Senin, 27 Agustus 2012

Tafakur - Akibat Maksiat

Oleh Jarjani Usman

"Maksiat mengurangi kenikmatan dan memperbanyak kecelakaan" (Ibnul Qayyim).

Terhadap benda-benda di dunia ini, boleh memandang besar-kecil atau berat ringannya, terutama untuk memudahkan dalam pengukurannya. Namun khusus untuk perbuatan maksiat, tidak demikian. Dilarang memandang kecil suatu maksiat, tapi pandanglah kepada siapa kita bermaksiat. Pasalnya, bila memandang kecil suatu maksiat, maka akan mudah mengabaikan akibat-akibat buruknya dan tak merasa banyaku berdosa bila melakukannya. Padahal maksiat banyak dampak buruknya.

Setiap maksiat, menurut Ibnul Qayyim, akan menimbulkan kerugian besar bagi manusia. Antara lain, maksiat bisa melemahkan hati dan membinasakan akal. Padahal hati dan akal merupakan dua kepunyaan manusia yang paling istimewa. Kata Rasul, bila hati manusia tidak baik, maka tidak baiklah seluruh tubuh. Demikian juga dengan akal, yang hanya diberikan kepada makhluk manusia. Betapa buruk kehidupan seseorang yang telah hilang akalnya.

Di samping itu, maksiat membuat manusia lalai mengingat Allah. Padahal Allah sudah menjamin, hati manusia akan menjadi tenang dan nikmat bila mengingatNya. Dengan demikian, kesusahan atau kegundahan akan selalu membalut pikiran manusia yang lupa kepada Allah.

Bukan hanya itu, maksiat juga menghilangkan rasa malu kepada Allah. Bila malu sudah hilang dari seseorang, ia akan melakukan perbuatan meskipun membuatnya terhina. Dan, maksiat membuat pelakunya menjadi tawanan setan. Siapapun yang tertawan, akan menuruti seruan setan. Dalam keadaan demikian, setiap hamba akan jauh dari kenikmatan dalam beribadah atau berbuat baik.



DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.

Tafakur - Tidak Pernah Puas

Oleh Jarjani Usman

"Seandainya anak cucu Adam (manusia) telah memperoleh dua lembah berisi emas, niscaya ia masih menginginkan lembah emas yang ketiga" (HR Imam Ahmad).

Keinginan manusia tak bertepi. Saat belum pernah mendapatkan suatu jabatan biasa, misalnya, jabatan kecil pun rasanya cukup. Namun ketika mendapatkannya, rasanya kita puas bila mendapatkan jabatan yang lebih tinggi lagi. Ketika mendapatkan yang lebih tinggi lagi, kita rasanya puas bila mendapatkan yang lebih tinggi lagi. Demikian seterusnya. Begitulah kira-kira hawa nafsu kita manusia yang diisyaratkan dalam hadits di atas. Karena itu, penting hawa nafsu dikendalikan agar tidak menimbulkan celaka. Rasulullah SAW mengingatkan, "Cintamu terhadap sesuatu membuatmu buta dan tuli" (HR Ahmad).

Peringatan itu terbukti. Betapa banyak orang yang sudah terlalu cinta pada suatu jabatan, misalnya, kemudian menjadi tuli terhadap peringatan dan buta dalam melihat kenyataan. Ia menjadi tak peduli dengan kenyataannya dirinya bahwa kemampuan dirinya rendah untuk memangku jabatan tersebut. Tidak mau tahu juga terhadap akibat-akibat buruk yang akan timbul terhadap masyarakat banyak akibat rendahnya kemampuannya bila nanti menjabat.

Hanya satu yang bisa menghentikan keinginan manusia untuk meriah kepuasan. Yaitu, kematian. Nabi SAW mengingatkan, "Tidak akan pernah penuh perut anak Adam kecuali ditutup dalam tanah (mati)." Namun peringatan Rasulullah SAW ini tidak juga berguna, kecuali untuk orang-orang yang masih lapang hatinya.




DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.

Selasa, 14 Agustus 2012

Khutbah Idul Fitri - Dari Takbir ke Tasyakur

KHUTBAH IDUL FITRI

Çááå ÇßÈÑ - Çááå ÇßÈÑ - Çááå ÇßÈÑ. áÇ Çáå ÇáÇø Çááå - Çááå ÇßÈÑ¡ Çááå ÇßÈÑ æááå ÇáÍãÏ.
Çááå ÇßÈÑ ßÈíÑÇ - æÇáÍãÏ ááå ßËíÑÇ - æ ÓÈÍÇä Çááå ÈßÑÉ æÇÕíáÇ¡ áÇ Çáå ÇáÇø Çááå - Çááå ÇßÈÑ¡ Çááå ÇßÈÑ æááå ÇáÍãÏ.
áÇ Çáå ÇáÇø Çááå æÇÍÏå - ÕÏÞ æÚÏå - æäÕÑ ÚÈÏå - æÇÚÒøÌäÏå æåÒã ÇáÇÍÒÇÈ æÇÍÏå¡ áÇ Çáå ÇáÇø Çááå - æáÇ äÚÈÏ ÇáÇø ÇíøÇå¡ ãÎáÕíä áå ÇáÏøíä¡ æáæ ßÑå ÇáßÇÝÑæä¡ æáæ ßÑå ÇáãÔÑßæä¡ æáæ ßÑå ÇáãäÇÝÞæä¡ áÇ Çáå ÇáÇø Çááå - Çááå ÇßÈÑ - Çááå ÇßÈÑ æááå ÇáÍãÏ.

ÇáÍãÏ ááå ÇáøÐì áÇ Çáå ÇáÇø åæÇáÑøÍãä ÇáÑøÍíã Çáãáß ÇáÞÏøæÓ ÇáÓøáÇã ÇáãÄãä. ÇÔåÏ Çä áÇ Çáå ÇáÇø Çááå æ ÇÔåÏ Çäø ãÍãøÏÇ ÚÈÏå æÑÓæáå. Çááåãø Õáø Úáì ãÍãøÏ æÚáì Çá ãÍãøÏ. ßãÇ ÈÇÑßÊ Úáì ÇÈÑÇåíã æÚáì Çá ÇÈÑÇåíã ... Ýì ÇáÚÇáãíä Çäøß ÍãíÏ ãÌíÏ.

Çááå ÇßÈÑ- Çááå ÇßÈÑ- Çááå ÇßÈÑ æááå ÇáÍãÏ

Hadirin, jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah


KOMPONEN-KOMPONEN TASYAKUR

Allahu akbar! Wahai Allah Yang Menguasai alam semesta, Yang Maha Menghidupkan dan Mematikan. Saksikanlah..., hari ini kami bersimpuh di hadapan keagungan-Mu. Allahu akbar. Engkau Maha besar. Tiada Tuhan kecuali engkau. Dengarlah puja dan sanjungan kami! Terimalah sembah dan pengabdian kami!

Hadirin dan hadirat
Dalam rangkaian ayat-ayat puasa, pada salah satu ayat-Nya Allah mengakhiri dengan perintah:

"Hendaklah kalian sempurnakan bilangan (puasamu), dan besarkanlah Allah atas petunjuk-Nya kepadamu, agar kalian bersyukur" (Q 2:185)

Dengan ayat ini Allah mengajarkan kepada kita bahwa setelah selesai menjalankan ibadah puasa, kita harus membesarkan Allah dan bersyukur kepada-Nya. Ayat ini juga menegaskan bahwa dalam kehidupan Muslim kita berjalan dari takbir ke tasyakur. Dari membesarkan segala keagungan-Nya kepada ungkapan syukur atas segala karunia-Nya.

Takbir artinya membesarkan Allah, dan mengecilkan apa-apa selain Allah. Dalam ibadah shaum, takbir kita cerminkan dengan mengecilkan pengaruh hawa nafsu dan menghidupkan kebesaran Allah dalam hati. Ketika kita membaca al-Quran, kita mengecilkan seluruh pembicaraan manusia, dan hanya membesarkan Kalamullah. Ketika kita berdiri shalat malam di bulan Ramadhan, kita kecilkan seluruh urusan dunia ini, dan hanya membesarkan perintah Allah. Seluruh ibadah kita adalah takbir. Seluruh ibadah kita dimaksudkan untuk mengecilkan apa pun selain Allah yang Mahatinggi.

Setelah menyelesaikan seluruh ibadah ini, Allah masih juga memerintahkan kita untuk bertakbir. Mengapa? Bukankah dalam puasa kita sudah membesarkan Allah? Bukankah dalam tarawih dan tadarus kita sudah membesarkan Allah? Bukankah pada malam dan sebelum shalat Id kita sudah bertakbir? Mengapa kita masih harus bertakbir lagi, mengapa kita masih harus membesarkan Allah lagi?

Aidin aidat yang dirahmati Allah
Mari kita renungkan. Allah tahu, kita sering bertakbir dalam ibadah-ibadah kita, tetapi melupakan takbir di luar itu. Kita besarkan Allah di masjid, tetapi di luar masjid kita agungkan kekayaan, kekuasaan, kedudukan; kita besarkan hawa nafsu, kepentingan, dan pikiran kita. Di atas tikar sembahyang, di masjid, di mushala, di tempat-tempat ibadah, kita gemakan takbir. Di kantor, di pasar, di ladang, di tengah-tengah masyarakat, kita lupakan Allah -kita gantikan takbir dengan takabur, dengan keangkuhan dan kesombongan.

Ketika kita duduk di kantor, kita campakkan perintah-perintah Allah. Jabatan yang seharusnya kita gunakan untuk memakmurkan negara, melayani rakyat, membela yang lemah, menyantuni yang memerlukan pertolongan, kita manfaatkan untuk memperkaya diri. Kita bangga kalau kita mampu menyalahgunakan fasilitas kantor. Kita bangga kalau kita melihat rakyat yang harus kita layani merengek-rengek bersimpuh memohon belas kasihan kita. Kita bangga kalau -dengan sedikit kecerdikan- kita menumpuk keuntungan walaupun mengorbankan saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air. Di kantor, kita singkirkan takbir, dan kita suburkan takabur.

Ketika kita bekerja, berdagang, bertani, seakan-akan Allah tidak pernah hadir dalam hati kita. Kita lakukan cara apa pun, tanpa peduli halal dan haram, tanpa memperhatikan apakah tindakan kita menghancurkan hidup orang lain atau menyengsarakan banyak orang. Kita lupakan Firman Allah. Padahal ada larangan,

"Janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil..." (Q 2:188)

Kita lupakan firman Allah itu. Kita bahkan merasa hebat bila kita mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya walaupun mencampakkan Firman Allah. Kita sudah menggantikan takbir dengan takabur.

Di tengah-tengah masyarakat, kita tidak lagi mendengar Firman Allah yang mengajarkan kejujuran, keikhlasan, kasih sayang, dan amal saleh. Sebaliknya, dengan setia kita mengikuti petunjuk iblis untuk melakukan penipuan, kemunafikan, kekerasan hati, dan penindasan. Allah yang kita besarkan dalam shalat dan doa, kita lupakan dalam kehidupan. Dalam puasa kita menahan diri untuk tidak memakan makanan dan minuman yang halal, tetapi kita berbuka dengan makanan dan minuman yang haram. Bibir kering karena kehausan, perut kempis karena menahan lapar, tetapi tangan-tangan kita kotor karena kemaksiatan.

Lagi, untuk kita renungkan. Karena di masjid kita bertakbir, tetapi di tengah-tengah masyarakat takabur. Kita sering melihat pertentangan (inkonsistensi) dalam perbuatan kita. Banyak orang yang khusyu shalatnya, khusyu pula dalam merampas hak orang lain. Banyak orang yang fasih dalam melafalkan al-Quran, dan fasih pula dalam memperdayakan orang lain. Banyak orang yang tidak putus puasanya, dan tidak putus pula kezalimannya.

Allahu akbar! Wahai Allah yang Mahabesar. Tidak ada Tuhan kecuali Engkau. Ampuni kealpaan dan kekhilafan kami wahai yang Pengasih dan Penyayang. Beri kami kemampuan untuk menggemakan takbir dalam seluruh kehidupan kami. Allahu akbar walillahilham.

Para aidin dan aidat yang dirahmati Allah
Çááå ÇßÈÑ - Çááå ÇßÈÑ - Çááå ÇßÈÑ. áÇ Çáå ÇáÇø Çááå - Çááå ÇßÈÑ¡ Çááå ÇßÈÑ æááå ÇáÍãÏ

Setelah perintah takbir, kita disuruh bertasyakur. Takbir harus disusul dengan tasyakur. Sebagian ulama menyebutkan bahwa tasyakur terdiri atas tiga komponen.

Komponen tasyakur pertama, kesadaran akan nikmat Allah. Kita tahu bahwa kasih-sayang Allah jualah yang menyebabkan kita masih hidup sampai hari ini, masih sanggup berlebaran tahun ini, masih sanggup berkumpul beserta keluarga atau sahabat-sahabat kita. Kita tahu bahwa kasih sayang Allah jualah yang menyebabkan kita masih sanggup berpuasa, beribadah, bertakbir, dan menyampaikan syukur kita kepada-Nya hari ini.

Komponen tasyakur kedua, sikap kita akan nikmat Allah. Kita senang karena Allah senantiasa menolong kita pada saat-saat yang diperlukan. Hati kita penuh dengan rasa terima kasih kepada-Nya karena dia telah membawa kita kepada keadaan seperti sekarang ini.

Rasulullah saw bersabda:

áöíóÊøóÎöÐó ÇÍÏõßõã ÞáÈÇ ÔÇßÑðÇ æáÓÇäÇ ÐÇßÑðÇ æ ÒæÌÉð ãÄãäÉð Úáì ÇãÑ ÇáÇÎÑÉ.

"hendaklah kamu (berbahagia) bila mempunyai hati yang bersyukur, lidah yang berzikir, dan istri (suami) mukmin yang membantumu dalam urusan akhirat." (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Komponen tasyakur yang ketiga adalah amal. Amal diwujudkan dalam seluruh anggota badan kita. Bersyukur kata al-Ghazali, adalah:

"Menggunakan nikmat-nikmat Allah taala untuk menaati-Nya serta menjaga agar tidak menggunakan nikmat-nikmat-Nya itu untuk maksiat kepada-Nya." (al-Ihya, 4:72)

Dengan demikian, tasyakur yang benar ialah bila kita masukkan takbir dalam menggunakan nikmat-nikmat Allah. Kita gunakan hidup kita untuk membesarkan asma-Nya, menjunjung tinggi syariat-Nya, menghidupkan agama-Nya, dan menyayangi hamba-hamba-Nya. Kita gunakan nikmat kekuasaan, kekayaan, dan pengetahuan, untuk sebesar-besarnya mewujudkan kehendak Allah di bumi.

Allah mengajarkan cara tasyakur amal ini,

Wa ammaa bini'mati rabbika fahaddits, dan nikmat Tuhanmu, kabarkanlah (93:11).

Arti mengabarkan nikmat ialah menyebarkan nikmat yang kita peroleh kepada orang lain. Kita bagikan kebahagiaan kita kepada orang lain. Makin banyak orang ikut merasakan nikmat yang kita peroleh, makin bersyukurlah kita. Anda menjadi orang kaya yang paling bersyukur bila kekayaan anda dapat dinikmati oleh orang banyak. Kelebihan rezeki yang anda peroleh tidak anda gunakan untuk kepentingan diri sendiri. Anda serahkan sebagian rizki anda untuk menolong pasien yang tidak sanggup membayar biaya rumah sakit, memberikan bantuan kepada anak didik yang tidak mampu, atau meringankan penderitaan orang miskin. Dengan ini, anda telah menyebarkan nikmat kepada orang lain. Inilah tasyakur dalam amal.

Jika anda orang yang berilmu, anda bertasyakur jika anda sebarkan ilmu anda sehingga orang memperoleh manfaat dari pengetahuan yang anda miliki. Anda gunakan ilmu anda untuk memberi petunjuk kepada orang yang bingung, hiburan kepada orang yang menderita, pengetahuan kepada orang yang bodoh. Anda telah menyebarkan nikmat. Anda telah melakukan tasyakur.

Jika anda orang yang berkuasa, anda bertasyakur bila anda menggunakan kekuasaan untuk melindungi yang lemah, menolak yang zalim, membasmi yang batil, menegakkan keadilan dan kebenaran, sehingga ketika anda meninggal, karya-karya Anda akan menjadi pahala yang terus mengalir.

Jika anda orang yang mempunyai kelebihan tenaga, anda bertasakur bila anda gunakan tenaga anda untuk mendatangkan manfaat bagi orang lain. Yang takabur ialah orang yang selalu memanfaatkan orang lain buat dirinya. Yang tasyakur ialah orang yang berusaha bermanfaat bagi sesamanya.

Rasulullah saw bersabda:

ÇóÍóÈøõ ÇúáÚöÈóÇÏö Çáì Çááåö ÊÚÇáì ÇóäúÝóÚõ ÇáäøóÇÓö áöáäøóÇÓ æó ÇÝÖáõ ÇáÇÚãÇáö ÇöÏúÎÇáõ ÇáÓøÑæÑö Úáì ÞáÈö ÇáãÄãäö íóØúÑõÏõ Úäå ÌæÚðÇ Çæ íóßÔöÝõ Úäå ßõÑúÈðÇ Çæ íóÞúÖöì áóåõ ÏóíúäðÇ

"Manusia yang paling dicintai Allah ialah manusia yang palig bermanfaat bagi manusia yang lain. Amal yang paling utama ialah memasukkan rasa bahagia ke dalam hati orang yang beriman, mengenyangkan yang lapar, melepaskan kesulitan, atau membayarkan hutang." (HR. Ibnu hajar al-Asqalani dalam nashaiul ibad: 4)

hadirin-hadirat yang dirahmati Allah
Al-Quran dimulai dengan nama Allah -bismillah- dan diakhiri dengan nama manusia -annas. Shalat dimulai dengan takbiratul ihram -penghormatan kepada Allah- dan diakhiri dengan assalaamualaikum -penghormatan kepada manusia. Puasa dimulai dengan menahan makan, dan diakhiri dengan memberikan makanan kepada orang lain. Bukankah itu semua menunjukkan bahwa amal seorang Muslim selalu dimulai dengan takbir, dan diakhiri dengan tasaykur -dimulai dengan membesarkan Allah, dan diakhiri dengan mendatangkan manfaat kepada sesama manusia.

Barakallah ...., Bhayangkara Baru, Ramadhan 1433 H

DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.

Khutbah Jumat - BERSEGERA AMAL

"Dan bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa" (QS. Ali Imran: 133).

Alhamdulillah, sampai hari ke-21 bulan Ramadhan ini, Allah masih memberikan nikmat sehat lahir dan batin kepada kita. Semoga dengan segala nikmat itu, kita bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, sehingga di penghujung Ramadhan kita termasuk ke dalam golongan muttaqin, orang-orang yang bertakwa.

Alkisah, seorang sahabat sangat menyukai permainannya. Permainan itu sangat mengasyikkan. Karena asyik, tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Siang begitu cepat berganti malam, malam pun berputar menuju siang, hingga hari demi ia isi dengan permainan itu.

Menyadari permainannya menyia-nyiakan umur, suatu hari sang sahabat berjanji akan meninggalkan permainan itu kalau sudah pergi Haji. Namun ternyata takdir berkata lain. Suatu hari, ia meninggal dunia sebelum melaksanakan ibadah Haji yang ia niatkan itu, tepat sebelum sempat meninggalkan permainan sia-sia itu.

Kisah seorang sahabat itu cermin berharga untuk kita. Ada pelajaran bahwa kita tidak boleh menunda-nunda dalam beramal atau melakukan kebaikan. Termasuk meninggalkan perkara yang tidak berguna juga merupakan suatu kebaikan dan -seperti yang diisyaratkan Quran, merupakan tanda dari orang-orang yang beriman.

Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa di antara ciri orang mukmin ialah meninggalkan yang tak bermanfaat. Tentunya dengan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat, akan menyisakan umur lebih banyak untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Apalagi umur akan dimintakan pertanggungjawaban, sebagaimana sabda Nabi: "Tidak akan bergerak kaki seseorang pada hari kiamat sehingga ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan..." (HR. Tirmidzi).

Kalau diperhatikan, semua peringatan itu berusaha menggiring kita agar menjadi baik, sebelum umur untuk hidup di dunia ini habis. Dalam suatu hadits, seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW, "Wahai Rasul, manusia yang bagaimana yang paling baik?" Rasulullah saw menjawab, "Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya." Kemudian orang itu bertanya lagi, "Wahai Rasul, manusia yang bagaimanakah yang paling jelek?" Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang panjang umurnya namun buruk amalnya" (HR. Ahmad).

Semoga di sepuluh hari bulan penuh kemuliaan ini Allah membimbing kita sehingga kita dapat mengisinya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan bernilai ibadah dan semoga kita dapat meraih lailatul qadar, suatu malam, yang nilai ibadah pada malam itu sebanding dengan ibadah selama seribu bulan. Amin ya Robbal alamiin.

Barakallah ..., Bhayangkara, 10 Agustus 2012

DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.

Khutbah Idul Fitri - MEMAAFKAN DAN MENDOAKAN ORANG-ORANG TERDEKAT KITA

Hadirin-hadirat yang berbahagia.
Ketika fajar menyingsing pada dini hari Idhul Fitri, kita mendengar bukan hanya gemuruh suara takbir yang membesarkan Allah. Jauh dalam lubuk hati, kita mendengar gemuruh perasaan yang mengharu-biru, gemuruh suara kepedihan dan kegembiraan, gemuruh tangis dan tawa.

Kita menangis karena mengenang Ramadhan yang tiba-tiba meninggalkan kita. Kita tertawa karena tiba pada hari bersyukur, yang mengantarkan kita pada curahan kasih sayang Allah, yang tidak ada batasnya, tidak ada hingganya dan tidak ada henti-hentinya.

Baru saja kita meninggalkan rumah kita dengan iringan takbir. Baru saja kita melanjutkan takbir di mesjid ini. Baru saja kita bersama-sama mengangkat tangan berulang kali mengucapkan Allahu Akbar. Baru saja kita meratakan dahi kita diatas sajadah sambil mengumamkan Subhana Rabbiyal 'Ala wa bi hamdih. Sekarang kita duduk bersimpuh di bumi Allah yang Mahabesar.

Hadirin-hadirat yang berbahagia.
Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, marilah kita kosongkan pikiran kita sejenak. Marilah kita ingat orang-orang yang kita cintai dalam hidup ini. Kenanglah ayah-ibu kita, kakek-nenek, suami-istri, kakak-adik, tetangga, kekasih, atau siapa pun mereka yang pada hari ini tidak dapat berbagi bahagia bersama.

Ada diantara mereka yang sekarang lagi diperantauan, lagi terbaring sakit atau ada yang sudah dipanggil Allah untuk menghadapnya.
Kemanakah ayah atau ibu yang pada lebaran lalu memeluk dan menyambut uluran tangan kita dengan kasih sayangnya? Kemanakah kakek atau nenek, yang pada lebaran lalu masih mencium kita? Kemanakah suami ibu atau istri bapak yang pada lebaran lalu masih bersama-sama dengan keluarga? Kemanakah kakak atau adik kita yang pada lebaran lalu gelak tertawa berbagi bahagia bersama kita? Kemanakah, tetangga, kekasih, sahabat yang lebaran lalu masih sempat menyalami kita, mengucapkan selamat hari raya idhul fitri.

Ya Allah hari ini mereka tidak dapat berlebaran bersama kami, tidak bisa kami ulurkan tangan kami untuk meminta maaf atas dosa-dosa kami kepada mereka. Tidak bisa kami undang mereka untuk berkumpul di rumah kami. Tetapi kami mohon Ya Allah masukkanlah rasa bahagai kepada mereka. Harumkanlah kuburan mereka dengan wewangian doa-doa kami. Ringankan beban yang menimpa mereka di alam kubur.

Hadirin-hadirat yang berbahagia.
Ada doa-doa yang sangat menyentuh dan dianjurkan dibaca pada malam-malam ramadhan. Ramadhan sudah berlalu, tapi berguna bagi kita merenungkan kembali doa itu.

"Tuhan-ku, para pengemis tengah berhenti di pintu-Mu. Orang-orang fakir tengah berlindung di hadapan-Mu. Perahu orang-orang miskin tengah berlabuh pada tepian lautan kemurahan dan keluasan-Mu, berharap dapat singgah di halaman kasih dan anugerah-Mu."

"Tuhan-ku, jika di bulan yang mulia ini, Engkau hanya menyayangi orang yang menjalankan puasa dan shalat malam, maka siapa lagi yang akan menyayangi pendosa yang kurang beribadah, yang tenggelam dalam lautan dosa dan kemaksiatan."

"Tuhan-ku jika Engkau hanya mengasihi orang-orang yang taat, maka siapa lagi yang akan mengasihi orang yang durhaka. Sekiranya Engkau hanya akan menerima orang-orang yang banyak amalnya saja, maka siapa lagi yang akan menerima orang sedikit amalnya."

"Ilahi beruntunglah orang-orang yang berpuasa. Berbahagialah orang-orang yang shalat malam. Selamat sejahteralah orang-orang yang ikhlas. Sedangkan kami hanyalah hamba-hamba-Mu yang berlumuran dosa. Sayangilah kami dengan kasih sayang-Mu. Bebaskan kami dari api neraka dengan maaf Mu. Ampuni dosa-dosa kami dengan kasih-Mu, wahai yang paling Pengasih dari segala yang mengasihi."
Hadirin-hadirat yang berbahagia.
Doa di atas menunjukan bukan hanya kerendahan hati pendoa, tetapi juga pengakuan pendosa. Kita merasakan segala kelemahan diri kita dan menggantungkan segala amal kita kepada kasih sayang Dia.
Memang, kita telah berusaha mengisi Ramadhan dengan amal-amal kita. Tetapi, kita tahu, banyak sekali kekurangan kita. Kemalasan kita lebih banyak dari ketaatan kita. Kealpaan kita lebih besar dari zikir kita. Lidah-lidah kita lebih banyak bergunjing, memaki, atau mengeluarkan kata-kata yang tidak patut ketimbang membaca Al-Quran atau menyebut asma Allah. Seluruh anggota badan kita lebih cepat memenuhi perintah hawa nafsu daripada menjemput panggilan Tuhan.
Apa akibat dari semuanya ini? Kita terus menerus dirundung musibah. Kegelisahan lama bersambung dengan kegelisahan baru. Kecemasan bertambah setiap hari. Kita kejar kebahagian tapi kita sering menemukan penderitaan. Kita tidak pernah tenang. Allah Swt berfirman:
Tidaklah menimpa kalian musibah kecuali karena perbuatan tangan-tangan kalian juga. Tetapi Allah mengampuni banyak sekali ( QS. Al-Syura; 30).
Imam Ali bin Abi Thalib berkata, "Tidaklah urat terkilir, batu tergelincir, tongkat tertusuk, kecuali karena dosa. Dan apa yang diampuni Allah sungguh banyak. Barang siapa yang Allah dahulukan siksanya atas dosa-dosanya di dunia ini, maka sesungguhnya Allah terlalu mulia dan terlalu agung untuk mengulangi siksanya lagi pada hari akhirat." ( Ushul Al-Kafi, 2:445)
Jadi apa pun yang menimpa kita berasal dari dosa-dosa yang kita lakukan. Tubuh yang sakit, rezeki yang sempit, musuh yang menyerang, bencana yang menimpa, hati yang terluka, semuanya adalah akibat dosa. Tetapi Allah yang Maha Pengasih tidak selalu menghukum dosa-dosa kita.
Dengan sabar Dia membiarkan kita dan menunggu kita untuk kembali pada-Nya. Allah selalu menanti hamba-hamba-Nya yang mau melabuhkan perahunya pada kasih sayang-Nya.
Allah berfirman; Sekiranya Allah menyiksa manusia karena apa yang mereka lakukan, tentu tidak akan tinggal dipunggung bumi ini satu makhluk pun (yang hidup); tetapi Allah menangguhkan mereka sampai ke waktu yang ditentukan. Maka apabila datang waktunya maka sesungguhnya Allah selalu mengawasi hamba-hamba-Nya (QS. Al Fatir; 45).
Allah Swt masih memberikan tempo kepada kita untuk bertaubat. Mari bersihkan dosa-dosa kita dengan meninggalkan dosa-dosa itu sekarang juga. Datanglah kepada Allah dengan penuh penyesalan. Akui segala kesalahan dan kemaksiatan kita. Segera setelah Dia yang maha kasih menerima taubat kita, semua akibat buruk dosa itu akan dihapuskan. Bukan itu saja Allah juga akan mengganti seluruh keburukan kita dengan kebaikan. Allah akan mengganti ketakutan kita dengan rasa damai, kefakiran kita dengan kecukupan, kebodohan dengan pengetahuan, kesesatan dengan petujuk. Allah Swt berfirman:
Kecuali orang yang bertaubat dan beramal shalih, maka mereka akan Allah gantikan keburukannya dengan kebaikan. Adalah Allah maha Pengampun dan maha Penyanyang. ( Al-Furqan; 70)
Hadirin hadirat yang berbahagia.
Dengarkanlah juga bagaimana Allah yang maha Pengasih memanggil hamba-hamba-Nya yang berdoa dengan sapaan yang sangat mesra. Ya 'Ibadi. Hai hamba-hambaku, "
Katakanlah; Hai hamba-hambaku yang telah melewati batas dalam berbuat dosa. Janganlah kalian berputus asa dari kasih sayang Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa seluruhnya. Seungguhnya Dia maha Pengampun dan maha Penyanyang. Kembalilah kalian kepada Tuhanmu, berserah dirilah kepada-Nya, sebelum datang kepada kalian azab kemudian kalian tidak lagi dapat membela diri (QS Al-Zumar; 53-54)
Siapakah yang dipanggil Allah dalam ayat ini?
Allah tidak memanggil; Ya 'Ibadiyalladzina aqamush shalat- "Wahai hamba-hambaku yang mendirikan shalat" atau Ya 'Ibadiyalladzina 'amilush shalihat- wahai hamba-hambaku yang melakukan amal shaleh".
Yang dipanggil Allah untuk kembali kepangkuan-Nya adalah Ya 'Ibadiyalladzina asrafu 'ala anfusihim- wahai hamba-hamba-Ku yang sudah melewati batas'. Yang dipanggil Allah adalah kita semua, yang sudah menghabiskan usia kita dalam kemaksiatan. Yang disapa Allah adalah dengan penuh kasih adalah kita semua, yang sudah membebani punggung kita dengan kedurhakaan. Yang dipinta Allah tidak banyak. Janganlah berputus asa. Dosa-dosa kalian besar, tetapi lebih besar lagi ampunan Allah. Kalian tidak layak menggapai kasih sayang Allah, tetapi kasih sayang Allah sangat layak untuk mencapai kalian karena kasih sayang Tuhan meliputi langit dan bumi.
Hadirin hadirat yang berbahagia
Rasulullah Saw bersabda; " Ada tiga dosa yang akan disegerakan siksanya di dunia ini juga tidak akan ditangguhkan pada hari akhirat; durhaka kepada orang tua, berbuat zalim kepada manusia, dan tidak berterimakasih kepada kebaikan orang lain."
Jika kita merasa kurang berkhidmat kepada orang tua, jika kita selama ini mengabaikan mereka, jika kita tidak segan-segan menyakiti hati mereka, segeralah datang kepada keduanya. Cium tangan mereka, dan basahi tangan yang pernah menimang kita dengan air matanya, mintakan maaf atas kekurangan pengkhidmatan kita kepada mereka.
Jika diantara keduanya sudah meninggalkan dunia, kirimkan doa yang tulus kepada mereka. Antarkan doa itu dengan amal salih dan hadiahkan amal shalih itu kepada mereka. Ziarahilah kuburan mereka. Lalu bertaubatlah kepada Allah. Mohonkan Rahmat-Nya agar Dia tidak menurunkan azab-Nya kepada kita. Mohonkan kepada Allah agar Dia mengasihi kedua orang tua kita sebagaimana mereka mengasihi kita diwaktu kecil.
Marilah di tempat ini kita bacakan doa untuk mereka; Ya Allah balaslah kebaikan mereka karena telah mendidik kami. Berikanlah ganjaran kepada mereka karena telah memuliakan kami. Jagalah mereka sebagaimana mereka telah memelihara kami pada masa kecil kami.
Ya Allah, untuk setiap derita yang menimpa mereka karena kami, untuk setiap hal yang tidak enak mengenai mereka karena kami, untuk setiap hak mereka yang kami abaikan, jadikanlah itu semua sebagia penghapus terhadap dosa-dosa mereka, ketinggian dalam derajat mereka, kelebihan dalam kebaikan mereka.
Hadirin hadirat yang berbahagia
Jika kita pernah merampas hak orang lain atau menggunjing dan memfitnah mereka atau memeras tenaga mereka untuk keuntungan kita sendiri, atau menyakiti hati mereka dengan penghinaan atau makian, atau mendengki mereka dan berusaha menjatuhkan kehormatan mereka dengan tuduhan keji, atau menyiksa mereka dengan lisan atau tindakan, atau kita mengabaikan mereka ketika mereka meminta pertolongan, atau tidak memaafkan mereka ketika mereka meminta maaf, kita sesungguhnya telah berbuat zalim kepada mereka.
Allah Swt berfirman: Dan orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat bukan karena apa yang mereka lakukan, sungguh mereka telah memikul fitnah besar dan dosa yang nyata ( Al-Ahzab 58).
Kita telah mengundang azab Allah. Kembalikanlah segala hak mereka yang telah kita rampas. Muliakanlah kehormatan mereka yang telah kita rendahkan. Berbuat baiklah kepada mereka setelah kita berbuat jahat kepada mereka. Mintalah maaf dengan tulus. Jika mereka sudah meninggal dunia, ucapkan doa buat mereka. Hadiahkan amal shaleh kepada mereka. Lalu bertaubatlah kepada Allah. Mohonkan Rahmat-Nya agar Dia tidak menurunkan azabnya kepada kita.
Jika kita pernah menerima kebaikan dari makhluk Allah, yang lewat mereka Allah mengalirkan nikmatnya kepada kita, lalu kita tidak membalas kebaikan itu dengan kebaikan, atau kita tidak sedikitpun menampakkan terima kasih kita kepada mereka, kita telah mengundang azab Allah.
Mereka yang berbuat baik kepada kita tidak terhitung jumlahnya.
Di situ ada orangtua yang membesarkan kita, guru yang mengajarkan ilmu kepada kita, kawan yang menolong kita, istri atau suami yang berkhidmat kepada kita, pegawai yang melaksanakan perintah kita, atau orang-orang kecil yang secara tidak langsung membesarkan kita. Berbuat baiklah kepada mereka sekarang juga. Ungkapkan terimakasih kita kepada mereka, paling tidak dengan penghormatan yang kita berikan kepada mereka. Berbuat baiklah kita kepada mereka setelah kita berbuat jahat kepada mereka. Mintakan maaf yang tulus. Sebutkan nama-nama mereka dalam doa-doa kita. Jika mereka sudah meninggal dunia, hadiahkan amal shaleh kita kepada mereka. Lalu bertaubatlah kepada Allah. Mohonkan rahmat-Nya agar Dia tidak menurunkan azab-Nya kepada kita, karena kita tidak berterimakasih kepada orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita.
Hadirin-hadirat yang berbahagia
Mari kita isi sisa hidup kita di dunia ini dengan sedapat mungkin meninggalkan upaya untuk menyakiti hati orang lain. Tinggalkanlah gerakan-gerakan lidah yang mempergunjingkan dan menjatuhkan kehormatan orang lain. Hindarkanlah segala perbuatan tangan dan kaki kita dari berbuat sesuatu yang dapat menganiaya mereka. Karena kezaliman yang kita lakukan akan menghapus seluruh amal shalih kita. Marilah kita mulai hidup kita ini sekarang dengan berusaha untuk membahagiakan orang lain, membahagiakan orang-orang di sekitar kita. Maafkanlah segala kesalahan yang pernah mereka lakukan.

Setelah shalat Id nanti, berkunjunglah kita kekuburan, kita ziarahi kuburan orang-orang terdekat kita atau kepada orang-orang yang pernah kita sakiti. Merenunglah di sana, di atas pusara ayah-ibu, kakek-nenek, atau orang-orang yang kita cintai. Kenanglah bahwa kita juga akan berbaring di bawah tanah, seperti mereka dibungkus dengan kain kafan, tergolek seperti seonggok tubuh yang tak berguna dan terlupakan. Tengoklah ke kiri dan ke kanan. Bukankah lebaran lalu mereka masih bersama kita, ikut pergi ke mesjid ini, ikut menggemakan takbir disamping kita? Tetapi hari ini Allah memanggil mereka terlebih dahulu. Kirimkanlah doa yang tulus kepada mereka. Mohonkan kepada Allah supaya Dia memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada mereka. Kita juga tidak tahu, mungkin saja setelah shalat Id nanti atau besok kita yang akan dipanggil Allah untuk menghadap-Nya. Kita juga akan diantarkan oleh kaum kerabat kita kekuburan. Untuk itu mulai saat ini marilah kita mengingat akan kematian, dengan selalu meninggalkan apa yang dilarang Allah dan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya, serta dengan selalu membahagiakan hamba-hamba Allah dimuka bumi ini. Amin Ya Rabbil 'Alamin.

DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.