Oleh: Rory Asrio S
Abu Bakar RA adalah sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah SAW. Ia adalah pengikut setia Rasulullah dalam situasi dan kondisi apa pun.
Beliau juga menjadi sahabat yang pertama masuk Islam dan membenarkan ajaran yang dibawa Rasul SAW sehingga mendapat gelar ash-Shiddiq (yang membenarkan).
Bagi Abu Bakar, Rasulullah SAW adalah sosok teladan. Karena itu, segala perilaku Rasul SAW selalu menjadi perhatiannya. Bahkan setelah diangkat menjadi khalifah, ia ingin meniru dan meneladani segala perbuatan Nabi SAW.
Untuk mengetahui lebih detail tentang Rasulullah, Abu Bakar mencari informasi dari orang yang paling dekat dengan Rasulullah. Dialah Aisyah binti Abu Bakar.
Aisyah menceritakan, setiap pagi dan sore, Rasulullah SAW selalu pergi ke sudut pasar. Di sana, ada seorang nenek yang sudah tua renta beragama Yahudi. Nenek itu sudah buta dan tak punya gigi lagi. Kepada nenek itu, Nabi SAW selalu memberikan makan dan menyuapinya.
Si nenek ini tak mengetahui bahwa yang setiap hari memberinya makan dan menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW, orang yang paling dibencinya. Kepada orang yang lewat pasar, si nenek ini senantiasa mengajak orang-orang agar mereka menjauhi manusia yang bernama Muhammad.
Nenek ini menganggap, Muhammad adalah orang yang paling jahat di dunia. Selain itu, nenek ini juga menganggap Muhammad telah menyebabkan terjadinya peperangan antarsuku dan mengganti keyakinan (agama) nenek moyangnya dengan Islam. Karena itu, ia ingin orang-orang menjauhi Muhammad.
Walaupun dibenci dan dicaci-maki oleh si nenek, Rasul SAW tak pernah marah. Dengan telaten, setiap hari Rasul selalu SAW menghaluskan makanan sebelum diberikan kepada si nenek. Dengan begitu, nenek itu bisa langsung memakan makanan yang sudah lunak tanpa perlu dikunyah. Selesai makan, si nenek selalu berpesan kepadanya agar berhati-hati bila bertemu dengan Muhammad.
Abu Bakar ingin meniru perilaku Nabi SAW ini. Ia lantas mendatangi sudut pasar untuk bertemu dan memberi makan si nenek. Namun, baru satu suapan makanan itu diberikan, si nenek lantas mengeluarkan makanan itu dan marah-marah kepada si penyuapnya, yakni Abu Bakar.
Si nenek berkata, "Siapa kamu? Makanan ini sangat kasar. Engkau pasti orang lain dan bukan orang yang biasa memberiku makan?" Abu Bakar kemudian menyebutkan jati dirinya. Si nenek kemudian bercerita, si penyuapnya terdahulu itu selalu menghaluskan makanan sebelum diberikan kepadanya.
Si nenek pun lantas bertanya kepada Abu Bakar. "Kemana gerangan orang itu, sudah sepekan lebih ia tak datang kemari?" Mendengar hal itu, Abu Bakar pun menangis karena tak bisa meniru Rasulullah SAW.
Abu Bakar lalu bercerita bahwa orang yang biasa menyuapi nenek itu adalah Muhammad dan kini telah wafat. Mendengar nama itu, maka si nenek itu pun kemudian tersadar. Ternyata, orang yang selama ini dibencinya begitu menyayanginya, memberinya makan, dan dengan telaten menyuapinya.
Muhammad adalah seorang manusia yang santun dan sopan. Si nenek ini pun lantas bertobat dan memohon ampun. Wallahu a'lam.
Minggu, 16 Desember 2012
Sabtu, 15 Desember 2012
Tafakur - Rezeki
Oleh Jarjani Usman
"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)" (QS. Ibrahim:34).
Setiap kali ada yang meninggal, sebahagian masyarakat di Aceh (di masa lampau) menyebutnya "orang habis rezeki". Bila ditelusuri, memang demikianlah adanya. Rezeki bukan hanya berbentuk harta, tetapi juga berbagai kenikmatan lain seperti nafas, umur, tempat tinggal, keluarga, persahabatan, kesehatan anggota tubuh, kesempatan mendulang pahala, dan lain-lain. Tak seorangpun sanggup menghitungnya. Namun semua itu akan terhenti tatkala kematian tiba.
Bila ini semua difahami sebagai rezeki, maka tak ada seorangpun pantas merasa kecewa manakala dalam bersusah payah mencari rezeki, kadangkala tak memperoleh harta benda. Sebab, di saat tak memperoleh harta, masih banyak rezeki lain yang didapat dan masih dinikmati. Namun sayangnya, sebahagian insan tidak mau merenungkan dan menyadarinya.
Ketidakmauan merenungkan dan menyadari hal ini berakibat fatal bagi manusia. Sebahagian orang menjadi berprasangka buruk terhadap Allah. Seakan-akan Allah tidak memberi rezeki. Padahal Allah memiliki sifat Ar-Rahman, yang terus menganugerahkan rezeki kepada hamba-hambaNya di mana saja, termasuk kepada orang-orang yang mengingkariNya.
Namun bila mau direnungi, siapapun tak akan henti-hentinya bersyukur atas segala karunia Allah yang dinikmati siang dan malam. Juga akan merasa tak bisa hidup sesaat pun, bila tak mendapat rezeki dari Allah.
"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)" (QS. Ibrahim:34).
Setiap kali ada yang meninggal, sebahagian masyarakat di Aceh (di masa lampau) menyebutnya "orang habis rezeki". Bila ditelusuri, memang demikianlah adanya. Rezeki bukan hanya berbentuk harta, tetapi juga berbagai kenikmatan lain seperti nafas, umur, tempat tinggal, keluarga, persahabatan, kesehatan anggota tubuh, kesempatan mendulang pahala, dan lain-lain. Tak seorangpun sanggup menghitungnya. Namun semua itu akan terhenti tatkala kematian tiba.
Bila ini semua difahami sebagai rezeki, maka tak ada seorangpun pantas merasa kecewa manakala dalam bersusah payah mencari rezeki, kadangkala tak memperoleh harta benda. Sebab, di saat tak memperoleh harta, masih banyak rezeki lain yang didapat dan masih dinikmati. Namun sayangnya, sebahagian insan tidak mau merenungkan dan menyadarinya.
Ketidakmauan merenungkan dan menyadari hal ini berakibat fatal bagi manusia. Sebahagian orang menjadi berprasangka buruk terhadap Allah. Seakan-akan Allah tidak memberi rezeki. Padahal Allah memiliki sifat Ar-Rahman, yang terus menganugerahkan rezeki kepada hamba-hambaNya di mana saja, termasuk kepada orang-orang yang mengingkariNya.
Namun bila mau direnungi, siapapun tak akan henti-hentinya bersyukur atas segala karunia Allah yang dinikmati siang dan malam. Juga akan merasa tak bisa hidup sesaat pun, bila tak mendapat rezeki dari Allah.
Minggu, 09 Desember 2012
Tafakur - Wafatnya Ulama
"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan" (HR. Bukhari dan Muslim).
Wafatnya ulama lazimnya menimbulkan kesedihan mendalam di hati orang banyak. Terasa sekali ada suatu kehilangan besar. Tidak demikian dengan meninggalnya seorang yang kaya raya. Padahal ulama yang sesungguhnya seringkali tidak mewarisi harta benda. Yang diwariskan adalah ilmu yang berasal dari Allah sebagai penerang jalan dalam menempuh dunia menuju akhirat. Ini pertanda bahwa manusia lebih membutuhkan ilmu ketimbang harta benda duniawi. Namun demikian, tidak sedikit orang yang mengingkari kenyataan ini.
Buktinya dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang lebih memilih memperebutkan harta ketimbang mengejar ilmu dari para ulama. Dududk dengan orang-orang berharta banyak atau pemerintah yang berkuasa terhadap harta negara, lebih disenangi ketimbang duduk dengan para ulama. Ulama kadangkala didekati manakala ingin mencari posisi penting dalam kepemerintahan, agar dikira (oleh banyak orang) dekat dengan para ulama.
Padahal mendekati ulama sangatlah dianjurkan. Sebagaimana pernah dikatakan Rasulullah SAW bahwa Luqman Al Hakim berwasiat kepada puteranya, "Hai anakku, wajib bagimu duduk bersama ulama (mendatangi majlis mereka), dan dengarkanlah kalam (pembicaraan) hukama' (ahli hikmah). Sesungguhnya Allah akan menghidupkan hati yang mati dengan cahaya ilmu (hikmah), sebagaimana Allah menghidupkan tanah yang tandus dengan air hujan" (HR. Ath Thabarani).
Dengan demikian, bila tidak bergaul dengan ulama, ilmunya menjadi terkubur seiring dengan kepergiannya untuk selama-lamanya. Tertinggallah generasi yang asing dari ilmu agama, yang disukai atau tidak, akan menjadi pemimpin-pemimpin selanjutnya. Tak terkecuali pemimpin dalam bidang agama.
Wafatnya ulama lazimnya menimbulkan kesedihan mendalam di hati orang banyak. Terasa sekali ada suatu kehilangan besar. Tidak demikian dengan meninggalnya seorang yang kaya raya. Padahal ulama yang sesungguhnya seringkali tidak mewarisi harta benda. Yang diwariskan adalah ilmu yang berasal dari Allah sebagai penerang jalan dalam menempuh dunia menuju akhirat. Ini pertanda bahwa manusia lebih membutuhkan ilmu ketimbang harta benda duniawi. Namun demikian, tidak sedikit orang yang mengingkari kenyataan ini.
Buktinya dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang lebih memilih memperebutkan harta ketimbang mengejar ilmu dari para ulama. Dududk dengan orang-orang berharta banyak atau pemerintah yang berkuasa terhadap harta negara, lebih disenangi ketimbang duduk dengan para ulama. Ulama kadangkala didekati manakala ingin mencari posisi penting dalam kepemerintahan, agar dikira (oleh banyak orang) dekat dengan para ulama.
Padahal mendekati ulama sangatlah dianjurkan. Sebagaimana pernah dikatakan Rasulullah SAW bahwa Luqman Al Hakim berwasiat kepada puteranya, "Hai anakku, wajib bagimu duduk bersama ulama (mendatangi majlis mereka), dan dengarkanlah kalam (pembicaraan) hukama' (ahli hikmah). Sesungguhnya Allah akan menghidupkan hati yang mati dengan cahaya ilmu (hikmah), sebagaimana Allah menghidupkan tanah yang tandus dengan air hujan" (HR. Ath Thabarani).
Dengan demikian, bila tidak bergaul dengan ulama, ilmunya menjadi terkubur seiring dengan kepergiannya untuk selama-lamanya. Tertinggallah generasi yang asing dari ilmu agama, yang disukai atau tidak, akan menjadi pemimpin-pemimpin selanjutnya. Tak terkecuali pemimpin dalam bidang agama.
Tafakur - Menanam Modal Kebaikan
Oleh Jarjani Usman
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (QS. Al An'am: 32).
Setiap insan, lebih-lebih para pedagang, memikirkan keuntungan. Setiap modal yang ditanam maunya menghasilkan keuntungan yang banyak. Siapapun akan ragu menanamkan modal dalam jumlah banyak untuk mengharapkan hasil yang sifatnya tak menentu dan sementara. Akan tetapi sangat tergiur menanam modal banyak, jika hasilnya diperkirakan dapat dinikmati lama.
Tentunya tak ada kehidupan yang abadi, kecuali di akhirat kelak. Dengan demikian, sepatutnya bersungguh-sungguh menanam modal untuk akhirat. Apalagi Allah telah menjamin akan adanya balasan untuk setiap modal (kebaikan) yang dilakukan di dunia. Tentunya banyak modal yang bisa ditanam untuk keuntungan akhirat, mulai dari modal waktu, tenaga, pikiran, ruang, dan harta benda. Waktu yang disempatkan untuk memperbaiki diri, keluarga, dan umat manusia, merupakan modal yang sangat diperhitungkan oleh Allah. Apalagi bila modal tersebut digabung dengan tenaga, pikiran, ruang, dan harta benda. Berlipat-lipatlah keuntungan yang akan diperoleh nantinya.
Apalagi segala macam modal yang ditanam untuk akhirat dijamin terhindar dari kerugian. Tak ada manusia yang akan bangkrut karena menolong dengan ikhlas, misalnya. Seringkali, semakin gemar seseorang membantu orang lain, semakin dilapangkan rezekinya yang halal oleh Allah. Sebaliknya, semakin suka seseorang menipu orang lain, semakin sempit rezeki halal yang didapatkannya. Makanya, siapapun yang telah dengan sengaja menipu dalam mencari harta dan tidak mau bertaubat, maka ia dikatakan tak akan memperoleh harta selanjutnya kecuali dengan cara jahat pula. Orang-orang seperti ini, bila tak bertaubat, akan kembali tersadar menjelang kematian atau saat menghadapi sakaratul maut.
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (QS. Al An'am: 32).
Setiap insan, lebih-lebih para pedagang, memikirkan keuntungan. Setiap modal yang ditanam maunya menghasilkan keuntungan yang banyak. Siapapun akan ragu menanamkan modal dalam jumlah banyak untuk mengharapkan hasil yang sifatnya tak menentu dan sementara. Akan tetapi sangat tergiur menanam modal banyak, jika hasilnya diperkirakan dapat dinikmati lama.
Tentunya tak ada kehidupan yang abadi, kecuali di akhirat kelak. Dengan demikian, sepatutnya bersungguh-sungguh menanam modal untuk akhirat. Apalagi Allah telah menjamin akan adanya balasan untuk setiap modal (kebaikan) yang dilakukan di dunia. Tentunya banyak modal yang bisa ditanam untuk keuntungan akhirat, mulai dari modal waktu, tenaga, pikiran, ruang, dan harta benda. Waktu yang disempatkan untuk memperbaiki diri, keluarga, dan umat manusia, merupakan modal yang sangat diperhitungkan oleh Allah. Apalagi bila modal tersebut digabung dengan tenaga, pikiran, ruang, dan harta benda. Berlipat-lipatlah keuntungan yang akan diperoleh nantinya.
Apalagi segala macam modal yang ditanam untuk akhirat dijamin terhindar dari kerugian. Tak ada manusia yang akan bangkrut karena menolong dengan ikhlas, misalnya. Seringkali, semakin gemar seseorang membantu orang lain, semakin dilapangkan rezekinya yang halal oleh Allah. Sebaliknya, semakin suka seseorang menipu orang lain, semakin sempit rezeki halal yang didapatkannya. Makanya, siapapun yang telah dengan sengaja menipu dalam mencari harta dan tidak mau bertaubat, maka ia dikatakan tak akan memperoleh harta selanjutnya kecuali dengan cara jahat pula. Orang-orang seperti ini, bila tak bertaubat, akan kembali tersadar menjelang kematian atau saat menghadapi sakaratul maut.
Tafakur - Belajar
Oleh: Jarjani Usman
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna"(QS. al Mu`minun: 1-3).
Pada alam sekitar dapat dipungut banyak hal, termasuk cara belajar. Seperti yang terdapat pada batu. Batu memang sifatnya keras, tak akan tembus bila dilobangi dengan benda-benda lembut dan tumpul. Namun, batu terbukti bisa perlahan berlubang bila terkena tetesan air yang terus-menerus. Kenyataan ini menawarkan suatu pesan bahwa mempelajari sesuatu yang sulitpun akan (berkemungkinan) berhasil, bila dipelajari berkali-kali.
Apa yang bisa disaksikan dengan mata kepala ini mengajak kita untuk merubah perilaku buruk dalam belajar. Seperti perilaku yang suka gegabah menyalahkan anugerah dalam bentuk kemampuan diri. Padahal kadangkala hanya baru dicoba sekali atau dua kali, sehingga lamgsung menvonis diri tidak mampu.
Kebiasaan menyudutkan kemampuan diri bukan tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Sebahagian orang menjadi putus asa, sehingga membiarkan diri begitu lama terpenjara dalam kerangkeng ketidakmampuan. Seperti membiarkan diri tak mampu membaca dan memahami makna lafadz dalam shalat hingga usia tua dan bahkan hingga ajal tiba. Padahal kemampuan membaca dan memahami lafadz dengan benar bisa membantu membuat kusyuk dalam shalat, suatu syarat penting diterimanya ibadah ini. Dan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari kemampuan penting yang dimiliki orang-orang beriman.
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna"(QS. al Mu`minun: 1-3).
Pada alam sekitar dapat dipungut banyak hal, termasuk cara belajar. Seperti yang terdapat pada batu. Batu memang sifatnya keras, tak akan tembus bila dilobangi dengan benda-benda lembut dan tumpul. Namun, batu terbukti bisa perlahan berlubang bila terkena tetesan air yang terus-menerus. Kenyataan ini menawarkan suatu pesan bahwa mempelajari sesuatu yang sulitpun akan (berkemungkinan) berhasil, bila dipelajari berkali-kali.
Apa yang bisa disaksikan dengan mata kepala ini mengajak kita untuk merubah perilaku buruk dalam belajar. Seperti perilaku yang suka gegabah menyalahkan anugerah dalam bentuk kemampuan diri. Padahal kadangkala hanya baru dicoba sekali atau dua kali, sehingga lamgsung menvonis diri tidak mampu.
Kebiasaan menyudutkan kemampuan diri bukan tidak berdampak buruk bagi diri sendiri. Sebahagian orang menjadi putus asa, sehingga membiarkan diri begitu lama terpenjara dalam kerangkeng ketidakmampuan. Seperti membiarkan diri tak mampu membaca dan memahami makna lafadz dalam shalat hingga usia tua dan bahkan hingga ajal tiba. Padahal kemampuan membaca dan memahami lafadz dengan benar bisa membantu membuat kusyuk dalam shalat, suatu syarat penting diterimanya ibadah ini. Dan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari kemampuan penting yang dimiliki orang-orang beriman.
Langganan:
Postingan (Atom)