz, orang yang belanjanya untuk membeli buku tidak lebih nikmat daripada belanjanya pecinta biduan dan penggila bangunan, maka ia tidak akan sampai pada tingkat ilmu yang memuaskan.

Orang tersebut tidak akan memperoleh manfaat dari belanjanya sampai ia mau memprioritaskan pembelian buku sebagaimana orang badui memprioritaskan kudanya untuk diberi susu daripada keluarganya.

Selain itu, ia mau menaruh harapan besar terhadap ilmu sebagaimana orang badui menaruh harapan besar pada kudanya.

Sikap Al-Jahidz sangat mendasar.  Pecinta ilmu akan memprioritaskan apapun untuk memuaskan dahaga keilmuannya.

Seperti kisah unik seorang syaikh penggila buku yang rela melepas sebagian pakaiannya untuk membeli buku yang dipandangnya berharga. Sebab, pada saat itu ia tidak memiliki uang. Salah satu kisah unik lainnya terkait Imam Ibnu Daqiqil Ied.

Ia antusias mendapati ada yang menjual kitab As-Syarhul Kabir karya Ar-Rafi'i Al-Qazwini sebesar 12 jilid. Ia pun membelinya seharga 1.000 dirham. Karena terlalu asyik menelaah kitab tersebut, ia sampai hanya melakukan shalat fardhu saja.

Kitab itu terbeli bukan berarti karena ia kaya harta. Meskipun menjabat Qadhil Qudhat (hakim agung), ia sering terlilit utang. Hal itu akibat kecintaannya kepada ilmu.

Warisan terbaik kita kepada generasi berikutnya adalah kecintaan kepada ilmu yang dilengkapi referensi yang memadai.

Sebab itulah warisan para nabi dan ulama-ulama terdahulu. Bagian terbaik itu adalah mewarisi buku yang melimpah sebagai sarana meraih ilmu.

Sesungguhnya mewariskan buku-buku berikut ilmu yang terkandung di dalamnya dapat memberikan manfaat bagi orang hidup maupun orang mati. Karena anak-anak kita akan membaca dan belajar dari apa yang mereka baca dari buku-buku tersebut.

Sementara kita yang berada di kubur, akan senantiasa mendapatkan kiriman pahala selama mereka memanfaatkan warisan kita dengan baik. Lestarinya pemanfaatan ilmu berupa buku tersebut, lestari pula amal jariah bagi pemiliknya. 

test

test

Jumat, 11 April 2014

Hukum Kekekalan Energi

Hadirin, jamaah Jumat rohimakumullah
Marilah kita panjatkan puji syukur kita kepada Allah, syukur yang dibarengi dengan

Alkisah seorang penjual mentega yang
berpendidikan rendah dan sangat polos,
sering menjual menteganya ke tukang roti.
Suatu hari, tukang roti ini ingin mencoba
menimbang mentega yang telah dibeli
sejumlah satu kilogram untuk mengecek
apakah benar si penjual mentega
memberikan dengan jumlah yang tepat.
Ternyata ia menemukan jumlahnya kurang
dari satu kilogram dan membuat tukang roti
sangat marah sehingga membawa si
penjual mentega menghadap ke hadapan
hakim di pengadilan.

Hakim kemudian bertanya bagaimana si
penjual itu mengukur mentega yang
dijualnya. Lalu si penjual mentega
menjawab, “Yang mulia saya ini orang
bodoh dan tidak mengerti banyak hal. Saya
juga sebenarnya tidak mempunyai
timbangan”. Lalu Hakim berkata, “Kalau
begitu, bagaimana engkau menimbang
mentega yang selalu engkau jual kepada
tukang roti ini?” Si penjual mentega
menjawab, “Oh, jauh sebelum tukang roti
membeli mentega dari saya, saya telah
berlangganan membeli sekilo roti dari
tokonya setiap pagi untuk makan kami
sehari-hari. Setiap kali saya membeli roti
sekilo, saya letakkan di atas neraca sebagai
ukuran untuk dapat menjual sekilo mentega
ke tukang roti ini. Jadi, kalau mentega yang
saya jual beratnya kurang dari sekilo berarti
tukang roti sendiri yang sudah menipu saya
sejak awal”.

Dalam ilmu fisika modern, ada sebuah
hukum yang dinamakan hukum kekekalan
energi. Hukum kekekalan energi ini
diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa
yang bersifat universal yakni berlaku baik
pada makrokosmos, alam semesta maupun
mikrokosmos, kita sebagai manusia. Pada
manusia, hukum ini mempunyai rumusan
sederhana begini: nilai energi yang kita
keluarkan pasti sama dengan nilai energi
yang akan kita terima. Dengan kata lain,
setiap energi yang kita keluarkan pasti satu
waktu akan kembali lagi kepada kita dalam
nilai yang seimbang dengan energi yang
telah kita keluarkan.

Secara umum, energi yang kita keluarkan
menuju pada dua titik ekstrem yaitu nilai
kebajikan dan nilai keburukan. Ketika kita
menebarkan energi kebajikan dengan
melakukan kebaikan kepada orang lain,
kebaikan itu pasti akan kembali kepada kita
entah dalam bentuk perhatian,
persahabatan, pertolongan, kasih sayang,
ataupun perasaan bermakna dan kepuasan
jiwa yang mendalam. Semakin besar nilai
kebajikan yang kita berikan kepada sesama,
akan semakin besar pula kebajikan yang
kita peroleh. Di sini, setiap kita menyebarkan
kebajikan kepada orang lain, sejatinya kita
tengah menyebarkan kebajikan yang sama
kepada diri kita sendiri.

Namun prinsip yang sebaliknya juga
berlaku. Ketika kita melakukan keburukan
kepada orang lain, maka keburukan itu akan
kembali kepada kita, entah dalam bentuk
kebencian, kedengkian, keresahan,
permusuhan, perpecahan, atau pun
kesusahan hidup lainnya. Semakin banyak
keburukan yang kita tebarkan, satu waktu
keburukan itu akan menjadi badai kejahatan
yang menyergap diri kita sendiri. Fakta ini
menitahkan ajaran penting bahwa setiap
kejahatan yang kita lakukan kepada orang
lain, hakikatnya kita sedang melakukan
keburukan yang senada kepada diri kita
sendiri.

Ironinya, dalam menjalani roda kehidupan
ini terkadang kita menemukan orang-orang
yang lebih suka menebarkan energi
keburukan dan kejahatan. Tidak jarang kita
berjumpa dengan orang-orang yang lebih
suka menanam bibit-bibit kebencian,
permusuhan, kedengkian, fitnah, dan
hasutan kepada orang lain. Mereka adalah
orang-orang yang paradigma kehidupannya
berpijak di atas fondasi kedengkian dan
menggenggam erat slogan SMS berwajah
negatif: Senang Melihat orang lain Susah
dan Susah Melihat orang lain Senang.

Nah, kisah di atas merupakan sebuah
contoh demonstratif tentang bekerjanya
hukum kekekalan energi: energi keburukan
yang kita keluarkan pasti akan kembali
kepada diri kita lagi, bisa dalam bentuk yang
sama atau bentuk yang berbeda. Di sinilah
kiranya cukup bijak bila kita harus berhati-hati dan menghentikan dengan sekuat
kemampuan kita dalam menebarkan energi
kejahatan kepada sesama. Sebab bila tidak,
seperti tukang roti dalam kisah di atas,
kejahatan itu pasti akan kembali menimpa
kita kembali.

Kamis, 13 Februari 2014

HIDUP INI SINGKAT

SEGALA puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah Muhammad Saw, keluarga, para sahabat, dan umatnya hingga yaumil akhir.

 

Di dalam al-Quran surat al-Mu’minun 112-114 ada dialog antara Allah SWT dengan orang-orang yang telah meninggal dunia. Allah berfirman,

 

@»s% öNx. óOçFø[Î6s9 Îû ÇÚö F{$# y y tã tûüÏZÅ ÇÊÊËÈ   (#qä9$s% $uZø[Î7s9 $·Böqt ÷rr& uÙ÷èt/ 5Qöqt È@t«ó¡sù tûïÏj !$yèø9$# ÇÊÊÌÈ   @»s% bÎ) óOçFø[Î6©9 wÎ) Wx Î=s% ( öq©9 öNä3¯Rr& óOçFZä. tbqßJn=÷ès? ÇÊÊÍÈ  

 

Allah bertanya, "Berapa lama kamu tinggal di bumi?". Mereka menjawab, "Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung." Allah berfirman, "Kamu tidak tinggal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui".

 

Hidup ini singkat. Begitu yang kita tangkap dari ayat itu. Jadi, kalau kita mendapatkan kesenangan dunia, itu adalah kesenangan yang sangat singkat. Kalau kita menderita, itupun sebenarnya penderitaan yang teramat singkat. Sekali lagi, hanya sehari atau setengah hari saja, atau lebih singkat lagi. Sama sekali tidak sebanding dengan waktu yang akan kita tempuh nanti di akhirat.

 

Hidup ibarat sebuah perjalanan. Perjalanan membutuhkan bekal. Jika perjalanan kita seminggu, maka paling sedikit kita menyiapkan bekal untuk keperluan selama minggu. Tas yang kita bawa pun berisi pakaian ganti yang harus cukup untuk seminggu. Uang saku juga harus cukup untuk kebutuhan seminggu. Jika kita bepergian selama sebulan tentu bekal dan persiapan kita harus lebih besar lagi.

 

Lalu, apa bekal terbaik untuk perjalanan hidup sesudah mati, sebuah perjalanan abadi, dan tanpa batas waktu? Bagi orang yang menyadari betapa panjangnya perjalanan itu, tentu akan jauh lebih serius mempersiapkannya. Seluruh waktu dan kesempatan hidupnya, dimanfaatkan sepenuhnya untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan yang abadi itu. Ia akan pertaruhkan seluruh hidupnya dan apa pun yang dia miliki untuk mendapatkan kehidupan yang baik sesudah kematiannya.

 

Tentu tidak semua yang kita miliki kita bawa. Kita harus pandai-pandai memilih yang bermanfaat. Segala sesuatu yang tidak berguna hanya akan memperberat perjalanan. Di antara bekal yang harus kita bawa, yang tidak boleh tertinggal dalam perjalanan hidup, dari dunia yang singkat ini menuju kehidupan panjang akhirat adalah keimanan, ketakwaan, dan amal saleh. Itulah bekal terbaik kita.

 

Allah berfirman,

3 (#rß ¨rt s?ur  cÎ*sù u ö yz Ï #¨ 9$# 3 uqø)­G9$# 4

“… Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa…” (QS. Al-Baqarah [2]: 197)

 

Kemudian tentang bekal berupa amal, Hadis Nabi menjelaskan, “Ada tiga perkara yang mengikuti orang yang meninggal dunia: keluarga, harta, dan amalnya. Yang dua kembali dan yang satu tinggal bersamanya. Yang pulang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya,” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

 

Hadis ini tentu saja tidak mengajarkan kita untuk membenci harta, sebab itu adalah bagian dari bekal untuk hidup di dunia. Juga tidak mengajak kita untuk mengabaikan keluarga dan sesama, sebab tidak mungkin kita hidup di dunia ini tanpa mereka. Secara fisik harta itu memang kita tinggalkan, tetapi nilai amal saleh dari harta itu akan abadi bersama kita. Hal itu hanya bisa terjadi apabila harta itu kita belanjakan di jalan yang diridhai Allah. Demikian juga dengan keluarga dan saudara-saudara kita, jasad mereka memang tidak menyertai kita lagi, tetapi kebaikan yang kita tanamkan dalam interaksi bersama mereka tetap akan menyertai kita.

 

Saudara-saudara seiman itu akan senantiasa mengirimkan doanya untuk kita. Anak-anak yang saleh juga akan senantiasa memberi kebaikan kepada kita. Ilmu yang kita ajarkan kepada sesama juga akan menjadi tabungan yang memberi keuntungan yang tidak pernah putus. Semuanya akan menjadi amal saleh.

 

Hidup ini adalah perjalanan yang singkat. Setiap detik mengantarkan kita semakin dekat dengan batas akhir.

 

Semoga waktu yang teramat singkat ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya.

 

Barakallah … Bhayangkara, 14 Februari 2014