Kamis, 18 Juli 2013

Idul Fitri, BIkin Hidup Lebih Bermakna

الخطبة الأولى

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ

 ) الْحَمدُ لله كَثيْرًا واللهُ أكْبَرُ كَبِيْراً ، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً ، لَهُ الْحَمْدُ جَلَّ وَعَلاَ عَلىَ نَعْمَائِهِ ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلىَ سَرَّائِهِ ، وَلَهُ الصَّبْرُ عَلىَ مَا قَضَى مِنْ بَلاَئِهِ ، وَأشْهَدُ أنْ لاَ إلهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، نَبِيُّهُ الْمُصْطَفَى ، وَرَسُوْلُهُ الْمُجْتَبَى ، اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلهِ وَأصَحَابِهِ أجْمَعِيْنَ ، أمَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وإيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ ، وَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَخَابَ مَنْ طَغَى . قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أعُوْذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Allahu akbar 3X wa lillahil hamd

Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah SWT Marilah kita senantiasa tingkatkan iman dan taqwa pada Allah swt, terutama setelah kita ditempa oleh Ramadhan selama sebulan penuh secara intensif, semoga Allah senantiasa menjaga ketakwaan kita hingga ajal menjemput kelak dan menerima seluruh amal baik kita, amin. Syukur alhamdulillah, baru saja kegiatan ibadah selama Ramadhan telah tuntas kita jalankan. Kita berharap semoga semua amal kita diterima Allah, dan semoga semuanya menjadi media refresing yang mampu mengurangi kegundahan dan kepenatan hidup selama ini dan bisa mengurai berbagai masalah hidup yang mendera kita.

Semua kita punya masalah hidup, baik itu masalah diri kita sendiri, masalah keluarga, masalah pekerjaan, masalah dengan masyarakat. Terlebih kita hidup sekarang ini di zaman modern yang banyak tantangan dan godaan, di mana budaya korupsi, narkoba, seks bebas, penjajahan budaya, lunturnya jati diri bangsa, bobroknya moral. Syeikh Ali Al-khawwas, dalam kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah, menawarkan lima solusi dari persoalan di atas:

دَوَاءُ الْقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ، وَخَلاَءُ الْبَطْنِ، وَقِيَامُ الَّليْلِ؛ وَالتَّضَرُّعِ عِنْدَ السَحْرِ، وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِيْن.

Obat hati ada lima; membaca al-Quran dan menghayatinya, mengosongkan perut, bangun malam, dzikir khusyu' tengah malam, berteman dengan orang-orang baik.

Dzikir, munajat dan baca al-Quran pun telah selesai kita panjatkan kehadirat Allah. Itulah sumber mata air ilahiyah yang mengalirkan keteduhan dan meneteskan embun kesejukan dalam sanubari kita. Ini sesuai firman Allah:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ . الرعد 28

Hati orang-orang mukmin itu menjadi tenang dengan mengingat Allah, Ingatlah hanya dengan mengingat Allah jua lah hati menjadi tenang.

Allah telah mentakdirkan kita, manusia ini, sebagai makhluk sosial, yakni makhluk yang selalu membutuhkan bantuan orang lain sekaligus dibutuhkan orang lain. Sehingga Islam mengatur hak dan kewajiban dalam hidup bertetangga dan bermasyarakat. Untuk itu, Islam mengajak kita untuk pandai-pandai memilih teman dan tetangga yang baik-baik agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang justru menjauhkan kita dari Allah. Islam mengajak kita untuk berbagi kasih dengan sesama melalui zakat, infaq maupun sedekah. Dengan demikian, hubungan kita dengan sesama yang selama ini cenderung nafsi-nafsi, egois dan tak ramah, kembali terjalin hubungan yang harmonis. Rasulullah bersabda:

السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنَ اللهِ قَرِيبٌ مِنَ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنَ الْجَنَّةِ وبَعِيدٌ مِنَ النَّارِ . رواه البيهقي

Orang yang dermawan itu dekat dengan Allah, akrab dengan manusia, dekat dengan surga dan dijauhkan dari neraka.

Qiyamullaili yang telah kita jalankan, shalat tarawih, witir, tahajjud dll, juga ikut berperan mempertajam kepekaan spiritualitas kita, dan mampu menghadirkan kefitrahan kita sebagai makhluk Allah. Tugas utama manusia adalah menjadi hamba dan abdi dari sang pencipta. Sekecil apapun perbuatan kalau itu diperintahkan Allah atau mendatangkan ridlo Allah, maka itulah prioritas hidup yang kita jalani. Misi seorang muslim, tujuan hidupnya adalah ibadah dan cita-cita hidupnya ridlo Allah.

Ramadhan juga telah mengistirahatkan kerja organ biologis kita untuk sementara waktu dengan berpuasa mulai fajar sampai maghrib, agar nafsu kita terbiasa dalam mengendalikan makanan, minuman, hubungan biologis yang tidak halal. Keserakahan hidup biasanya diawali dari keserakahan dalam mengkosumsi tiga hal di atas, kemudian akan menjelma menjadi keserakahan jabatan, politik, eksploitasi lingkungan.

Allahu akbar 3X wa lillahil hamd

Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah SWT.  Berkurangnya beban hidup dan tekanan batin, pasca menjalani terapi puasa dan qiyamullail sebulan penuh, akan menjadi semakin sempurna dengan kehadiran hari raya Idul Fitri seperti pada hari ini. Perayaan Idul fitri/lebaran ini sungguh merupakan hiburan murah dan obat gratis untuk menyembuhkan segala derita kita selama ini. Lebaran mampu menyatukan anggota keluarga yang sebelumnya bercerai-berai. Lebaran dapat mengobati kerinduan orang tua pada anak-anaknya. Lebaran memberi kesempatan bagi anak untuk mencurahkan baktinya yang terbaik pada orangtua, baik saat beliau masih hidup maupun setelah meninggal.

Lebaran mengingatkan kita semua pada masa lalu yang indah bersama keluarga di kampung kelahiran yang sederhana dan bersahaja, sekaligus mengingat kembali pengorbanan dan jasa-jasa keluarga yang mengantarkan kita menjadi sukses seperti sekarang ini. Semua itu pasti mendatangkan keberkahan umur dan kemudahan rizki, sebagaimana sabda Rasulullah:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ رِزْقُهُ ، أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَه . رواه البخاري

Barang siapa yang ingin rizkinya diluaskan dan umurnya dipanjangkan maka bersilaturrahimlah. Demi mengejar kemuliaan lebaran tersebut, sebagian saudara kita rela berdesak-desakan di dalam kendaraan yang bising dan pengap, sambil membawa tentengan tas yang berat. Bagi mereka, kondisi semacam itu tidak jadi soal, bahkan resiko perjalanan pun telah siap mereka terima. Harta bisa dikejar kapan saja, tapi momen untuk memadu kasih bersama keluarga di hari lebaran adalah sebuah dambaan yang tidak mungkin ditunda ataupun diganti.

Dengan kehadiran Ramadhan dan dikuti oleh hari raya Idul Fitri, kekeringan jiwa sudah mulai tersegarkan oleh tetesan embun ilahiyah, ruang-ruang hampa dalam tubuh kita, juga sudah mulai terisi, yaitu ruang sosial, ruang historis, ruang spiritual, ruang psikis dan biologis.

Allahu akbar 3X wa lillahil hamd

Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah SWT Mari kita bertekad untuk menciptakan nuansa Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari kita, mari kita tradisikan qiyamullaili karena ia adalah senjata pamungkas kita guna menghadapi kegalauan hidup. Melalui Ramadhan kita telah dilatih untuk berperilaku takwa secara permanen dan istiqamah, bukan dilatih untuk meninggalkannya setelah bulan berganti. Allah adalah tuhan kita di siang dan malam, disini dan disana, dulu dan sekarang, di dalam dan di luar Ramadhan.

Karenanya kita harus beristiqamah dalam ibadah, dalam al-Quran Allah berjanji:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ . فصلت :30

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan tuhanku adalah Allah, kemudian mereka beristiqamah, maka para malaikat akan turun pada mereka seraya mengatatakan, janganlah kalian taku dan sedih, bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan untuk kalian.

Itulah inti hidup yang harus kita pertahankan, agar ketenangan dan kualitas hidup menjadi milik kita. Amin. Terakhir, kita semua berharap semoga Allah, dengan agungnya ampunan-Nya, menjadikan ruh dan jiwa kita kembali fitrah, kembali suci dari segala dosa seperti saat kita terlahir di dunia ini, Ya Allah kalau engkau menghadirkan kami di dunia dalam kondisi fitrah, kami mohon ketika suatu saat kami berpulang juga pulangkan kami dalam keadaan fitrah.

Ya Allah beri kami kesempatan lagi untuk berjumpa dengan Ramadhan pada tahun-tahun mendatang, agar kami menikmati indahnya Ramadhan.

أعوذُ باللهِ مِنَ الشيْطانِ الرَّجِيْمِ قَدْ أفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىْ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى ، جَعَلَنَا اللهُ وَإيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَأدْخَلَنَا وَإيَّاكُمْ فِيْ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

الخطبة الثانية

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ

 الْحَمدُ للهِ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَاركَاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأشْهَدُ أنْ لاَ إلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى حَقَّ التَّقْوَى. وَاعْلَمُوْا أنَّ اللهَ أمَرَكُمْ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالى إنَّ اللهَ وَمَلائِكَتِهِ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يَا أيُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ، الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأصْحَابِهِ أجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ سَيِّدِنَا أبي بَكْرِ نِ الصِّدِّيْقِ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ كُلِّ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ، الَّلهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأمْوَاتِ إنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الحْاَجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.


http://cahayaqurani.wordpress.com/2012/08/12/materi-khutbah-idul-fitri-2012-m-1433-h/

Rabu, 17 Juli 2013

Khutbah Idul Fitri 1433H: Jadikan Lebaran Ini “Milestone” Silaturrahmi


بسم الله كلمة المعتصمين ومقالة المتحرزين ونعوذ بالله تعالي من جور الجائرين وكيد الحاسدين وبغي الظالمين ونحمده فوق حمد الحامدين . أشهد أن لا اله إلا الله وحده لا شريك له المالك ألحق المبين وأشهد أن محمد عبده ورسوله أرسله الله تعالي رحمة للعالمين و نصلي ونسلم علي حبيب إله العالمين سيدنا محمد واله الطيبين الطاهرين و اصحابه الميامين المنتجبين

قال الله تعالي في كتابه الكريم::

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا


Marilah kita mulai dengan menyampaikan rasa syukur kita kepada Yang Mahakasih. Dengan anugrahNya juga, Dia telah mengantarkan kita pada  Lebaran tahun ini, pada 'Idul Fitri 1433H.  Marilah kita tengok sejenak ...orang-orang di sekitar kita pagi ini.  Mari kita kenang orang-orang di sekitar kita pada Idul Fithri yang lalu.  Sebagian di antara mereka tidak lagi bersama kita. Mereka tidak lagi tertawa ria menjelang buka terakhir kemarin;  mereka juga tidak  berangkat ke tanah lapang pagi ini; mereka juga tidak akan mengulurkan tangannya untuk saling memaafkan sebentar lagi hari ini.  Mereka telah  dipanggil,  insya Allah, untuk berlabuh di pangkuan kasih sayang Ilahi.

Lebaran sering kita jadikan tonggak-tonggak utama, "milestones" dalam sejarah kita, sejarah keluarga kita,  sejarah bangsa kita, bahkan   sejarah  agama kita, sejarah umat Islam.  1431 tahun yang lalu, Nabi saw memimpin salat 'Id yang pertama.  Ia mengungkapkan rasa syukurnya karena Allah swt telah menganugrahkan kemenangan  kepada kaum mukminin dalam Perang Badar.  1321 tahun setelah itu, bangsa Indonesia memperingati Idul Fitri setelah melepaskan belenggu penjajahan dan menyatakan kemerdekaannya. 

Hari ini, kita melakukan salat Idul Fitri tiga hari setelah memperingati  kemerdekaan kita.   Mari kita jadikan Idul Fitri tahun ini sebagai "milestone" dalam sejarah umat Islam di Indonesia.  Prasasti apakah yang akan kita ukirkan pada  tonggak  sejarah tahun ini?  Mungkin kita bangga karena membludaknya jemaah tarawih di masjid-masjid pada awal Ramadhan,  atau  miliran uang yang terkumpul dari zakat fitrah saja, atau   pengajian yang  ramai di kantor-kantor  dan gema Ramadhan pada berbagai media elektronik ? Sekiranya Rasulullah saw bertanya kepada kita apa yang kita torehkan pada  tonggak sejarah Idul Fitri tahun ini, apa yang harus kita ceritakan kepada beliau.

Lima belas abad yang lalu, Nabi saw bersabda[1]: 

سيأتي زمان على أمتي لا يبقي من القران إلا رسمه ولا من الاسلام إلا إسمه يسمون به وهم أبعد الناس منه مسا جدهم عامرة وهي خراب من الهدي فقهاء ذلك الزمان شر فقهاء تحت ظل السماء منهم خرجت الفتنة واليهم تعود 

Akan datang kepada umatku satu zaman, ketika tidak tersisa dari Al-Quran kecuali aksaranya; tidak tersisa dari Islam kecuali namanya. Mereka menamakan dirinya dengan nama Islam, tetapi mereka orang yang paling jauh dari Islam. Masjid-masjidnya ramai, tetapi kosong dari petunjuk. Para ulama di zaman itu adalah seburuk-buruknya ulama di bawah lindungan langit. Dari mereka keluar fitnah  (kekacauan, bencana) dan kepada mereka fitnah itu kembali. 

Saudara-saudara:  apakah sabda Nabi saw ini harus kita pahatkan pada "milestone" Lebaran tahun ini di negeri kita.  Kita menyaksikan orang-orang yang menggunakan ayat-ayat Al-Quran untuk  membenarkan kesesatannya, untuk memperoleh keuntungan-keuntungan duniawi, untuk menghakimi sesama Muslim. Nabi saw pernah meramalkan bakal muncul satu kaum yang ibadahnya memukau kalian tetapi Al-Quran hanya sampai tenggorokannya.  Mulut-mulut yang melantunkan kalimah-kalimah suci adalah mulut-mulut yang juga menghamun maki.  Inilah  Al-Quran yang sudah kehilangan ruhnya. 

Kita juga melihat orang yang menamakan dirinya umat Islam, tetapi perilakunya menyimpang jauh dari missi Rasulullah saw. Bukankah beliau diutus untuk menyebarkan kasih  ke seluruh alam, rahmatan lil 'Alamiin

Seorang Muslim disebut Muslim, karena muslim (dalam bahasa Arab) berarti menyelamatkan, membahagiakan, dan mensejahterakan. "Tahukah kamu siapakah orang Islam?" tanya Rasulullah saw pada haji wada'. "Orang Islam ialah orang yang menyelamatkan orang lain dari gangguan lidah dan tangannya." 

Seorang muslim disebut juga  mu'min,  karena mu'min (dalam bahasa Arab) artinya  menyebarkan rasa aman, damai, dan tentram.  "Tahukah kamu siapakah orang beriman? Orang beriman ialah orang yang sesamanya merasa terlindungi (karena kehadirannya)  dalam kehormatannya, jiwa nya dan hartanya,"  kata Nabiyur Rahmah masih di padang Arafah pada haji terakhirnya.  Pada kesempatan lain, Nabi saw bersabda, "Orang beriman itu  ditandai dengan empat hal:  muka yang ramah, lidah yang lembut, hati yang penuh kasih, dan tangan yang suka memberi."[2] 

Di manakah Muslim yang missi hidupnya membahagiakan orang-orang di sekitarnya? Di manakah Mukmin yang  melindungi kehormatan, jiwa, dan harta sesamanya?  

"Masjid-masjidnya ramai tetapi kosong dari petunjuk"  Itulah masjid yang  jemaahnya bukan terdiri dari kaum muslimin dan kaum mukminin seperti yang dijelaskan Nabi saw.  Mereka menyebut dirinya Muslim, tetapi merekalah manusia yang paling jauh dari Islam.  Ke masjid-masjid itu berdatanganlah para ulama, bukan untuk menyebarkan petunjuk, tetapi untuk  menebar fitnah –kerusuhan, kekacauan, dan perpecahan.  "Dari mereka berasal fitnah dan kepada mereka fitnah itu kembali" sabda Nabi saw. 

Apakah yang hilang dari bacaan Al-Quran, apa yang hilang dari keislaman, apa yang hilang dari keimanan, apa yang hilang dari masjid-masjid dan para ulama?  Esensi, roh, spirit dari seluruh ajaran yang dibawa Nabi saw. Apa roh al-Quran, Islam, Iman, masjid dan ulama?  Cinta kasih.    Jika seluruh ajaran Islam disimpulkan dalam dua kalimat: Islam mengajarkan kepada kita untuk bertakwa kepada Allah yang Mahaesa dan  menyebarkan kasih sayang kepada seluruh makhlukNya:
 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

 Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta tolong satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan kasih sayang di antara kalian. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu (Al-Nisa /4:1).  

Khothbah II

Saudara-saudara:

Segera  setelah salat 'Id, pancangkanlah tonggak silaturahmi  dlam perjalanan sejarah kita.   Selama ini, kita telah menanam pohon penuh duri di tengah jalan raya kehidupan. Semua orang yang  melewati kita, kita tusuk mereka dengan duri-duri tajam kita, kita sakiti hati mereka. Kita cabik-cabik  perasaan mereka dengan keangkuhan kita.  Makin sering orang-orang itu hadir di depan kita, makin banyak  luka-luka dalam jantungnya, makin banyak rintihan dan tangisannya.  

Di antara mereka itu adalah orang tua kita.  Temuilah mereka,  kalau mereka masih hidup.  Kita  boleh jadi kecewa karena perilaku mereka. Marilah kita maafkan mereka dengan sepenuh hati. Kenanglah beban yang mereka tanggung untuk  melahirkan kita dan membesarkan kita.   Bersimpuhlah di hadapan mereka,  bahagiakan mereka, sehingga kamu melihat lagi di wajah-wajah mereka senyuman tulus yang menyejukkan hatimu.  Mohonkan maaf  kepada mereka karena selama ini ucapan dan perilakumu telah melukai mereka. 

Setelah itu,  pusatkan perhatianmu kepada orang-orang di sekitarmu yang selama ini kamu  sakiti karena ambisimu, yang kamu campakkan karena arogansimu,  yang kamu sia-siakan karena  kerakusanmu,  atau yang "sekedar" kamu abaikan karena kesibukanmu. Mereka itu pasanganmu, anak-anakmu, tetanggamu,  sahabatmu, seluruh umat manusia dan seluruh alam. Mereka adalah anggota dari keluarga besar Tuhan. Mereka  bukanlah orang  yang bisa kamu manfaatkan sekehendak hati kamu. Mereka adalah orang yang dihadirkan Tuhan  untuk kamu cintai dengan sepenuh hatimu. 

Di antara mereka, yang secara khusus Allah swt titipkankepada kita, adalah  orang-orang yang menderita, orang lemah, kaum fuqara dan masakin.  "Temui Aku di tengah-tengah orang yang hancur hatinya" firmah Tuhan yang Mahakasih. "Cari aku di tengah-tengah kaum dhu'afa kalian," sabda Nabiyur Rahmah.    

Buka hatimu,  pancarkan kasihmu,  sirami  semuanya dengan cintamu, bagikan kebahagianmu  kepada mereka.   Sambungkan pita-pita cintamu dengan pita-pita cinta semua orang, sehingga seluruh alam semesta didekap dalam belitan cinta!     "Sayangi semua orang yang di bumi, akan sayang kepadamu Dia yang di Langit, " Sabda Nabi saw. 

Marilah kita masukkan kasih sayang dalam keberagamaan kita, dalam keislaman kita. Karena itulah roh keislaman kita.  Itulah roh keimanan kita. Jadikan Lebaran ini  kembalinya lagi Islam setelah tinggal namanya, masuknya lagi al-Quran setelah tersisa  aksaranya,  bersinarnya lagi petunjuk Tuhan di masjid-masjid dan  tegaknya lagi wibawa para ulama setelah kehilangan ketauladannya.  

Doa

Ya Allah,
Aku mohon ampun  kepada-Mu
Di hadapanku ada orang yang dizalimi
Aku tidak menolongnya
Kepadaku ada orang berbuat baik
Aku tidak berterima kasih kepadanya
Orang bersalah meminta maaf kepadaku
Aku tidak memaafkannya
Orang susah memohon bantuan kepadaku
Aku tidak menghiraukannya
Ada hak orang mukmin dalam diriku
Aku tidak memenuhinya
Tampak di depanku aib Mukmin
Aku tidak menyembunyikannya
Dihadapkan kepadaku dosa
Aku tidak menghindarinya

Ilahi…
Aku mohon ampun dari semua kejelekan itu
Dan yang sejenis dengan itu
Aku sungguh menyesal
Biarlah itu menjadi peringatan
Agar aku tidak berbuat yang sama sesudahnya
Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya
Penyesalan atas segala kemaksiatan
Tekadku untuk meninggalkan kedurhakaan 
Jadikan itu semua taubat yang menarik kecintaan-Mu
Wahai Dzat yang Mencintai
Orang-orang yang bertaubat

[Disusun oleh KH DR Jalaluddin Rakhmat, Ketua Dewan Syura IJABI, untuk Khutbah 'Idul Fitri 1433 H/2012 M para khatib IJABI se-Indonesia]

Jangan Samakan Yang Tidak Sama

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Jama'ah Jum'at rahimakumullah, mari kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan berbagai keni'matan dan yang terutama adalah keni'matan Iman dan Islam. Semua itu dari Allah Ta'ala, maka mesti kita syukuri. Dan Allah akan menambah keni'matan itu bagi orang-orang yang bersyukur.

Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan atas Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.

Jama'ah Jum'at rahimakumullah, dalam kesempatan ini kami berwasiat kepada diri kami khususnya dan jama'ah pada umumnya, marilah kita meningkatkan taqwa kita kepada Allah Ta'ala dengan sebenar-benar taqwa. Dan jangan sampai mati kecuali dalam keadaan Muslim.

Jama'ah Jum'at rahimakumullah, dalam kita menjalani Islam hendaknya kita mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu wahyu matluw (yang dibacakan oleh malaikat Jibril) yakni Al-Qur'anul kariem, dan wahyu ghairu matluw (tidak dibacakan oleh Malaikat Jibril tetapi wahyu juga) yakni hadits Nabi SAWatau secara komplitnya adalah Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dengan berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka insya Allah kita tidak tersesat. Karena berarti kita telah mentaati Allah, ketika mentaati Rasulullah SAW yaitu mentaati apa-apa yang dibawanya itu.

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. (QS An-Nisaa' [4] : 80)

Jama'ah sekalian, mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam itu hendaknya secara total. Tidak pilih-pilih. Karena Allah Ta'ala menegaskan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ [البقرة/208]

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah [2] : 208)

Juga ancaman Allah Ta'ala:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا (150) أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا [النساء/150، 151]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan. (maksudnya: beriman kepada Allah, tidak beriman kepada rasul-rasul-Nya) antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. (QS An-Nisaa' [4] : 150-151)

Jama'ah Jum'at rahimakumullah, ancaman dari Allah sebegitu tegasnya. Tidak boleh mengimani sebagian dan menolak sebagiannya. Namun dalam kehidupan akhir-akhir ini, ada orang-orang yang dengan entengnya mengatakan sesuatu yang isinya menolak sebagian ayat Al-Qur'an atau pun As-Sunnah. Bahkan kadang penolaknnya itu total.

Tidak jarang kita dengar, ada orang yang membuat ibarat-ibarat mengenai agama. Lalu dikatakan, agama itu hanya jalan yang kita lewati untuk menuju suatu tujuan, maka kita boleh lewat mana saja. Mau lewat jalur selatan, jalur utara atau lainnya, boleh-boleh saja. Yang penting tujuannya sama, nantinya akan sampai juga.

Pengibaratan yang sudah sering terdengar itu kemudian oleh seseorang sutradara terkenal yang kini tampak dihujat Ummat Islam karena ketahuan liberalnya. Ungkapan pengibaratan agama dengan jalan tersebut kemudian dia ilmiyah-ilmiyahkan. Lalu dia katakan:

'Sebenarnya, menurut saya, agama adalah medium sebagaimana kalau saya mau makan yang saya makan itu bukan piringnya, tapi vitamin yang ada di dalam makanannya.'

'Piring itu mau pakai porselen, pakai plastik atau pakai daun pisang, itu adalah medium. Nah, buat saya agama hanyalah medium.'

Astaghfirullahal 'adhiem. Agama hanya diibaratkan sarana, medium, mau pakai piring atau daun pisang terserah saja. Yang penting vitamin yang ada di dalamnya.

Jama'ah Jum'at rahimakumullah. Bicara agama mestinya pakai dalil yaitu ayat atau hadits yang shahih. Dan tidak boleh menyamakan sesuatu yang tidak sama. Agama tidak sama dengan piring atau daun pisang. Ketika Allah Ta'ala mengutus para rasul, dan yang terakhir Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk seluruh manusia (dan jin) itu bukan mengajarkan agar pilih agama apa saja. Tetapi AllahTa'ala menegaskan:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali 'Imran [3] : 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [آل عمران/85]

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali'Imran [3] : 85)

Jama'ah jum'at rahimakumullah, Kalau semua agama itu sama, sedang mereka yang beragama Yahudi, Nasrani, dan Shabi'in itu mereka anggap cukup hanya mengamalkan agamanya, dan tidak usah mengikuti Nabi Muhammad SAW, maka berarti membatalkan berlakunya sebagian ayat Allah dalam Al-Qur'an. Di antaranya ayat:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ(28).

"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk seluruh manusia." (QS. As-Saba' [34] : 28)

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا.

"Katakanlah (hai Muhammad): Hai manusia! Sesungguhnya aku utusan Allah kepada kamu semua."(QS. Al-A'raaf [7] : 158)

Lebih jelas lagi, dalam hadits dinyatakan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ * . (رواه مسلم).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari Ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka." (Hadits shahih Riwayat Muslim bab Wujubul Iimaan birisaalati nabiyyinaa saw ilaa jamii'in naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita saw bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).

Jama'ah Jum'at rahimakumullah, ayat-ayat Al-Qur'an telah menegaskan bahwa yang mencari selain Islam sebagai agamanya maka tidak akan diterima agamanya itu dan di akehart termasuk orang-orang yang rugi; dijelaskan dalam hadits tersebut yaitu termasuk penghuni neraka. Bahkan selain orang Muslim maka mereka kekal di neraka jahannam. Karena Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ [البينة/6]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS. Al-Bayyinah [98] : 6)

Sebaliknya, orang yang beriman dan beramal shalih difirmankan:

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ [البينة/7] جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ [البينة/8]

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (QS. Al-Bayyinah [98] : 7-8)

Semoga kita mengimani benar-benar ayat-ayat tersebut, dan sama sekali tidak mau mengikuti perkataan orang-orang yang menyama-nyamakan sesuatu tanpa dalil yang shahih.

Akhir-akhir ini gencar sekali aneka pihak menyamakan antara orang laki-laki dan perempuan. Entah dengan alasan emansipasi, atau apa yang mereka sebut persamaan jender (gender). Sampai pernah ada yang membuat konter legal draf kompilasi hukum Islam yang isinya, lelaki pun dikenai 'iddah (masa tunggu) sebagaimana perempuan (ketika cerai karena suaminya mati atau cerai ketika masih hidup).'Iddah bagi laki-laki Itu sangat mengada-adakan syari'at baru yang tidak diadakan oleh Allah Ta'ala. Dan Allah telah menegaskan, tidak sama antara lelaki dan perempuan.

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى [آل عمران/36]

dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. (QS. Ali 'Imran [3] : 36)

Dalam hukum-hukum tertentu pun tidak sama. Allah Ta'ala berfirman:

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ [النساء/11]

Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan. (QS. An-Nisaa' [4] : 11)

Jama'ah Jum'at rahimakumullah, Banyaknya orang yang dengan mudahnya memain-mainkan agama dengan menyama-nyamakan sesuatu tanpa dalil yang shahih, kadang menyeret sebagian orang untuk ikut-ikutan bahkan ikut meramaikan dalam memain-mainkan agama pula. Di antaranya ada yang mengatakan, karena boleh minta didoakan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau masih hidup, maka boleh juga kita minta beliau doakan ketika beliau telah wafat. Ketika kita boleh minta didoakan oleh Nabi yang sudah wafat, berarti boleh juga minta didoakan oleh orang shaleh yang sudah wafat, dan seterusnya. Ungkapan ini sangat berbahaya, karena telah menyeret kepada penyamaan hal yang tidak sama. Karena orang yang masih hidup tidak sama dengan yang sudah meninggal. Telah ditegaskan oleh Allah Ta'ala,

وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ (19) وَلَا الظُّلُمَاتُ وَلَا النُّورُ (20) وَلَا الظِّلُّ وَلَا الْحَرُورُ (21) وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ [فاطر/19-22]

Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat.Dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya,dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas,dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. (QS. Father [35] : 19-22)

Jama'ah Jum'at rahimakumullah, dengan penjelasan-penjelasan ayat-ayat dan hadits tersebut semoga kita terhindar dari faham-faham yang disebarkan oleh orang-orang liberal ataupun yang menambah-nambah syari'at dengan qiyas-qiyas batil dan semacamnya untuk menyamakan hal-hal yang tidak sama. Akibatnya, membantah Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Kalau demikian, maka betapa jauhnya dari Islam, dan betapa ruginya.

Akhirnya, semoga kita benar-benar menjadi Ummat Islam yang mentaati Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yang telah dijamin taat kepada Allah Ta'ala bila telah taat kepada beliau, tanpa mengurangi, menambahi apalagi mengingkarinya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .

Khutbah kedua:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى : { وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى }
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ .
وَصَلى الله وسَلم عَلَى مُحَمد تسليمًا كَثيْرًا وآخر دَعْوَانَا لله رَب الْعَالَميْنَ 

http://www.eramuslim.com/khutbah-jumat/jangan-menyamakan-yang-tidak-sama.htm#.UeceLtKosuo

Merancang Kematian

إن الحمد لله وحده, نحمده و نستعينه و نستغفره ونتوب اليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فهو المهتد ومن يضلله فلن تجد له وليا مرشدا, أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح للأمة وتركنا على المحجة البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها الا هلك, اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن دعا بدعوته الى يوم الدين. أما بعد, فيا عباد الله اوصيكم ونفسي الخاطئة المذنبة بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون. وقال الله تعالى في محكم التنزيل بعد أعوذ بالله من الشيطان الرجيم :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (ال عمران : (102)

Kaum muslimin rahimakumullah…

Pertama-tama, marilah kita tingkatkan kualitas taqwa kita pada Allah dengan berupaya maksimal melaksanakan apa saja perintah-Nya yang termaktub dalam Al-Qur'an dan juga Sunnah Rasul saw. Pada waktu yang sama kita dituntut pula untuk meninggalkan apa saja larangan Allah yang termaktub dalam Al-Qur'an dan juga Sunnah Rasul Saw. Hanya dengan cara itulah ketakqawaan kita mengalami peningkatan dan perbaikan….

Selanjutnya, shalawat dan salam mari kita bacakan untuk nabi Muhammad Saw sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur'an :

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas Nabi (Muhammad Saw). Wahai orang-orang beriman, ucapkan shalawat dan salam atas Nabi (Muhammad) Saw. ( Al-Ahzab : 56)

Kaum Muslimin rahimakumullah….

Rutinitas kehidupan terkadang menyebabkan kita lupa pada kematian. Padahal, kematian itu adalah sebuah peristiwa besar yang pasti kita alami dan rasakan. Kematian adalah sunnatullah (sistem Allah) bagi setiap makhluk yang diberi-Nya kesempatan hidup di dunia ini, termasuk manusia, sebagaimana firman-Nya :

لُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari kiamatlah akan disempurnakan balasan (amal) kalian. Maka, siapa yang (hari itu) dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah sukses besar. Dan tidak adalah kehidupan dunia ini kecuali (sedikit) kenikmatan yang menipu. (QS. Ali Imran : 185)

Jika kematian itu adalah sautu kebenaran yang pasti kita rasakan, maka mengapa kita seakan acuh-tak acuh saja padanya? Mengapa kita seakan melupakannya? Mengapa kesibukan menjalani kehidupan sementara di dunia ini menyebabkan kita seakan tidak maksimal dalam menghadapi kematian?

esibukan kita dalam menjalani kehidupan sementara ini, benar-benar telah memalingkan hati dan pikiran kita dari kematian; satu peristiwa besar yang pasti menimpa diri kita semua. Hal tersebut terbukti bahwa konsentrasi kita mengumpulkan harta, menambah jumlah tabungan bank, mencari berbagai sumber uang untuk merancang dan membangun rumah di dunia dan berbagai kebutuhan hidup lainnya melebihi konsentrasi kita merancang kematian itu sendiri. Padahal kematian adalah suatu kepastian. Hampir setiap hari kita melihat kematian. Sedangkan kematian adalah penentu keberhasilan atau kegagalan dalam perjalanan panjang kita menuju Allah Tuhan Pencipta alam.

Oleh sebab itu, mari kita fokuskan hidup kita untuk merancang kematian, dengan cara mendesain hidup ini semuanya hanya untuk Allah dan dijalankan sesuai aturan Allah dan Rasul-Nya. Berbahagialah orang-orang yang diberi Allah kemudahan untuk mendesain semua aktivitas hidupnya hanya untuk Allah dan dapat dijalankan sesuai aturan Allah dan Rasul Muhammad Saw. Sebaliknya, celakalah orang-orang yang memilih jalan hidupnya selain jalan Allah, semua aktivitas hidupnya bukan untuk Allah dan dijalankan di luar ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

Kaum Muslimin rahimakumullah….

Sebelum kematian tiba, kita akan melewati suatu fase yang bernama sakratulmaut. Sakratulmaut adalah pintu gerbang kita menuju kematian. Sakratulmaut adalah peristiwa yang amat menakutkan, karena saat sakrtaulmaut tiba, tak seorangpun dapat membantu dan menolong kita, kendati saat kritis itu, istri, sanak saudara dan handai tolan sedang mengelilingi kita. Kita akan bergulat sendirian dengan sakratul maut itu di tengah keramain orang-orang yang kita cintai dan sayangi. Semua mereka hanya dapat menatap kita dengan pandangan mata yang hampa. Saat itulah kita akan merasakan langsung apakah kita termasuk orang yang telah merancang kematian atau bukan. Apakah kita termasuk orang yang siap menghadapi kematian atau bukan.

Sakratulmaut adalah bahasa Al-Qur'an yang terdiri dari dua kata "sakrotan"; pecahan dari kata : سكر – يسكر – سكرا (sakiro – yaskaru – sakran) yang berarti "mabuk atau teler". Kata "maut"; pecahan dari kata : مات – يموت – موتا (maata – yamuutu – mautan) yang berarti "mati". Maka Sakratulmaut berarti "kondisi mabuk menghadapi saat kematian'.

Sakratulmaut juga dapat diakatakan sebagai warming up (pemanasan) kematian. Karena kematian itu sulit, berat dan amat sakit maka diperlukan pemanasan. Di samping itu, sebagaimana kehidupan pertama manusia memerlukan proses dan tahapan, maka kematian juga memerlukan proses dan tahapan agar bisa memasuki alam lain bernama Barzakh; sebuah alam yang jauh lebih besar dan sangat berbeda situasi, kondisi dan lingkungannya dengan bumi saat kita hidup di dunia.

Sakratulmaut adalah sesuatu yang ditakuti manusia. Faktanya, berbagai riset dan upaya telah dilakukan manusia untuk menghindarinya seperti, menciptakan obat-obatan untuk memperpanjang umur. Hal tersebut digambarkan Allah dalam firman-Nya :

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ

Saat datanglah Sakaratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. (Q.S. Qaf: 19 )

Pertanyaan berikutnya ialah, apakah manusia mampu menghindari Sakratulmaut? Jawabannya tentu 'mustahil'. Karena Sakratulmaut adalah voucher manusia untuk masuk ke Alam Barzakh, tempat penginapan mereka yang ketiga yang sudah disiapkan oleh Pencipta, Raja dan Pemilik alam semesta ini, yakni Allah Rabbul 'Alamin, setelah kehidupan dalam rahim ibu mereka dan kehidupan di atas bumi. Mereka tidak akan dapat mengelak dan lari dari keharusan melewati sakratulmaut, sebagaimana mereka tidak bisa mengelak dan menghindar dari ketentuan dan kehendak-Nya ketika mereka diciptakan sebelumnya dari tidak ada menjadi ada.

Sebab itu, sebelum Sakratulmaut datang menghampiri kita, Allah sebagai Pemilik dan Pengendali jagad raya mengajak kita memikirkan dan menyaksikan kehendak, keputusan dan sistem-Nya tentang Sakratulmaut yang telah menjadi kenyataan sehari-hari yang kita saksikan seperti yang tercantum dalam surat Al-Waqi'ah berikut ini:

فَلَوْلا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ (83) وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ (84) وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لا تُبْصِرُونَ (85) فَلَوْلا إِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ (86) تَرْجِعُونَهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (87)

"Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, (83) padahal kamu ketika itu menyaksikan (orang yang sedang sekarat itu) (84) dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihatnya (85) maka kalaulah kamu tidak tunduk (pada Kehendak Allah) (86) (pastilah) kamu (mampu) mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya semula) jika kamu adalah orang-orang yang benar?" (Q.S. Al-Waqi'ah: 83 – 87)

Tentang kondisi Sakraulmaut tersebut, Sayyid Qutb menjelaskannya dengan begitu indah dan menarik dalam tafsirnya "Fii Zhilal Al-Qur'an", sebagai berikut :

Apa gerangan yang akan Anda lakukan ketika nyawa telah berada di tenggorokan? Anda sedang berada di persimpangan jalan yang majhul (tidak diketahui). Kemudian, penggambaran Al-Qur'an yang inspiratif yang melukiskan semua dimensi sikap dalam sentuhan-sentuahan yang cepat, mengungkapkan semua kondisi yang sedang dihadapi, latar belakangnya dan semua yang akan menginspirasikannya… Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat (orang yang sedang sekarat itu) dan Kami (dengan malaikat-malaikat) lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihatnya…

Kita seakan mendengar suara tenggorokan orang yang sedang sekarat dan melihat tatapan wajahnya, merasakan bencana dan kesulitan (yang dihadapinya) lewat firman Allah, "Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan". Sebagimana kita juga bisa melihat tatapan wajah yang tak berdaya, putus asa yang dalam raut muka orang-orang yang hadir (di sekitar orang sedang sekarat itu) lewat firman-Nya " padahal kamu ketika itu melihat (orang yang sedang sekarat itu)".

Di sini, pada momen ini, sungguh ruh (nyawa) itu telah selesai dengan urusan dunia. Ia telah meninggalkan bumi dan seisinya. Ia akan menyambut dunia yang belum pernah ditempatinya…Ia tidak akan mampu lagi menguasai sesuatu selain dari apa yang pernah ia tabung sebelumnya… berupa kebaikan atau kejahatan yang dilakukannya…

Di sini, ia melihat, tapi ia tidak mampu membicarakan apa yang dilihatnya… Ia telah terpisah dari orang-orang yang ada di sekitarnya dan apa saja yang ada di sekelilingya…Hanya fisiknya yang bisa disaksikan oleh yang hadir di sekitarnya…Mereka hanya melihat begitu saja sedangkan mereka tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi dan tidak punya kuasa terhadapnya barang sedikitpun….
Di sini, kemampuan manusia terhenti… Ilmu pengetahuan manusia juga tidak berguna sebagaimana peran manusia juga tidak ada…Di sini, mereka mengerti, tapi tidak bisa membantahnya. Mereka lemah,…. lemah…..terbatas….terbatas…. Di sini layar diturunkan tanpa mereka lihat, tanpa sepengetahuan mereka dan tanpa kemampuan bergerak/berbuat.

Di sini, yang berperan hanya Qudrat Ilahiyah (Kekuasaan Allah)… Ilmu Ilahi…(Ilmu Allah)….Semua urusan murni milik Allah tanpa sedikitpun keraguan, tanpa bantahan dan tanpa ada kiat-kiat apapun. "dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu". Di sini, terjadi kebesaran sikap yang membesarkan Kebesaran Allah… Kewibawaan dan kehadiran-Nya –Subhanahu Wata'ala – sedangkan Dia hadir setiap waktu. Ungkapan itu membangunkan perasaan akan suatu hakikat (kenyataan) yang dilupakan manusia.. Maka tiba-tiba, majlis yang menghadiri kematian merasakan seramnya (suasana) karena didominasi oleh ketakutan, kehadiran dan kebesaran-Nya…Yang mendominasi ialah ketidakberdayaan, ketakutan, keterputusan dan perpisahan…

Dalam kondisi liputan perasaan yang gemetaran, berdebar, putus asa, dan duka lara, datanglah tantangan (Keputusan Allah) yang memotong semua perkataan dan mengakhiri semua perdebatan : ". Maka jika kamu tidak tunduk (pada Kehendak Allah), (pastilah) kamu (mampu) mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?" Jika sekiranya masalahnya seperti yang kamu katakan : "sesungguhnya tidak ada perhitungan dan tidak ada balasan", berarti kamu orang-orang yang bebas tanpa ada pembalasan dan perhitungan? Jika demikian, kamu mampu mengembalikan nyawa – yang sudah sampai di tenggorokan itu – agar kamu hindarkan ia dari kondisnya yang sedang menuju perhitungan dan balasan itu…Padahal kamu berada di sekitarnya dan sedang menyaksikannya, sedangkan ia berlalu menuju dunia yang besar, dan kamu diam saja dan tidak berdaya…

Di sini, gugurlah semua alasan, habislah semua argumentasi, punahlah semua kiat dan habislah bantahan…Dan tekanan hakikat (kenyataan) ini membebani diri manusia. Sebab itu, mereka tidak akan mampu bertahan,(dengan kondisi pembangkangannnya kepada Tuhan Pencipta) kecuali jika mereka tetap menyombongkan diri tanpa bukti dan argumentasi"

Kaum Muslimin rahimakumullah….

Terkait dengan sakratulmaut, manusia terbagi kepada tiga golongan. Pertama, golongan "Muqarrabin", yakni orang yang dekat dengan Tuhan Pencipta ketika berada di dunia. Kedua, "Ash-habul Yamin" (Golongan Kanan) yang merupakan bagian dari 'Muqorrobin". Ketiga, golongan "al-mukadzi-dzibin adh-dhallain", yakni orang-orang yang menentang dan menantang kebenaran Tuhan Pencipta dan sistem hidup yang datang dari-Nya dan tersesat dari jalan yang benar. Tentang ketiga golongan ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya :

فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ (88) فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ (89) وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ (90) فَسَلَامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ (91) وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ (92) فَنُزُلٌ مِنْ حَمِيمٍ (93) وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ (94) إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ (95) فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ (96)

"Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), (88) maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta Syurga kenikmatan.(89) Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan, (90) maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan.(91) Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang menolak (kebenaran Tuhan Pencipta dan apa saja yang datang dari-Nya) lagi sesat, (92) maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, (93) dan dibakar di dalam Neraka.(94) Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar.(95) Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar (96)" (Q.S. Al-Waqi'ah: 88 – 96)

Ibnu Katsir, seorang ahli tafsir terkemuka menjelaskan ayat-ayat tersebut di atas dengan penjelasan yang sangat indah dan menarik. Alangkah baiknya kita simak penjelasan Beliau berikut ini : " Inilah tiga suasana yang dialami oleh manusia ketika sakratulmaut. Adakalanya ia termasuk kaum 'muqorrobin' atau termasuk golongan yang ada di bawah mereka, "Ash-habul Yamin" , yaitu yang termasuk golongan kanan, dan ada yang teremasuk orang-orang yang mendustakan kebenaran, yang sesat dari petunjuk dan tidak tahu menahu tentang perintah Allah (al-mukadzi-dzibin adh-dhallain).

Itulah sebabnya Allah SWT berfirman, "Adapun jika dia termasuk orang yang didekatkan kepada Allah." Mereka adalah orang-orang yang setia mengerjakan hal-hal yang diwajibkan dan di sunnahkan. Dan, meninggalkan hal-hal yang diharamkan dan dimakruhkan serta sebagian dari yang diperbolehkan. "Maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta Syurga kenikmatan". Dan, para Malaikat akan menyampaikan berita gembira itu ketika sakratulmaut tiba, sebagaimana yang diterangkan di dalam hadits Al-Barra', Para Malaikat rahmat akan mengatakan, 'hai ruh yang baik dalam jasad yang baik, kamu telah memakmurkannya, keluarlah menuju ketenteraman, rezeki, dan Tuhan yang tidak murka'.

Ruh dan Raihan dalam ayat ini berarti rahmat, rezeki, kegembiraan, dan kesenangan. "Dan Syurga kenikmatan".

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Imam Syafii' dari Imam Malik dari Zuhri dari Abdurrahman bin Ka'ab bin Malik dari Ka'ab bahwa Rasul saw, bersabda, " Ruh seorang Mu'min itu berupa (bagaikan) burung yang bergelantungan pada pohon Syurga sebelum Allah mengembalikan ruh itu ke jasadnya ketika membangkitkannya kembali." (pada hari kiamat nanti).

Abul Aliah mengatakan, "Tidak akan dipisahkan nyawa seorang muqarrabin sebelum dihadirkan kepadanya satu dahan dari kenikmatan Syurga, lalu ruhnya itu disimpan di sana." Di dalam sebuah hadits shaheh dikemukakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Ruh-ruh para Syuhada (orang-orang yang mati sedang berjihad menegakkan agama Allah) itu dalam tembolok burung hijau yang berterbangan di taman-taman Syurga kemana saja mereka kehendaki, kemudian bermalam pada pelita-pelita yang bergelantungan pada Arasy."

Allah SWT berfirman, "Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan.". Yaitu, jika orang yang sedang mengalami sakratulmaut itu termauk golongan kanan, "maka keselamatan bagimu, karena kamu termasuk golongan kanan." Yaitu, para Malaikat akan menyampaikan kabar gembira itu kepada mereka. Hal ini sebagaimana firman-Nya, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka, 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan Syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.' Kamilah pelindung-pelindungmu di dalam kehidupan dunia dan di Akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan di dalamnya kamu memperoleh pula apa yang kamu minta. Sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Fush-shilat : 30 – 32)

Imam Bukhari mengatakan, "Maka salam sejahtera bagimu," yaitu disampaikan salam kepadamu bahwa kamu termasuk golongan kanan.

Allah SWT berfirman, " Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia akan mendapatkan hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam Neraka." Yaitu, bila orang yang tengah mengalami sakratulmaut itu termasuk golongan yang mendustakan kebenaran dan sesat dari jalan petunjuk, "maka dia mendapatkan hidangan dari air yang mendidih," Yaitu cairan yang akan melelehkan isi perut dan kulit-kulit mereka. " Dan dibakar di dalam Neraka," yaitu dia akan ditempatkan di dalam api Neraka yang akan menyelimutinya dari semua arah.

Kemudian Allah berfirman, "Sesungguhnya ini adalah suatu keyakinan yang benar," yang tidak diragukan lagi. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya. Dan dia adalah berita yang menjadi saksi. "Maka bertasbihlah dengan nama Tuhanmu yang Maha Besar." Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa U'qbah bin Amir Al-Juhani berkata, "Maka bertasbihlan dengan nama Tuhanmu yang Maha Besar, (subhana Robiyal 'Azhim)' Rasulullah mengatakan, 'Jadikanlah ayat ini bacaan ruku' kamu.' Dan ketika turun wahyu kepada beliau, 'Maka sucikanlah Tuhanmu yang Maha Tinggi,'(subhana Robbiyal A'la). Rasulullah mengatakan, jadikanlah ayat ini sebagai bacaan sujud kamu."

Kaum Muslimin rahimakumullah….

Setelah kita melewati "Sakratulmaut" berarti kita sedang berada pada batas terakhir dari perjalanan kita di dunia dan di batas awal memasuki dunia baru yang bernama Barzakh. Untuk memasuki dunia baru tersebut terlebih dulu kita harus membuka pintu masuknya. Pintu masuknya itu bernama "Kematian". Ya, Kematian… Itulah fase yang harus kita lewati setelah melewati fase Sakratulmaut. Dengan kematian itu kita berhak mendapatkan tempat di alam Barzakh.

Kematian adalah sesuatu yang ditakuti banyak orang. Kendati pada kenyataanya, tidak ada seorangpun yang dapat menghindari atau lari dari kematian itu. Siapapun dia, Presidenkah, Rajakah dia, Konglomerat kah dia, Jendral berbintang lima kah dia, di mana dan kapanpun mereka berada. Mereka pasti mati. Selama mereka memiliki nyawa, pasti akan mengalami kematian. Hal ini telah menjadi ketentuan dan kehendak Tuhan Pencipta sebagaimana di jelaskan-Nya dalam surat Ali Imran ayat 185 dan Surat An-Nisa' ayat 78 berikut ini :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ…..(185)

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…" (Q.S. Ali Imran: 185)

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ (78)

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…. (Q.S. An-Nisa' : 78)

Kematian sudah ditentukan bagi setiap yang bernyawa. Kematian tidak perlu dicari, karena ia yang mencari setiap yang bernyawa. Kematian tidak bisa diwakilkan, dipindahkan atau take over oleh yang tidak berhak, karena petugas kematian, yakni Malakul Maut yang diberikan tugas khusus mengurusinya belum pernah menerima sogokan dan tidak akan pernah. Karena semua Malaikat melakukan semua apa yang diperintahkan Allah kepada mereka, tanpa sedikitpun disimpangkan apalagi dimanipulasi, seperti yang Allah jelaskan :

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ (11)

"Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan." (Q.S.As-Sajdah (32) :11)

Demikian juga, bahwa kematian akan datang pada saatnya atau ketika ajal (batas)nya habis. Kematian tidak bisa diundurkan kendati barang sedetik. Tidak sedikit orang yang mencoba untuk mengundurkan kematian, tapi usahanya gagal dan sia sia belaka. Karena kematian adalah pintu masuk tempat tinggal sementara ketiga kita, yakni alam Barzakh. Maka, kitapun harus memasukinya, karena jatah menginap di penginapan di dunia sudah habis serta tempat kita di dunia sudah dibooking Malaikat untuk penghuni lain selain kita. Allah telah mengingatkan kita tentang hal ini dan apa yang harus kita lakukan sebelum kematian (maut) itu menjemput kita, seperti tercantum dalam firman-Nya berikut ini :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (9) وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ (10) وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (11)

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.(9) Dan belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhan Penciptaku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?" (10) Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (11)" (Q.S. Al-Munafiqun : 9 – 11)

Nah, sebelum kita dijemput Kematian (Maut) yang waktunya Allah rahasiakan… Ia bisa datang saat ini, satu detik setelah ini, satu menit setelah ini, satu jam setelah ini, satu hari setelah ini, satu pekan setelah ini, satu bulan setelah ini, atau satu tahun setelah ini dan seterusnya….Sebelum Kematian menjemput kita, cobalah gunakan kecerdasan Spiritual, Emotinal dan Intellectual yang Allah berikan kepada kita untuk menangkap rahasia di balik Kematian itu. Lalu, tanya diri kita dengan jujur seputar pertanyaan-pertanyaan berikut :

  1. Siapa yang menghadirkan saya ke dunia ini?
  2. Apakah saya sudah mengenal Tuhan Pencipta saya dengan baik?
  3. Apakah saya sudah mengenal Kitab Petunjuk Hidup (al-Qur'an) yang diturunkan-Nya untuk saya?
  4. Apakah saya sudah mengenal seorang manusia bernama Muhammad Bin Abdullah yang diutus-Nya untuk menjelaskan isi Kitab Petunjuk Hidup tersebut?
  5. Apakah saya akan hidup di dunia ini selama-lamanya?
  6. Tidak cukupkah kematian manusia yang saya lihat setiap hari di atas muka bumi ini dengan berbagai sebab, seperti gempa bumi, tsunami, angin topan, banjir bandang, perang, sakit jantung, darah tinggi dan bahkan ada yang tidak sakit sama sekali, menjadi pelajaran berharga bagi diri saya dan saya juga pasti akan mengalaminya, masalahnya hanya tinggal waktu?
  7. Bagaimana pandangan saya terhadap kehidupan dunia ini?
  8. Bekal apa yang sudah saya siapkan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian?
  9. Apakah saya sudah mengevaluasi hidup saya sejak masa baligh (dewasa) sampai saat ini?
  10. Sudahkah saya memiliki 10 Katrakter Mulia yang menjadi syarat kesuksesan hidup saya di dunia dan di akhirat nanti, yakni aqidah bersih, ibadah benar, akhlak kokoh, wawasan luas, memiliki skil kehidupan, fisik sehat dan kuat, mampu mengendalikan syahwat, urusan teratur, manajemen waktu baik dan memiliki tanggung jawab sosial.

Kaum Muslimin rahimakumullah….
Demikianlah khutbah ini, semoga Allah menolong kita dalam merancang kematian yang akan kita hadapi. Semoga Allah membuka peluang bagi kita untuk meraih kematian dengan predikat al-muqarrabin atau minimal ashabul yamin dan melindungi kita dari termasuk golongan al-mukadz-dzibin adh-dhallin….

Dan semoga Allah berkenan membimbing kita ke jalan-Nya yang lurus, yaitu jalan para nabi, shiddiqin, syuhadak dan sholihin. Allahumma amin… (Mh)

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم إنه تعالى جواد كريم ملك رؤوف رحيم إنه هو السميع العليم ….


http://www.eramuslim.com/khutbah jumat/merancang-kematian-yang-indah.htm#.UecYjdKosuo