Kamis, 14 Maret 2013

Khutbah Idul Adha - 3 Teladan Umat

Khutbah Idul Adha 1432

Masjid Jami' al-Hidayah

Kampung Rambutan, Jakarta Timur

Oleh: Abdul Aziem al-Batavy

Khutbah Pertama

الخطبة الأولى

اللهُ أَكْبَرُ «تسعا»، الله أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

الحَمْدُ للهِ الَّذِى خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ الَّذِى وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا وَتَدْبِيْرًا، نَحْمَدُهُ بِجَمِيْعِ مَحَامِدِهِ حَمْدًا كَثِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً أَدَّخِرُهَا لِيَوْمٍ كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، بَعَثَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ وَخَلِيْلِكَ مُحَمَّدٍ مَا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَصَلِّ عَلَيْهِ مَا لاَحَتِ اْلأَنْوَارُ، وَغَرَّدَتِ اْلأَطْيَارُ، وَأَوْرَقَتِ اْلأَشْجَارُ، وَأَيْنَعَتِ الثِّمَارُ، وَلّبَّى الحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

،أَمَّا بَعْدُ

فَـ (ياأيها الناس التقوا ربكم إن زلزلة الساعة شيء عظيم )– الحج:١

اتَّقُوا اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى مَا هَدَاكُمْ لِلإِسْلاَمِ، وَأَوْلاَكُمْ مِنَ الْفَضْلِ وَالإِنْعَامِ، وَجَعَلَكُمْ مِنْ أُمَّةِ الْقُرْآنِ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Saudaraku, kaum Muslimin yang dirahmati Allah swt.

Pagi ini, ketika kita berkumpul di tempat ini, jutaan saudara kita yang sedang melaksanakan ibadah haji sedang berkumpul di Mina. Lautan manusia tumpah-ruah, bergerak menuju satu tempat yang bernama Jumrah al-Aqabah, sambil lisan-lisan mereka membasahi bumi Mina dengan ucapan talbiyah,

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكُ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ.

Ya Allah, kami bergegas memenuhi panggilan-Mu… Tak ada sekutu bagi-Mu… Kami segera datang memenuhi panggilan-Mu… Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan, dan kekuasaan berpulang kepada-Mu… Tak ada sekutu bagi-Mu…

Manakala mereka sampai di Jumrah al-Aqabah, tangan-tangan kecil mereka melempari jumrah dengan bebatuan, sambil lisan mereka bergetar mengucapkan,

اللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مبْرُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا

Allahu Akbar, Allahumma ya Allah, jadikanlah (haji ini) haji yang mabrur, dan jadikanlah segala dosa kami, dosa yang terampuni.

Sehabis melempar Jumrah, mereka mengganti gema talbiyyah dengan gema takbir.

Allahu Akbar! Bumi Mina basah dengan kalimat-kalimat thayyibah yang keluar dari jutaan lisan Tamu Allah.

Ada kesamaan antara kehadiran jutaan jamaah haji di Mina dan kehadiran kita di tempat ini, yaitu sama-sama bernilai ibadah, untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Semoga saudara-saudara kita yang sedang melaksanakan ibadah haji mendapatkan haji yang mabrur, sa'i yang masykur, dan dosa yang maghfur. Dan, bagi kita yang hadir di tempat ini semoga Allah senantiasa berikan rahmat, inayah, dan ampunan-Nya, sepanjang hidup kita.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Tidak ada ibadah yang begitu menggetarkan jiwa selain haji. Haji mengajarkan kita untuk senantiasa melakukan yang terbaik dalam menjalani hidup. Haji mengajarkan kita untuk meneladani tiga karakter manusia besar, yaitu Adam, Ibrahim, dan Muhammad, shalawatullah wa salamuhu alayhim.

Teladan pertama: Jadilah seperti Adam yang selalu mawas diri

Figur pertama yang patut kita tiru adalah Adam. Ketika Adam lupa dengan larangan Allah swt. agar tidak memakan buah salah satu pohon di surga, Adam merasakan penyesalan yang mendalam. Adam bertaubat dan Allah menerima taubatnya. Kemudian Allah menurunkan Adam dari surga ke bumi. Di bumi, Adam merasakan kesedihan yang mendalam. Adam merasa sedih karena ia tidak bisa lagi beribadah di Baytul Ma'mur yang berada di langit ketujuh bersama malaikat. Untuk mengobati kesedihannya, Allah mewahyukan kepada Adam untuk membangun sebuah Bayt (rumah-ibadah) di bumi. Adam kemudian membangun Bayt di bumi, dan dia lah yang pertama membangun rumah-ibadah di bumi. Bayt itu bernama Ka'bah, berada di lembah Bakkah, nama lain dari Makkah al-Mukarramah. Allah swt. berfirman,

'Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia adalah yang berada di Bakkah….' (Q.s. Ali Imran [3]: 96)

Setelah Adam membangun Ka'bah, Allah memerintahkannya untuk melakukan thawaf, sebagaimana yang pernah dilakukannya di Baytul Ma'mur bersama malaikat. Dengan melakukan thawaf di Ka'bah, Adam kembali merasakan kedekatan dengan Allah. Sampai kini, thawaf yang dilakukan Adam terus terpelihara menjadi salah satu manasik haji.

Setelah Adam membangun Ka'bah Baytullah, Adam diperintahkan untuk membangun Baytul Maqdis, di Palestina. Rasulullah saw. pernah ditanya sahabatnya, 'Berapa lama jarak antara dibangunnya Ka'bah dengan Baytul Maqdis?'. Rasulullah menjawab, 'Empat puluh tahun'. (Hadits shahih, muttafaq 'alayh).

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa Allah meng-Isra'-kan Rasulullah dari Masjid al-Haram (Ka'bah) menuju Masjid al-Aqsha (Baytul Maqdis). Ini menunjukkan bahwa agama yang dibawa oleh Nabi pertama sampai Nabi terakhir adalah sama, yaitu Islam.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Di bumi Arafah, para jamaah haji melakukan wuquf. Secara harfiah, wuquf artinya 'berhenti atau diam'. Arafah adalah 'bumi kesadaran', yang menyadarkan jamaah haji siapa dirinya dan siapa Allah swt., yang menciptakannya dan yang memberinya rizki. Arafah adalah bumi air-mata penyesalan. Barangsiapa yang wuquf di Arafah dan khusyu' memohon ampun kepada Allah atas segala nista yang pernah dilakukan, maka ia akan merasakan terlahir kembali menjadi manusia baru. Di bumi Arafah, para jamaah haji menjadi seperti Adam: menyesal dan bertaubat. Bukan tanpa alasan, jika Rasulullah saw. bersabda, 'Al-hajju arafatu' (Haji adalah Arafah). Oleh karena itu, mayoritas ulama-madzhab mengatakan bahwa rukun yang paling penting dari ibadah haji adalah wuquf di Arafah. Barangsiapa yang tidak melakukan wuquf di Arafah, maka hajinya tidak sah.

Aku bukan orangnya…

Dalam sebuah hadits panjang, diriwayatkan bahwa pada hari Kiamat nanti, ketika orang-orang beriman dikumpulkan, mereka berharap agar ada orang yang memberikan syafaat kepada mereka. Kemudian mereka mendatangi Adam, sambil berkata, 'Engkau ini Bapak Manusia, yang Allah ciptakan dari tangan-Nya sendiri, yang malaikat bersujud kepadamu, yang telah diajarkan Allah segala pengetahuan. Tolong, mintakan syafaat dari Tuhanmu, sehingga kami menjadi tentram di tempat ini'.

Apa jawaban yang diberikan Adam kepada mereka? Adam menjawab, 'Lastu hunâkum – Aku bukan orang yang pantas memintakan syafaat untuk kalian di tempat ini'. Adam kemudian menyebutkan alasannya, yaitu bahwa ia malu dengan kesalahan yang pernah ia lakukan. (Hadits shahih, riwayat Bukhari, Muslim, an-Nasa'i, dan Abu Dawud).

Subhanallah! Padahal, kesalahan Adam hanyalah satu, yaitu satu suapan saja, dan itu terjadi karena lupa. Kesalahan sekecil itu masih membuatnya trauma sampai akhir zaman. Bagaimana dengan kita, yang sering berbuat kesalahan lebih dari seribu suapan, dan kita lakukan dengan sengaja?

Oleh karena itu, bagi orang yang sudah melaksanakan ibadah haji, pantang baginya untuk berperilaku menyimpang. Pantang baginya untuk mengulangi kesalahan yang sama dua kali. Jadilah seperti Adam yang selalu mawas diri!

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Teladan kedua:

Jadilah seperti Ibrahim yang tunduk dengan perintah Allah

Figur kedua yang pantas kita teladani adalah Ibrahim a.s. Allah menyebut Ibrahim sebagai seorang yang hanif, seorang yang hidup-lurus, tidak mengikuti arus, yang menyelaraskan hidupnya dengan aturan Allah swt. Qurban yang kita lakukan hari ini awalnya berasal dari perintah Allah kepada Ibrahim – melalui mimpi – untuk menyembelih Ismail, anaknya yang lahir dari rahim Hajar, istri keduanya. Allahu Akbar! Ujian apa yang paling berat bagi seorang ayah, selain menyembelih anaknya dengan tangannya sendiri, padahal anak itu sudah dinantikan kehadirannya selama kurang-lebih 75 tahun?

Al-Quran menceritakan dialog antara Ibrahim dan Ismail, alayhimas salam,tentang perintah Allah swt. itu,

'Ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya, Ibrahim berkata, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?'. Ia menjawab, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'. (Q.s. as-Shaffat [37]:102)

Dibalik perintah Allah ini, yang tidak masuk akal dan terkesan sebagai suatu kezaliman, ada hikmah yang tidak diketahui Ibrahim. Namun, Ibrahim tidak pernah bertanya mengapa Allah memerintahkan itu. Ia hanya tunduk dengan perintah Allah, karena agama bukanlah soal masuk akal atau tidak masuk akal. Agama adalah tuntunan.

'Ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim  membaringkan anaknya atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya atas perintah itu). Dan Kami memanggilnya, 'Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah mempercayai kebenaran mimpi itu. Sesungguhnya Kami memberi ganjaran kepada orang-orang yang selalu melakukan yang terbaik dalam beribadah. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang berat. Maka sebagai gantinya Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar'. (Q.s. as-Shaffat [37]:103-107)

Allah swt. tidak lupa melipatgandakan ganjaran-Nya…

Karena ketundukan Ibrahim terhadap perintah Allah, bukan hanya Ismail yang tidak jadi dikorbankan, namun Allah melipatgandakan ganjaran-Nya kepada Ibrahim dengan berita akan lahirnya seorang anak laki-laki yang bernama Ishaq a.s., dari rahim Sarah, istri pertamanya. Kelak anak ini, seperti Ismail, diangkat Allah menjadi seorang Nabi.

'Kesejahteraan untuk Ibrahim'. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang melakukan yang terbaik dalam beribadah. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami sampaikan kepadanya kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq, seorang Nabi yang termasuk orang-orang yang shalih'. (Q.s. as-Shaffat [37]: 109-112).

Hanya keikhlasan dan ketakwaan, bukan darah dan dagingnya…

Sesungguhnya dibalik perintah ber-qurban ini, Allah swt. mengajarkan kita untuk tunduk dengan perintah-Nya, seperti tunduknya Ibrahim. Allah tidak membutuhkan darah dan daging hewan yang kita sembelih. Allah juga tidak melihat apakah hewan yang kita sembelih besar atau kecil, unta atau domba, sapi atau kambing. Allah hanya menguji seberapa besar ketundukan dan keikhlasan kita menjalankan perintah-Nya. 

'Tidak akan sampai kepada Allah daging dan darahnya. Tetapi yang sampai kepada-Nya hanyalah ketakwaanmu…' (Q.s. al-Hajj [22]:37)

Sampaikan salamku…

Diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah mi'raj ke langit, beliau melihat Ibrahim sedang menyandarkan punggungnya ke Baytul Ma'mur, yang berada di langit ketujuh. Rasulullah mengucapkan salam kepadanya. Ibrahim berkata kepada Rasulullah, 'Tolong sampaikan salamku kepada ummatmu. Katakan kepada mereka bahwa sesungguhnya surga seperti ladang yang tanahnya wangi, airnya lezat, dan bibitnya adalah ucapan Subhanallah, al-Hamdulillah, La ilaha illallah, dan Allahu Akbar'. (Hadits shahih, riwayat at-Thabrani).

Subhanallah! Ibrahim merindukan ummat Muhammad, merindukan kita yang hadir di sini!

Begitulah, orang yang hatinya telah tertanam benih ketakwaan tak akan pernah ragu dengan perintah Allah swt. Baginya, Allah adalah al-Wakil, yang kepada-Nya seluruh persoalan hidup diserahkan. Baginya, Allah adalah al-Hasib, yang dari-Nya segala keperluan dicukupi. Baginya, Allah adalah as-Salam, Sumber Kedamaian. Jadilah seperti Ibrahim yang hidup-lurus dan tunduk dengan perintah Allah!

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Teladan ketiga:

Jadilah seperti Muhammad yang penuh kasih kepada ummatnya dan peduli dengan keselamatan manusia

Figur ketiga yang pantas kita tiru keteladanannya adalah Belahan-jiwa kita, yaitu Muhammad saw.

Suatu kali, Rasulullah ditanya para sahabatnya, 'Wahai Rasulullah, apakah qurban itu?'. Rasulullah menjawab, 'Qurban adalah sunnah ayah kalian, yaitu Ibrahim'. Para sahabat kembali bertanya, 'Jika kami ber-qurban, apa yang kami dapatkan dari qurban itu?'. Rasulullah menjawab, 'Pada setiap helai rambutnya, terdapat kebaikan'. Para sahabat kembali bertanya, 'Bagaimana dengan bulu-bulunya?'. Rasulullah menjawab, 'Pada setiap helai bulunya juga terdapat kebaikan'. (Hadits hasan, riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Ketika melaksanakan haji wada', Rasulullah menyembelih 63 ekor unta di Mina dengan tangannya sendiri. Begitu pula, setiap hari Raya Idul Adha, Rasulullah membeli dua ekor domba yang gemuk, bertanduk, dan berbulu putih bersih. Sehabis memimpin shalat dan berkhutbah, beliau mengambil seekor domba itu dan meletakkan telapak kakinya di sisi tubuh domba, sambil berkata,

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي

'Bismillah, Allahu Akbar, ya Allah, terimalah ini dariku dan dari ummatku yang tidak mampu ber-qurban'.

Lalu beliau menyembelihnya dengan tangannya sendiri. Setelah itu, beliau membaringkan domba yang satu lagi, sambil berkata,

هَذَا عَنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

'Ya Allah, terimalah ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad'.

Sebagian daging qurban itu dimakan Rasulullah dan keluarganya, sisanya dibagikan kepada orang-orang miskin. (Hadits hasan, riwayat oleh Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi).

Ketika Rasulullah ber-qurban atas nama dirinya, keluarganya, dan semua ummatnya yang tidak mampu ber-qurban, maka ibadah qurban bukan hanya sebagai ibadah individual, namun juga sebagai ibadah sosial. Dengan qurban – yang secara harfiah artinya mendekatkan – Rasulullah mengajarkan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mendekatkan diri kepada saudara-saudara kita yang nasibnya di bawah kita. Ketika kita memiliki kenikmatan, maka kenikmatan itu hendaknya juga dapat dirasakan oleh orang lain. Dengan puasa, kita merasakan lapar seperti laparnya orang miskin, dan dengan qurban kita mengajak mereka merasakan kenyang seperti kenyangnya kita. Subhanallah!

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Hidup harmonis dengan alam dan lingkungan…

Bukan hanya qurban yang berdimensi sosial yang menjadi salah satu manasik haji dan disunnahkan pula bagi yang tidak berhaji, namun Rasulullah saw. mengajarkan kita untuk hidup harmonis dengan alam dan lingkungan.

Lebih dari 14 abad yang lalu, jauh sebelum berdiri organisasi Green Peace, jauh sebelum lahir Protokol Kyoto, jauh sebelum diproklamasikan Hari Lingkungan Hidup, apalagi KTT tentang Perubahan Iklim, yang dilaksanakan beberapa waktu lalu di Bali, Rasulullah sudah mengajarkan ummatnya untuk hidup harmonis dengan alam dan lingkungan. Perhatikanlah, bahwa di antara pantangan yang tidak boleh dilanggar oleh orang yang berhaji, adalah memotong pepohonan. Subhanallah!

Rasulullah mengajarkan kita untuk memelihara ekosistem. Rasulullah mengajarkan kita untuk menjaga kelestarian alam. Kalau pohon saja dilarang dipotong, apalagi hutan. Rasulullah mengajarkan kita agar tidak melakukan pembalakan liar (illegal logging) terhadap hutan! Untuk urusan hutan, ternyata Indonesia masuk dalam 'Guiness World Book of Record', sebagai negara yang hutannya paling tercepat rusaknya, karena dibalak atau dibakar. Masya Allah!

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Akibat industrialisasi negara-negara maju melalui kegiatan pembakaran minyak bumi, batu bara, gas alam, dan pembukaan lahan-hijau yang tak terkontrol, maka dunia kini sedang mengalami tragedi peradaban, yaitu Pemanasan Global (Global Warming). Kegiatan industrialisasi itu menghasilkan karbon dioksida (CO2). Emisi yang dikeluarkan oleh karbon dioksida tertahan di atmosfir, sehingga suhu bumi menjadi panas.

Menurut para ilmuwan, pengaruh yang ditimbulkan pemanasan global ini terhadap kehidupan di bumi sangat dahsyat: mulai dari perubahan iklim yang tidak menentu, penurunan hasil panen, kekeringan, penyakit mematikan, suhu bumi yang makin panas sehingga es di kutub Utara mencair, naiknya permukaan laut sehingga menimbulkan badai tsunami, banjir lokal, sampai banjir besar seperti banjir raksasa di zaman Nabi Nuh, yang akan menimpa umat manusia pada satu abad ini. Allahu Akbar!

Menurut para ilmuwan, Asia adalah kawasan paling berbahaya. Lima negara yang terancam pemanasan global adalah Cina, India, Bangladesh, Vietnam, dan Indonesia. Lebih dari dua per tiga kota-kota besar di dunia akan terkena dampak pemanasan global. Salah satunya adalah Jakarta, yang 70 persen wilayahnya berada di kawasan pantai berelevasi rendah yang terancam oleh naiknya permukaan laut.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Mengapa Rasulullah melarang memotong pepohonan? Karena pepohonan menyerap karbon dioksida dari udara untuk melakukan fotosintesis dan menyimpannya sebagai biomassa di tubuhnya. Dengan tetap terpeliharanya pepohonan yang menyerap karbon dioksida, maka suhu bumi menjadi normal, pemanasan global menjadi terhambat, dan kehidupan manusia menjadi terselamatkan.

Allahu Akbar!

Sungguh, Rasulullah adalah teladan kita dan ummat manusia!

Oleh karena itu, di Hari Adha yang penuh keberkahan ini, mari kita kembali kepada petunjuk Islam, dengan merubah gaya-hidup kita. Hiduplah dengan mawas diri, tidak berlebihan, selaraskan akal dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya, dan peduli dengan lingkungan dan kemaslahatan ummat, karena tidak ada agama yang petunjuknya dapat menyelamatkan ummat manusia, baik di dunia maupun akhirat, kecuali Islam.


Khutbah Kedua

الخطبة الثانية

اللهُ أَكْبَرُ «سبعا»، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

الْحَمْدُ للهِ الْحَكِيْمِ الْعَلِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صّلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ، صَلاَةً وَسَلاَمًا كَامِلَيْنِ مُتَلاَزِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أمّا بعد

فَيَا عِبَادَ اللهِ،  (فاتقوا الله ما استطعتم ) – التغابون ١٦

اتَّقُوا اللهَ رَبَّكُمْ، وَاعْبُدُوْهُ وَأَطِيْعُوْهُ وَوَحِّدُوْهُ، فَلاَ إِلَهَ غَيْرُهُ، إِنْ أَرَضْتُمْ دُخُوْلَ الْجِنَانِ، وَرُمْتُمْ رِضَى الرَّحْمَنِ، وَطَلَبْتُمُ السَّلاَمَةَ مِنَ النِّيْرَانِ، فَعَلَيْكُمْ بِتَوْحِيْدِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَسَلاَمَةِ الْعَقِيْدَةِ مِنَ اْلأَدْرَانِ، وَتَحْقِيْقِ الْعُبُوْدِيَّةِ وَاْلإِيْمَانِ

 أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَكُمُ اللهُ – عَلَى الْهَادِى الْبَشِيْرِ، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ، كَماَ أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ الْمَوْلَى اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ، فَقَالَ تَعَالَى قَوْلاً كَرِيْمًا: (إن الله وملائكته يصلون على النبي، يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما – الأحزاب ٥٦)

 اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِ قُلُوْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ: أَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرَ الْفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِى النُّوْرَيْنِ، وَعَلِيٍّ أَبِى السِّبْطَيْنِ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِيْدَنَا سَعِيْدًا، وَعَمَلَنَا صَالِحًا رَشِيْدًا، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ حُجَّاجِ بَيْتِكَ الْحَرامِ حَجَّهُمْ، اللَّهُمَّ هَؤُلاَءِ عِبَادُكَ، أَتَوْا مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ، يَرْجُوْنَ رَحْمَتَكَ، وَيَخْشَوْنَ عَذَابَكَ، اللَّهُمَّ بَلِّغْهُمْ آمَالَهُمْ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

Ya Allah, ya Tuhan kami,

Jadikanlah hari Raya kami ini sebagai kebahagiaan. Jadikan amal-amal kami sebagai sebagai amal shalih yang mencerahkan hidup kami. Terimalah ibadah-haji saudara-saudara kami yang berhaji tahun ini. Mereka semua adalah hamba-Mu. Mereka datang dari segala pelosok bumi-Mu, mengharapkan rahmat-Mu, dan takut akan azab-Mu. Maka, ya Allah, kabulkanlah keinginan-keinginan mereka. Hanya Engkau-lah Yang Maha Lestari dan Berkuasa, yang memiliki kekuasaan dan kemuliaan sempurna.

 اللَّهُمَّ كَمَا جَمَعْتَ أَجْسَادَهُمْ فِى الْمَكَانِ الْمُبَارَكِ فَاجْمَعْ قُلُوْبَهُمْ عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى، اللَّهُمَّ كَمَا جَمَعْتَهُمْ وَجَمَعْتَنَا فِى هَذَا الْمَكَانِ فَاجْمَعْ قُلُوْبَنَا عَلَى كِتَابِكَ وَسُنَّةِ نَبِيِّكَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ وَالْفِتَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

Ya Allah, ya Tuhan kami,

Sebagaimana Engkau telah rekatkan jasad-jasad mereka di Tanah Suci-Mu, maka rekatkanlah hati mereka dengan kebenaran dan petunjuk. Ya Allah, sebagaimana Engkau telah kumpulkan mereka di Tanah Suci-Mu dan Kau kumpulkan kami di tempat ini, maka rekatkan pula hati kami untuk bersedia mengikuti tuntunan yang Engkau tunjukkan dalam Kitab-Mu dan sunnah Rasul-Mu. Satukan hati kami, perbaiki persoalan-persoalan yang terjadi di depan kami, tuntun kami menuju jalan keselamatan, jauhkan kami dari keburukan dan marabahaya, baik yang sedang terjadi di depan mata atau yang masih tersembunyi dari penglihatan kami.

اللَّهُمَّ وَفِّقْ إِمَامَنَا بِتَوْفِيْقِكَ، وَوَفِّقْهُمْ إِلَى مَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَاصِيَتِهِمْ إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، وَإِلَى مَا فِيْهِ إِعْلاَءُ كَلِمَتِكَ، وَإِعْزَازُ دِيْنِكَ، وَصَلاَحُ الْبِلاَدِ وَالْعِبَادِ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Ya Allah, ya Tuhan kami,

Berikan petunjuk-Mu kepada pemimpin-pemimpin kami.  Tuntun mereka dalam membuat kebijakan publik yang selaras dengan aturan-Mu. Ya Allah, pegang ubun-ubun mereka untuk selalu berada di jalan kebenaran dan ketakwaan, untuk bersemangat meninggikan kalimat-Mu dan kejayaan agama-Mu, dan berkomitmen untuk memperbaiki keadaan bangsa dan masyarakat.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِى كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ، اللَّهُمَّ مُنَّ عَلَيْنَا بِإِعَادَةِ الْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى إِلَى بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَتَحْرِيْرِ أَوْطَانِنَا مِنْ بَرَاثِنِ أَعْدَائِكَ أَعْدَاءِ الدِّيِْنِ، اللَّهُمَّ عَجِّل بِنَصْرِنَا، اللَّهُمَّ عَجِّلْ بِفَرَجِنَا، يَا قَوِيُّ يَا عَزِيْزُ، يَا هَيُّ يَا قَيُّوْمُ

Ya Allah, ya Tuhan kami,

Jayakanlah Islam dan kaum Muslim, hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin. Ya Allah, bantulah saudara-saudara kami yang berjuang di jalan-Mu, di manapun mereka berada. Bantu mereka mengalahkan musuh-Mu dan musuh mereka. Ya Allah, bahagiakan kami dengan kembalinya Masjid al-Aqhsa ke pangkuan kami dan terbebasnya bangsa kami dari belenggu agresi musuh-Mu dan musuh agama-Mu. Ya Allah, segerakan kemenangan kami dan pecahkan belenggu yang melilit kami.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْمَيِّتِيْنَ، اللَّهُمَّ لاَ تَرُدَّناَ خَائِبِيْنَ، وَلاَ عَنْ بَابِكَ مَطْرُوْدِيْنَ، وَلاَ مِنْ رَحْمَتِكَ مَحْرُوْمِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Ya, Allah, dengan rahmat-Mu

Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Mengetahui. Ampuni kami, orangtua kami, dan saudara-saudara kami kaum muslimin, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, karena Engkau yang Maha Pengampun dan Penyayang. Ya Allah, jangan Kau kecewakan kami, jangan Kau tolak kami dari pintu-Mu, dan jangan jadikan kami terhalang mendapatkan kasih sayang-Mu.


http://bangaziem.wordpress.com/page/2/

Rabu, 13 Maret 2013

Mengapa Berpuasa

Alhamdulillah, Allah swt. telah mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan tahun ini, bulan berkah yang penuh rahmat dan ampunan. 

Selama hidupnya, Rasulullah saw. hanya berpuasa Ramadhan sebanyak 9 kali. Bisa jadi, puasa Ramadhan kita lebih banyak dari puasa Rasulullah. Nah, sampai sejauh ini, pernahkah kita bertanya: buat apa sihkita berpuasa? Mumpung kita masih berada pada hari pertama puasa, tidak ada salahnya kita bertanya seperti itu.

Banyak alasan mengapa kita perlu berpuasa. Beberapa di antara alasan itu adalah sebagai berikut.

Pertama, sebagai bentuk self-assesment (penilaian sendiri) apakah kita termasuk orang beriman atau tidak. Perhatikan, dalam surat al-Baqarah ayat 183, perintah puasa dimulai dengan lafaz iman, yaitu Ya ayyuhalladzina amanu– wahai orang beriman. Hal ini untuk membangkitkan rasa keimanan yang berada di dalam hati kaum muslim. Jika rasa iman bersarang dalam hati kita, maka seruan Allah itu akan terasa manis. Jika sebaliknya, maka puasa terasa berat.

Adalah para sahabat Rasulullah yang jika dibacakan kepada mereka ayat yang dimulai dengan lafaz Ya ayyuhalladzina amanu, maka mereka akan pasang kuping. Mengapa? Karena setelah seruan itu, pasti ada sesuatu hal penting yang perlu diperhatikan.

Nah, ayat puasa juga seperti itu. Jadi, tidak perlu heran dengan orang-orang yang tanpa malu makan/minum seenaknya di depan umum pada bulan Ramadhan. Kalaupun ada kaum muslim yang tidak berpuasa karena alasan yang dibenarkan (seperti sakit, haid, sudah tua) maka mereka hendaknya tidak melakukannya secara demonstratif. Hormatilah bulan Ramadhan, yang merupakan salah satu syi'ar Allah. Orang yang menghormati syi'ar Allah, tanda hatinya masih menyimpan benih ketakwaan (lihat al-Quran surat al-Hajj ayat 32) 

Beruntunglah orang yang menyambut seruan Allah itu dengan sukacita. Itu tanda keimanan masih bersarang di dalam hati.

Kedua, puasa Ramadhan menanamkan harga diri kita bahwa kita, kaum Muslim, adalah umat yang paling konsisten menjaga kontinuitas ajaran-ajaran agama langit. Perhatikan, firman Allah, 'Telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan pula kepada generasi terdahulu' (al-Baqarah ayat 183).

Ayat ini mengisyaratkan bahwa ibadah puasa bukanlah ibadah baru, yang hanya dikhususkan untuk umat muslim. Umat-umat Nabi terdahulu juga dibebani perintah berpuasa. Begitu pula, umat Yahudi dan umat Nashrani, juga dibebani perintah berpuasa. Namun, apakah dua umat ini konsisten menjalankan perintah puasa? 

Diriwayatkan dari Hasan al-Bashri rahimahullah, bahwa ia berkata, 'Sesungguhnya Allah telah mewajibkan puasa Ramadhan kepada kaum Yahudi dan Nashrani. Namun, kaum Yahudi meninggalkan puasa di bulan ini. Mereka hanya berpuasa satu hari dalam satu tahun, yaitu pada hari Firaun tenggelam dan Bani Israil selamat. Adapun kaum Nashrani juga melakukan puasa Ramadhan. Namun, pada saat itu udaranya sangat panas, sehingga mereka mengalihkan puasa Ramadhan itu di bulan lain, yaitu di bulan Rabi' (musim semi). Lalu para rahib mereka mengeluarkan fatwa, 'Kita perlu menambahkan puasa 20 hari lagi, sebagai tebusan terhadap perbuatan kita ini'. Maka, mereka berpuasa selama 50 hari. Inilah yang dimaksudkan Allah swt, 'Mereka menjadikan cendekiawan dan para rahib mereka sebagai tuhan tandingan bagi Allah' (surat at-Tawbah ayat 31)

Bagaimana dengan kita kaum Muslim? Kita hanya berpuasa satu bulan. Tidak lebih. Maksimal 30 hari, dan minimal 29 hari.  Umat Muslim tidak pernah mengganti puasa Ramadhan (apakah bersamaan dengan musim panas, semi atau penghujan) pada bulan-bulan lainnya. Itu artinya kita adalah umat yang konsisten menjalankan perintah puasa Ramadhan.

Ketiga, kita perlu berpuasa untuk mengingatkan akan nikmat terbesar dalam hidup kita, yaitu nikmat turunnya al-Quran, yang membawa prinsip-prinsip kebahagiaan hidup. Atas dasar itulah, Allah berfirman, 'Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran, yang berfungsi sebagai petunjuk-hidup (hudan) bagi manusia dan penjelasan (bayyinat) terhadap petunjuk-hidup itu, dan juga sebagai pembeda (furqan) antara yang benar dan yang salah' (al-Baqarah ayat 185)

Sesungguhnya, tidak ada buku yang begitu mencerahkan dan praktis untuk kita amalkan, kecuali al-Quran. Begitu hebatnya al-Quran, maka tidak heran selalu saja ada orang-orang yang membuat al-Quran palsu. Namun, keaslian al-Quran akan terjaga sampai hari Kiamat, karena itu adalah janji Allah swt. Meskipun demikian, kaum Muslim tetap perlu mempelajari al-Quran dengan baik. Kata Rasulullah saw., 'Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suat kaum dengan al-Quran dan menjatuhkan derajat kaum yang lain juga dengan al-Quran'. 

Keempat, kita perlu berpuasa agar kita tidak memperturutkan ambisi perut dan kemaluan kita. Sesungguhnya, semua kerusakan di dunia sebagian besar karena dua ambisi itu.

Imam al-Ghazali rahimahullah berkata, 'Ketahuilah, sesungguhnya pangkal segala kerusakan bersumber dari syahwat perut. Dari syahwat perut, muncul syahwat seks. Karena syahwat perut, Adam keluar dari surga. Karena syahwat perut, orang berlomba-lomba mengejar dunia secara berlebihan'.

Apakah ada hubungan antara perilaku konsumtif dengan syahwat perut? Apakah ada hubungan antara korupsi dengan syahwat perut? Apakah ada hubungan antara perilaku free sex dengan syahwat kemaluan?

Jawabannya kita sudah tahu. 

Nabi Yusuf alayhissalam adalah public figure yang senang berpuasa, padahal ia berada di puncak kekuasaan. Karena kebiasaannya ini, banyak orang bertanya, 'Mengapa Anda masih senang berpuasa, padahal Anda adalah orang yang menguasai perbendaharaan negara?' Yusuf menjawab, 'Jika aku kenyang, aku takut menjadi lupa dengan orang-orang lapar'.

Subhanallah… Andai saja para pemimpin kita, mulai dari level lingkungan sampai level kenegaraan, mau mencontoh perilaku Yusuf alayhissalam, maka betapa harmonisnya hidup manusia. 

Nah, puasa mengajarkan kita untuk menyeimbangkan dua syahwat itu: syahwat perut dan syahwat seks.

Kelima, puasa mengajak kita untuk memberikan waktu barang sejenak untuk membersihkan kotoran-kotoran ruhani kita. Siapakah manusia yang tidak pernah salah?

Ramadhan adalah training massal yang mencuci kotoran-kotoran yang menempel di dinding hati kita. Ramadhan memberi kesempatan kepada kita untuk mendekatkan diri kepada Allah, curhat kepada-Nya, dan memohon rahmat dan ampunan dari-Nya. Ramadhan adalah ghayts al-qulub – rintik hujan yang membasahi keringnya hati.

Mudah-mudahan Ramadhan kali ini menjadi salah satu Ramadhan terbaik kita. Amin.

Bencilah Perbuatannya, Bukan Orangnya

Mari kita belajar dari 3 orang sahabat Rasulullah: Abu Darda, Ibnu Masud, dan Abu Dujanah al-Anshariradhiyallahu anhum. Mereka termasuk sahabat-sahabat Rasulullah yang senior.

Suatu hari, Abu Darda berjalan bersama para sahabatnya. Di tengah jalan, ia melihat seorang pendosa. Para sahabatnya yang lain mencaci orang itu.

Lalu Abu Darda berkata, 'Bagaimana menurut kalian jika kalian menemukan dosa itu pada hati kalian, apakah kalian akan mengeluarkannya?'

Mereka menjawab, 'Tentu saja'

Abu Darda berkata, 'Makanya, janganlah kalian mencaci saudara kalian. Sebaiknya pujilah Allah karena Dia-lah yang telah menyelamatkan kalian dari dosa'.

Mereka bertanya, 'Apakah engkau tidak membenci orang itu?'

Abu Darda menjawab, 'Innama ubghidhu amalahu, fa idza tarokahu fa huwa akhi -sesungguhnya yang aku benci adalah perbuatannya. Jika ia sudah meninggalkan perbuatannya, maka ia tetap saudaraku'.

Lain lagi dengan Ibnu Masud. Ia pernah berkata, 'Jika kalian melihat seseorang melakukan perbuatan dosa, maka janganlah kalian ikut-ikutan menjadi backingsyetan terhadap orang itu, dengan mengatakan, 'Ya Allah, balaslah perbuatannya. Ya Allah, laknatlah ia. Namun, mohonlah kepada Allah agar kalian mendapatkan afiat (keselamatan dari dosa). Sesungguhnya kita ini, para sahabat Nabi, tidak akan mengatakan sesuatu terhadap seseorang sampai kita tahu tanda kematiannya. Jika akhir hidup orang itu ditutup dengan kebaikan, maka tahulah kita bahwa ia sudah mendapat kebaikan. Jika hidup orang itu berakhir dengan keburukan, maka kita menjadi takut mendapat yang seperti itu'.

Begitulah sikap mulia Abu Darda dan Ibnu Masud dalam menyikapi pelaku dosa. Padahal kalau dilihat dari persfektif kesucian pribadi mereka, tentu saja keduanya lebih pantas untuk mencaci para pelaku dosa. Sebagaimana kita ketahui, Abu Darda adalah sahabat Rasulullah yang terkenal dengan figur yang rajin ibadah. Begitu pula dengan Ibnu Masud, yang punya suara indah, yang membuat Rasulullah menangis ketika mendengar Ibnu Masud membaca al-Quran di hadapannya. Bukan hanya itu, meskipun Ibnu Masud punya betis yang kecil, namun jika nanti ditimbang pada hari Kiamat, maka berat betisnya yang kecil itu akan melebihi beratnya Bukit Uhud. Ini menjadi tanda bahwa pemilik betis itu adalah orang mulia.

Lain lagi dengan orang yang bernama Abu Dujanah. Suatu hari ia sakit. Para sahabat yang lain datang menjenguknya.

Yang mengherankan, meskipun wajahnya pucat akibat sakit yang dideritanya, wajah Abu Dujanah tetap memancarkan cahaya.

Para sahabat bertanya, 'Ma li wajhika yatahallalu? – Apa yang membuat wajahmu senantiasa bercahaya?'

Abu Dujanah menjawab, 'Ada dua amal yang selalu aku pegang teguh dalam hidup ini. Pertama, aku tidak pernah berbicara dengan sesuatu yang kurang bermanfaat. Kedua, hatiku  selalu menilai sesama Muslim dengan hati yang tulus'.

Abu Darda, Ibnu Masud, dan Abu Dujanah menjalani hidup sesuai hati mereka, bukan sesuka hati mereka. Tentu saja, ada beda antara hidup SESUAI hati dengan hidup SESUKA hati.

Setiap hati akan bercerai-berai, kecuali hati yang saling mencinta atas dasar kecintaan kepada Allah, dan surga adalah tempat yang paling pantas untuk bersatunya hati seperti ini…


http://bangaziem.wordpress.com/category/renungan/

Khutbah Idul Fitri - Kesuksesan Sejati

Arti Kesuksesan Sejati

Khutbah Idul Fitri 1432 H

Masjid Jami' Darul Hikam

Jatiwaringin Antilop, Pondok Gede, Bekasi Barat

Rabu, 31 Agustus 2011

Oleh:  Abdul Aziem al-Batavy

 Khutbah Pertama

الخطبة الأولى

اللهُ أَكْبَرُ «تسعا»، الله أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

الحَمْدُ للهِ الَّذِى خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ الَّذِى وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا وَتَدْبِيْرًا، نَحْمَدُهُ بِجَمِيْعِ مَحَامِدِهِ حَمْدًا كَثِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً أَدَّخِرُهَا لِيَوْمٍ كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، بَعَثَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ وَخَلِيْلِكَ مُحَمَّدٍ مَا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَصَلِّ عَلَيْهِ مَا لاَحَتِ اْلأَنْوَارُ، وَغَرَّدَتِ اْلأَطْيَارُ، وَأَوْرَقَتِ اْلأَشْجَارُ، وَأَيْنَعَتِ الثِّمَارُ، وَلّبَّى الحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ:

فَـ (ياأيها الناس التقوا ربكم إن زلزلة الساعة شيء عظيم )– الحج:١

اتَّقُوا اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى مَا هَدَاكُمْ لِلإِسْلاَمِ، وَأَوْلاَكُمْ مِنَ الْفَضْلِ وَالإِنْعَامِ، وَجَعَلَكُمْ مِنْ أُمَّةِ الْقُرْآنِ.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Saudaraku, kaum Muslimin yang dirahmati Allah swt.

Ramadhan telah meninggalkan kita. Ada rasa haru dalam hati kita ketika meninggalkan Ramadhan yang penuh berkah. Kata pepatah, idza zuqta halawat al-washilah la 'arafta murrat al-qathi'ah – jika engkau pernah merasakan nikmatnya bersatu, niscaya engkau akan merasakan pahitnya berpisah. Kita sedih ditinggalkan Ramadhan, dan kita berharap agar Allah panjangkan umur kita sampai Ramadhan yang akan datang, dalam keadaan yang lebih baik, sehat, dan penuh curahan rahmat Allah swt.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Saudaraku, kaum Muslimin yang dirahmati Allah swt.

Hari ini kita basahi lidah kita dengan takbir, tahmid, dan tahlil. Kita gemakan kebesaran Allah swt ke segala penjuru angkasa dengan penuh sukacita – kadang dengan tetesan air mata – sebagai ekspresi rasa harap kita akan rahmat-Nya, sebagai ekspresi rasa takut kita akan azab-Nya, dan sebagai ekspresi rasa syukur kita atas nikmat-nikmat-Nya. Kita bersyukur bahwa Allah swt masih mempertemukan kita dengan Ramadhan dan merayakan Idul Fitri bersama-sama. Padahal, banyak saudara kita yang tidak bisa hadir di sini bersama kita, lantaran sakit, terhalang, atau karena telah mendahului kita.

Betapa indahnya kemanusiaan kita pada hari ini. Dengan lantunan takbir, tahmid, dan tahlil, dari lubuk hati yang terdalam kita sadari betul bahwa selama ini yang kita besarkan adalah bukan Allah. Yang kita besarkan selama ini adalah harta, kedudukan, popularitas, dan perkara keduniaan lainnya, sehingga membuat ruhani kita menjadi tumpul dan tidak berkembang.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Saudaraku, kaum Muslimin yang dirahmati Allah swt.

Shalat Id yang baru saja kita lakukan merupakan simbolisasi dari kesuksesan kita menghidupkan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, pelajaran berharga dari Idul Fitri yang kita rayakan hari ini merupakan akumulasi dari dari pelajaran-pelajaran ibadah puasa, shalat, dan zakat kita di bulan Ramadhan. Selama 720 jam, Ramadhan sebagai suatu madrasah ruhaniah,spiritual training, telah menggembleng kita untuk memahami prinsip kesuksesan hidup yang hakiki dan cara meraih kesuksesan itu.

Apakah prinsip kesuksesan hakiki yang telah diberikan oleh Ramadhan kepada kita? Ada begitu banyak prinsip kesuksesan yang telah diajarkan oleh Ramadhan.

Di antaranya adalah:

Yang pertama, kita disebut sukses manakala kita bisa menyesuaikan kehendak kita dengan kehendak Allah swt.

 Selama kita berpuasa, sejak Subuh hingga Maghrib, kita rela menahan lapar, haus, dan hal-hal lain yang mengurangi nilai ibadah puasa kita. Kita teguh memegang prinsip. Kita tidak berani melanggar pantangan puasa sampai datang waktu berbuka. Rasanya tidak ada waktu yang ditunggu-tunggu oleh orang yang berpuasa, kecuali datangnya waktu Maghrib. Kesuksesan orang yang berpuasa adalah di saat berbuka. Oleh karena itu, dalam sebuah hadits qudsi, Allah swt berfirman,

للصائم فرحتان يفرحُهُما: إذا أفطر فرح بفطره، وإذا لقي ربه فرح بصومه

'Buat orang yang berpuasa, ia memiliki dua kegembiraan. Pertama, ketika berbuka, ia gembira dengan saat berbukanya itu. Kedua, ketika ia berjumpa dengan Allah (nanti di hari Akhir) ia gembira dengan ganjaran puasanya'. (Hadits, muttafaq alayh)

Waktu berbuka, yaitu Maghrib dan Idul Fitri sebagai akhir puasa, adalah simbol datangnya kesuksesan jangka pendek, yaitu kesuksesan dunia. Sedangkan kesuksesan jangka panjang adalah di saat hari Akhir berjumpa dengan Allah, dan kita mendapatkan ganjaran masuk surga melalui pintu ar-Rayyan, yang tidak akan masuk surga melalui pintu itu kecuali buat orang-orang yang berpuasa.

Kesuksesan yang sejati adalah manakala kita bisa melakukan ketaatan kepada Allah. Hati kita akan merasa damai di saat kita melakukan ketaatan. Buat seorang muslim, sukses akan datang dengan sendirinya manakala ia sabar menjalani ketaatan itu, meskipun dihadapkan pada rintangan-rintangan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Saudaraku, kaum Muslimin yang dirahmati Allah swt.

Ada sebuah kisah menarik tentang dampak ketaatan kepada Allah swt.

Salah seorang sahabat Rasulullah ada yang bernama Said al-Khudri. Suatu hari ia mendatangi Rasulullah, lalu berkata,

يا رسول الله، رأيت الليلة رؤيا عجيبة، رأيتنى أصلي خلف شجرة، وأقرأ القرآن فتخشع الشجرةُ لصلاتى حتى جاءت آيةُ سجدة – أي سجدة تلاوة – فسجدت، فرأيت الشجرةَ تسجد لسجودى، فسمعتها تقول وهي ساجدة: اللهم اغفر لى بها وزرا، واكتب لى بها أجرا، واجعلْها لى عندك لى ذخرا، وتقبّلْها منى كما تقبّلتها من عبدك داود عليه السلام.

'Duhai Rasulullah, semalam aku bermimpi aneh. Aku melihat diriku shalat di belakang sebuah pohon. Lalu aku membaca al-Quran dalam shalatku dan pohon itu menjadi merunduk. Ketika aku sampai pada satu ayat sajdah, yaitu ayat sujud tilawah, maka aku pun melakukan sujud. Lalu, aku melihat pohon itu juga ikut bersujud lantaran sujudku. Ketika pohon itu bersujud, aku mendengar ia berkata, 'Ya Allah, ampunilah dosaku dengan sebab sujudku ini. Tuliskan pahala bagiku dengan sebab sujudku ini. Jadikanlah sujudku ini sebagai tabungan akhiratku. Terimalah amalku ini sebagaimana Engkau telah menerima amal hamba-Mu Dawud alayhissalam'.

Begitu mimpi Said al-Khudry.

Subhanallah, sebuah pohon yang tumbuh di masa Rasulullah ternyata mengetahui ketaatan Nabi Dawud alayhissalam. Padahal, jarak antara Rasulullah dengan Nabi Dawud adalah ribuan tahun. Nabi Dawud memang seorang Nabi yang Allah berikan suara yang indah. Jika ia membaca kitab Zabur maka seluruh alam menjadi terpesona.

Begitulah, hadirin rahimakumullah, jika kita membiasakan diri untuk menyesuaikan kehendak kita dengan kehendak Allah, melalui ketaatan kepada-Nya, maka nama kita akan harum sepanjang masa melintasi zaman dan alam, dikenang oleh makhluk Allah swt.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Saudaraku, kaum Muslimin yang dirahmati Allah swt.

Yang kedua, kesuksesan tidak boleh membuat kita eforia, lupa diri, dan kebablasan.

Di saat kita menjalankan ibadah puasa, di saat rasa lapar dan haus mendera, rasanya terbersit hasrat dalam hati kita untuk memuaskan nafsu makan dan minum kita nanti di saat berbuka. Namun, di saat segala hidangan sudah dihamparkan dan datang waktu berbuka, seteguk minuman dan sesuap makanan sudah melenyapkan hasrat kita itu. Sebutir kurma sudah mengenyangkan perut kita. Seteguk dua teguk teh hangat-manis sudah menghangatkan tubuh kita. Kita pun menjadi kembali perkasa dan energik. Kita tidak punya hasrat lagi untuk menghabiskan segala hidangan yang tersedia, kecuali sekedar kebutuhan. Subhanallah… Itulah sunnatullah..

Hadirin rahimakumullah, itu artinya apa? Itu artinya bahwa ketika kita mendapatkan kesuksesan, kita tidak boleh eforia, tidak boleh lupa diri, dan tidak boleh kebablasan.

Riset ilmiah sudah membuktikan bahwa orang-orang sukses adalah orang-orang yang mampu menunda kesenangan sesaat untuk kesenangan yang lebih panjang. Orang yang memilih untuk menabung uang dibanding menghabiskan uangnya, maka ia akan kaya dalam jangka panjang. Bukankah ada pepatah yang mengatakan: Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya?

Dengan Ramadhan, Allah swt sengaja melatih kita untuk menunda kesenangan sesaat untuk kesenangan yang lebih abadi. Dan Rasulullah saw sudah mencontohkan hal itu kepada kita, umatnya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Saudaraku, kaum Muslimin yang dirahmati Allah swt.

Ada kisah menarik, suatu hari Sayyiduna Umar bin Khattab r.a. datang ke rumah Rasulullah. Setelah Umar mengucapkan salam dan diizinkan masuk, ia melihat Rasulullah sedang berbaring di atas tikar kasar yang terbuat dari pelepah kurma, dan tikar itu menimbulkan bekas pada punggung Rasulullah. Melihat keadaan yang mengharukan itu, Umar bin Khattab menangis.

Lalu terjadilah dialog antara Rasulullah dengan Umar.

ما يبكيك، يا ابن الخطاب؟

يا نبي الله، ومالى لا أبكي، هذا الحصير قد أثّر فى جنبك، وهذه خزانتك لا أرى فيها إلا ما أرى، أنت نبي الله وصفةته، وذاك كسرى وقيصر على سرير الذهب وفرش الحرير.

فقال: أولئك عجلت لهم طيباتهم وهي وشيكة الإنقطاع، وإنا قوم أخرت لنا طيباتنا فى آخرتنا… ما مثلي ومثل الدنيا إلا كراكب سار فى يوم صائف فاستظل فى شجرة ساعة ثم راح وتركها.

 'Mengapa engkau menangis, wahai putra al-Khattab?', tanya Rasulullah.

Umar menjawab, 'Duhai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis. Tikar kasar ini sudah membuat punggungmu berbekas. Dan aku lihat hanya ini saja perabotan rumahmu. Padahal, engkau adalah Nabi Allah dan manusia pilihan-Nya. Sementara di sana, yang namanya Kisra dan Kaisar duduk bertatahkan permata, tidur berbantalkan sutra'.

Lalu Rasulullah berkata, 'Orang-orang yang kau sebutkan barusan adalah mereka yang disegerakan kesenangannnya oleh Allah, padahal itu adalah kesenangan yang akan berakhir. Sementara kita adalah kaum yang Allah tunda kesenangannya untuk kesenangan akhirat kita. Perumpamaanku dengan dunia adalah seumpama seorang musafir yang berjalan di musim panas. Lalu ia berteduh di bawah sebuah pohon barang sejenak. Dia istirahat di bawahnya, lalu pergi meninggalkan pohon itu, melanjutkan perjalanannya'.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Saudaraku, kaum Muslimin yang dirahmati Allah swt.

Seorang Muslim yang sukses, jika ia kaya, maka kekayaaannya tidak membuat ia lupa berzakat, bersedekah, dan berbagi dengan orang-orang yang nasibnya berada di bawahnya. Ia menjadi orang dermawan. Jika ia pengusaha atau pebisnis, maka bisnisnya tidak membuatnya lupa mengingat Allah. Ia menjadi pebisnis islami. Jika ia penguasa, maka kekuasannya tidak membuat ia bertindak zalim, sewenang-wenang, dan mengkhianati kekuasaannya di hadapan Allah dan masyarakat. Ia menjadi penguasa yang amanah.

Seorang Muslim yang sukses tidak bersikap eforia, lupa diri, dan kebablasan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Saudaraku, kaum Muslimin yang dirahmati Allah swt.

Yang ketiga, sukses adalah manakala kita mampu bersikap jujur.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah swt berfirman,

كل عمل ابن آدم له إلا الصوم، فإنه لي وأنا أجزي به

'Seluruh amal manusia adalah untuk dirinya, kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi ganjarannya' (Hadits, muttafaq alayh)

Mengapa Allah mengkhususkan ibadah puasa untuk dirinya? Menurut Imam al-Qurthubi, itu karena dua alasan.

أحدها: أن الصوم يمنع من ملاذ النفس وشهواتها، ما لا يمنع منه سائر العبادات

الثانى: أن الصوم سرّ بين العبد وبين ربه، لا يظهر إلا له، فصار مختصا به، وما سواه من العبادات ظاهر قد يدخله الرياء.

Yang pertama, puasa mampu mencegah seseorang untuk memanjakan kesenangan diri dan hasratnya. Sementara ibadah-ibadah yang lain tidak seperti itu.

Yang kedua, puasa adalah rahasia seorang hamba dengan Tuhannya. Tidaklah ia berpuasa melainkan untuk-Nya. Oleh karena itulah, puasa menjadi istimewa dengan sebab ini. Sementara ibadah-ibadah lainnya dapat dengan mudah dimasuki oleh unsur riya'.

Puasa membuat kita jujur, karena kita merasa diawasi oleh Allah swt. Itulah yang disebut muraqabatullah. Orang lain bisa kita bohongi dengan puasa kita, namun Allah tidak. Dalam surat al-Hadid: 4, Allah swt berfirman,

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ، وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Dia selalu bersamamu di manapun kamu berada, dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Saudaraku, kaum Muslimin yang dirahmati Allah swt.

Ada sebuah kisah menarik. Suatu hari, Abdullah bin Umar (anaknya Umar bin Khattab) melakukan perjalanan. Di tengah perjalanan, ia melihat seorang penggembala ternak. Maka terjadilah dialog di antara mereka.

قال أبن عمر: تبيع من هذه الغنم واحدة؟

قال الغلام: إنها ليست لي

فقال: قل لصاحبها أن الذئب أخذ منها واحدة

قال الغلام: إذن، فأين الله؟

Ibnu Umar berkata, 'Maukah engkau menjual satu kambing saja?'

Penggembala itu menjawab, 'Kambing-kambing ini bukan milikku'

Ibnu Umar berkata, 'Katakan saja kepada pemiliknya bahwa satu ekor sudah dimakan serigala'.

Penggembala itu menjawab, 'Kalau begitu, di manakah Allah?'

Mendengar jawaban penggembala kambing itu, Abdullah bin Umar menjadi kagum. Sepanjang perjalanan ia mengulang-ulang ucapan, 'Lalu dimanakah Allah?'

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Saudaraku, kaum Muslimin yang dirahmati Allah swt.

Itulah potret muslim yang jujur. Ia sadar bahwa Allah selalu melihat apa yang ia lakukan. Dalam jangka panjang, orang jujur akan mendapatkan kesuksesan. Tidakkah terbayang dalam ingatan kita, bahwa Rasulullah saw, sebelum diangkat menjadi Rasul, sudah terkenal dengan kejujurannya? Jauh sebelum Rasulullah diangkat menjadi Rasul, masyarakat sudah menyebutnya sebagai al-Amin (orang yang dapat dipercaya).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Saudaraku, kaum Muslimin yang dirahmati Allah swt.

Pada dasarnya kita cinta dengan kebenaran, kebaikan, ketaatan, dan keluhuran. Itulah fitrah kita yang suci. Fitrah itulah yang perlu kita recharge (isi kembali) dalam ibadah puasa, agar kita memiliki energi tambahan untuk mendapatkan kesuksesan dunia dan akhirat.

Semoga Allah swt menerima amal puasa kita dan amal-amal lain yang kita lakukan dalam bulan Ramadhan, sehingga kita termasuk hamba-Nya yang kembali kepada kesucian fitrah kita, yaitu kembali kepada Allah, dan berhasil memenangkan pertarungan melawan hawa nafsu.

 …إن أحسن الكلام وأبين النظام كلام الله الملك المنان.. بارك الله لي ولكم فى القرأن العظيم

Khutbah Kedua

الخطبة الثانية

اللهُ أَكْبَرُ «سبعا»، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

الْحَمْدُ للهِ الْحَكِيْمِ الْعَلِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صّلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ، صَلاَةً وَسَلاَمًا كَامِلَيْنِ مُتَلاَزِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أمّا بعد:

فَيَا عِبَادَ اللهِ،  (فاتقوا الله ما استطعتم – التغابون ١٦)

اتَّقُوا اللهَ رَبَّكُمْ، وَاعْبُدُوْهُ وَأَطِيْعُوْهُ وَوَحِّدُوْهُ، فَلاَ إِلَهَ غَيْرُهُ، إِنْ أَرَضْتُمْ دُخُوْلَ الْجِنَانِ، وَرُمْتُمْ رِضَى الرَّحْمَنِ، وَطَلَبْتُمُ السَّلاَمَةَ مِنَ النِّيْرَانِ، فَعَلَيْكُمْ بِتَوْحِيْدِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَسَلاَمَةِ الْعَقِيْدَةِ مِنَ اْلأَدْرَانِ، وَتَحْقِيْقِ الْعُبُوْدِيَّةِ وَاْلإِيْمَانِ.

 أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَكُمُ اللهُ – عَلَى الْهَادِى الْبَشِيْرِ، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ، كَماَ أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ الْمَوْلَى اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ، فَقَالَ تَعَالَى قَوْلاً كَرِيْمًا: (إن الله وملائكته يصلون على النبي، يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما – الأحزاب ٥٦)

 اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِ قُلُوْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ: أَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرَ الْفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِى النُّوْرَيْنِ، وَعَلِيٍّ أَبِى السِّبْطَيْنِ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِيْدَنَا سَعِيْدًا، وَعَمَلَنَا صَالِحًا رَشِيْدًا،اللَّهُمَّ كَمَا جَمَعْتَنَا فِى هَذَا الْمَكَانِ فَاجْمَعْ قُلُوْبَنَا عَلَى كِتَابِكَ وَسُنَّةِ نَبِيِّكَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ وَالْفِتَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

Ya Allah, ya Tuhan kami, jadikanlah hari Raya kami ini sebagai hari kebahagiaan. Jadikan amal-amal kami sebagai sebagai amal shalih yang mencerahkan hidup kami. Ya Allah, sebagaimana Engkau telah kumpulkan kami di tempat ini, maka rekatkan pula hati kami untuk bersedia mengikuti tuntunan yang Engkau tunjukkan dalam Kitab-Mu dan sunnah Rasul-Mu. Satukan hati kami, perbaiki persoalan-persoalan yang terjadi di depan kami, tuntun kami menuju jalan keselamatan, jauhkan kami dari keburukan dan marabahaya, baik yang sedang terjadi di depan mata atau yang masih tersembunyi dari penglihatan kami.

 اللَّهُمَّ وَفِّقْ إِمَامَنَا بِتَوْفِيْقِكَ، وَوَفِّقْهُمْ إِلَى مَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَاصِيَتِهِمْ إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، وَإِلَى مَا فِيْهِ إِعْلاَءُ كَلِمَتِكَ، وَإِعْزَازُ دِيْنِكَ، وَصَلاَحُ الْبِلاَدِ وَالْعِبَادِ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, ya Tuhan kami,

Berikan petunjuk-Mu kepada pemimpin-pemimpin kami.  Tuntun mereka dalam membuat kebijakan publik yang selaras dengan aturan-Mu. Ya Allah, pegang ubun-ubun mereka untuk selalu berada di jalan kebenaran dan ketakwaan, untuk bersemangat meninggikan kalimat-Mu dan kejayaan agama-Mu, dan berkomitmen untuk memperbaiki keadaan bangsa dan masyarakat.

اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.

Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang zalim dan kafir.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْمَيِّتِيْنَ، اللَّهُمَّ لاَ تَرُدَّناَ خَائِبِيْنَ، وَلاَ عَنْ بَابِكَ مَطْرُوْدِيْنَ، وَلاَ مِنْ رَحْمَتِكَ مَحْرُوْمِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ.

Ya, Allah, dengan rahmat-Mu

Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Mengetahui. Ampuni kami, orangtua kami, dan saudara-saudara kami kaum muslimin, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, karena Engkau yang Maha Pengampun dan Penyayang. Ya Allah, jangan Kau kecewakan kami, jangan Kau tolak kami dari pintu-Mu, dan jangan jadikan kami terhalang mendapatkan kasih sayang-Mu.

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذى القربى وينهى عن الفخشاء والمنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون، فاذكروا الله يذكركم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون