Oleh Jarjani Usman
"Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak" (HR. Abu Dawud & Tirmidzi).
Apa yang diwariskan para nabi menunjukkan bahwa meskipun sama-sama berfungsi sebagai alat, harta tidak lebih utama dari ilmu. Ilmulah yang jauh lebih utama dibandingkan harta. Sehuhungan dengan hal ini, Sayyidina Ali mengingatkan bahwa ilmu bisa berfungsi menjaga manusia, sedang harta mengharuskan manusia menjaganya. Ilmu juga menjadi alat penghubung antara manusia dengan Allah. Dengan ilmu, manusia bisa mengenal Allah dengan baik, juga menuntun cara beribadah kepada Allah.
Meskipun demikian utamanya ilmu, kenyataannya banyak di antara kita lebih mementingkan harta. Bahkan banyak permusuhan dan peperangan terjadi karena memperebutkan harta, bukan memperebutkan ilmu. Hal ini menunjukkan betapa tinggi pengaruh suatu anggapan yang berkembang dalam masyarakat. Tidak sedikit yang beranggapan tidak perlu tinggi mencari ilmu, karena pada akhirnya adalah bertujuan untuk mencari harta. Anggapan ini telah menempatkan harta sebagai tujuan akhir, meskipun sebenarnya hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan utama. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, tujuan utama manusia ialah beribadah kepada Allah.
Apa yang paling banyak diimpikan dan dikejar manusia, tak terkecuali orang Muslim, menunjukkan adanya kesenjangan yang lebar dengan apa yang menjadi tradisi para nabi, khususnya berkenaan dengan pewarisan ilmu. Kesenjangan ini telah melahirkan orang-orang yang gemar mewarisi harta, bukan milik sendiri, kepada generasi selanjutnya. Di sisi lain, ilmu sudah dijadikan bukan sebagai alat pencerahan umat, tetapi sebagai alat yang membantu penyelewengan.
DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.
Minggu, 13 Mei 2012
Tafakur - Hamba Yang Menantang
Oleh Jarjani Usman
"Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air mani, maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!" (QS. Yaa Siin:77).
Manusia disebut sebagai hamba yang (kebanyakannya) kurang bersyukur dan suka menantang. Sebutan ini sepatutnya membuat kita membuka tabir yang menutupi perilaku diri kita sendiri. Tak tertutup kemungkinan, dalam perilaku-perilaku tersebut bersemayam penyakit lupa diri dan suka menantangAllah.
Lebih-lebih begitu banyak cara hidup yang baik yang ditunjuki Allah, tetapi mengapa yang disukai malah yang dilarangNya. Allah melarang manusia menyombongkan diri, namun larangan inilah yang suka ditantang. Dilarang berbuat zalim, malah suka menzalimi. Dilarang bermegah-megahan dengan harta, malah itu yang kita senangi. Disuruh melaksanakan shalat ketika azan tiba, malah kebanyakan manusia dengan pongahnya mengabaikannya.
Demikian aneh perilaku sebahagian kita. Padahal, lazimnya yang suka menantang adalah yang merasa diri perkasa. Sedangkan kita manusia jelas sangat lemah. Satu saja penyakit ditimpakan bagi para pelaku zina, manusia menjadi lemah terkulai bertahun-tahun dan sangat berputus asa. Satu bencana alam diberikan, manusia kehilangan arah dan gagal segala rencana. Sedikit saja dibuka kisah perilaku buruknya di dunia ini, banyak orang yang jatuh sakit tiba-tiba.
DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.
"Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air mani, maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!" (QS. Yaa Siin:77).
Manusia disebut sebagai hamba yang (kebanyakannya) kurang bersyukur dan suka menantang. Sebutan ini sepatutnya membuat kita membuka tabir yang menutupi perilaku diri kita sendiri. Tak tertutup kemungkinan, dalam perilaku-perilaku tersebut bersemayam penyakit lupa diri dan suka menantangAllah.
Lebih-lebih begitu banyak cara hidup yang baik yang ditunjuki Allah, tetapi mengapa yang disukai malah yang dilarangNya. Allah melarang manusia menyombongkan diri, namun larangan inilah yang suka ditantang. Dilarang berbuat zalim, malah suka menzalimi. Dilarang bermegah-megahan dengan harta, malah itu yang kita senangi. Disuruh melaksanakan shalat ketika azan tiba, malah kebanyakan manusia dengan pongahnya mengabaikannya.
Demikian aneh perilaku sebahagian kita. Padahal, lazimnya yang suka menantang adalah yang merasa diri perkasa. Sedangkan kita manusia jelas sangat lemah. Satu saja penyakit ditimpakan bagi para pelaku zina, manusia menjadi lemah terkulai bertahun-tahun dan sangat berputus asa. Satu bencana alam diberikan, manusia kehilangan arah dan gagal segala rencana. Sedikit saja dibuka kisah perilaku buruknya di dunia ini, banyak orang yang jatuh sakit tiba-tiba.
DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.
Tafakur - Pentingnya Keikhlasan
Oleh Jarjani Usman
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk" (QS. Al-Baqarah: 45).
Sungguh besar makna keikhlasan. Keikhlasan biasanya memperingan tubuh dalam melaksanakan sesuatu; sebaliknya, ketidak-ikhlasan memperberat. Shalat yang dilakukan dengan tidak ikhlas dan tidak kusyu' akan terasa begitu berat, meskipun sebenarnya shalat ringan. Dikatakan ringan karena shalat bisa dilakukan dalam waktu singkat dan tenaga yang sedikit. Namun demikian, harus diakui, begitu banyak orang yang tak mau melakukan shalat dalam hidupnya. Bagi yang sudah merasakan seperti ini, sebaiknya berhati-hati dan memikirkan kembali keadaan diri dan penyebabnya.
Bila tidak ikhlas dan tidak kusyuk, kemungkinan besar shalat yang kita lakukan tidak diterima Allah, sebab Allah menerima yang baik-baik dan yang dilakukan dengan ikhlas. Kalau setiap hari shalat kita tidak diterima karena kita lakukan asal jadi, maka kapankah saatnya mengumpulkan pahala dari ibadah utama ini (shalat) dalam hidup di dunia yang disebut sebagai tempat mengumpulkan bekal ini? Jangan sampai dunia yang diperuntukkan sebagai tempat beramal, bagi sebahagian orang berubah menjadi tempat mempertontonkan ketidak-ikhlasan dan main-main saja.
Menurut Rasulullah, beratnya melakukan perbuatan bisa disebabkan oleh makanan haram yang dimasukkan ke dalam tubuh. Yang haram tidak akan pernah bersatu dengan yang baik-baik, seperti shalat yang sempurna dan keikhlasan. Bayangkan, betapa mengerikan nasib seseorang yang seumur hidupnya berselemak dengan yang haram. Menyelamatkan diri kita dari kehancuran dari ketidak-ikhlasan dan ketidakkusyukan merupakan suatu keharusan. Perlu menyelamatkan diri dengan doa, agar Allah senantiasa menghadirkan keikhlasan dan kekusyukan dalam hati. Juga perlu berusaha mengusir segala penyebab ketidak-ikhlasan dan ketidakkusyukan.
DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk" (QS. Al-Baqarah: 45).
Sungguh besar makna keikhlasan. Keikhlasan biasanya memperingan tubuh dalam melaksanakan sesuatu; sebaliknya, ketidak-ikhlasan memperberat. Shalat yang dilakukan dengan tidak ikhlas dan tidak kusyu' akan terasa begitu berat, meskipun sebenarnya shalat ringan. Dikatakan ringan karena shalat bisa dilakukan dalam waktu singkat dan tenaga yang sedikit. Namun demikian, harus diakui, begitu banyak orang yang tak mau melakukan shalat dalam hidupnya. Bagi yang sudah merasakan seperti ini, sebaiknya berhati-hati dan memikirkan kembali keadaan diri dan penyebabnya.
Bila tidak ikhlas dan tidak kusyuk, kemungkinan besar shalat yang kita lakukan tidak diterima Allah, sebab Allah menerima yang baik-baik dan yang dilakukan dengan ikhlas. Kalau setiap hari shalat kita tidak diterima karena kita lakukan asal jadi, maka kapankah saatnya mengumpulkan pahala dari ibadah utama ini (shalat) dalam hidup di dunia yang disebut sebagai tempat mengumpulkan bekal ini? Jangan sampai dunia yang diperuntukkan sebagai tempat beramal, bagi sebahagian orang berubah menjadi tempat mempertontonkan ketidak-ikhlasan dan main-main saja.
Menurut Rasulullah, beratnya melakukan perbuatan bisa disebabkan oleh makanan haram yang dimasukkan ke dalam tubuh. Yang haram tidak akan pernah bersatu dengan yang baik-baik, seperti shalat yang sempurna dan keikhlasan. Bayangkan, betapa mengerikan nasib seseorang yang seumur hidupnya berselemak dengan yang haram. Menyelamatkan diri kita dari kehancuran dari ketidak-ikhlasan dan ketidakkusyukan merupakan suatu keharusan. Perlu menyelamatkan diri dengan doa, agar Allah senantiasa menghadirkan keikhlasan dan kekusyukan dalam hati. Juga perlu berusaha mengusir segala penyebab ketidak-ikhlasan dan ketidakkusyukan.
DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.
Tafakur - Perisai Kasih Sayang
"Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya" (HR. Thabrani).
Kasih sayang adalah perekat sekaligus perisai kehidupan orang-orang beriman. Dengan kasih sayang, orang-orang beriman di masa Rasulullah, terutama kaum Muhajirin dan Anshar, merasa lengket hatinya satu sama lain. Kasih sayang juga menjadi perisai untuk melindungi diri dari serangan orang-orang yang tak menginginkan Islam berkembang. Sebab, kasih sayang merupakan modal untuk membentuk umat yang kokoh. Persatuan umat yang kokoh merupakan modal pendobrak untuk meraih kemajuan, sekaligus perisai yang sulit didobrak.
Namun di era teknologi informasi yang kian berkembang, perisai kasih sayang antar umat Islam sering tak tergunakan. Siapa saja dengan tanpa batas bisa menyebarkan kata-katanya. Namun sayangnya, kelemahlembutan dengan sesama seringkali terabaikan dalam taraf yang menguatirkan, tergantikan dengan kata-kata yang bersifat kekerasan. Di antaranya, saling menjatuhkan, memfitnah, mengancam, dan mengejek. Mendengar kata-kata seperti ini, siapapun yang normal pasti merasa tak enak di hati. Tapi sebahagian orang merasa puas hatinya bila sudah menjatuhkan martabat saudaranya sendiri.
Disadari atau tidak, cara-cara seperti ini ikut menyumbang bagi terbentuknya umat yang terbiasa dan gemar dengan kekerasan. Dengan kata lain, umat yang terbentuk berlawanan dengan umat yang diperjuangkan dengan susah payah oleh Rasulullah. Rasulullah menginginkan umat yang bersaudara, bagaikan tubuh yang satu dan saling melindungi dan menyayangi. Jadi sungguh berbahaya mengabaikan kasih sayang. Dan yang gemar melakukannya harus bertanggungjawab terhadap dampak buruk yang terjadi terhadap umat.
DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.
Kasih sayang adalah perekat sekaligus perisai kehidupan orang-orang beriman. Dengan kasih sayang, orang-orang beriman di masa Rasulullah, terutama kaum Muhajirin dan Anshar, merasa lengket hatinya satu sama lain. Kasih sayang juga menjadi perisai untuk melindungi diri dari serangan orang-orang yang tak menginginkan Islam berkembang. Sebab, kasih sayang merupakan modal untuk membentuk umat yang kokoh. Persatuan umat yang kokoh merupakan modal pendobrak untuk meraih kemajuan, sekaligus perisai yang sulit didobrak.
Namun di era teknologi informasi yang kian berkembang, perisai kasih sayang antar umat Islam sering tak tergunakan. Siapa saja dengan tanpa batas bisa menyebarkan kata-katanya. Namun sayangnya, kelemahlembutan dengan sesama seringkali terabaikan dalam taraf yang menguatirkan, tergantikan dengan kata-kata yang bersifat kekerasan. Di antaranya, saling menjatuhkan, memfitnah, mengancam, dan mengejek. Mendengar kata-kata seperti ini, siapapun yang normal pasti merasa tak enak di hati. Tapi sebahagian orang merasa puas hatinya bila sudah menjatuhkan martabat saudaranya sendiri.
Disadari atau tidak, cara-cara seperti ini ikut menyumbang bagi terbentuknya umat yang terbiasa dan gemar dengan kekerasan. Dengan kata lain, umat yang terbentuk berlawanan dengan umat yang diperjuangkan dengan susah payah oleh Rasulullah. Rasulullah menginginkan umat yang bersaudara, bagaikan tubuh yang satu dan saling melindungi dan menyayangi. Jadi sungguh berbahaya mengabaikan kasih sayang. Dan yang gemar melakukannya harus bertanggungjawab terhadap dampak buruk yang terjadi terhadap umat.
DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.
Tafakur - Kekurangan Diri
Oleh: Jarjani Usman
"Tiada yang bersifat santun, kecuali yang mempunyai kekeliruan; tiada yang bersifat bijaksana, kecuali yang mempunyai pengalaman" (HR. al Bukhari).
Banyak kegiatan yang berulang dilakukan setiap insan setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, atau bahkan setiap tahun. Shalat magrib hari ini, misalnya, persis sama dilakukan dengan shalat magrib pada waktu magrib sebelumnya. Bacaan al Al Fatihah juga demikian, selalu sama dalam setiap rakaat shalat. Sejatinya, perulangan itu menambah kualitas kemampuan diri kita dalam membaca dan memahaminya. Namun kenyataannya, perulangan yang sangat sering pun tak menjamin adanya peningkatan kemampuan di antara kita.
Sebahagian orang yang puluhan tahun hanya mampu mampu menghafal saja, tetapi tidak memahami makna, hari ini juga masih ada yang demikian. Sebahagian yang lain yang sejak masa remaja mampu membaca dan memahami makna ayat-ayat dalam Alqur'an, tetapi sampai hari tua tidak melanjutkannya dengan menerapkannya dalam kehidupan. Sebagai contoh, ada ayat yang mengajak untuk berbicara dengan baik dan penuh hikmah, tetapi tak sedikit orang yang hingga hari tuanya masih berbicara dengan penuh hujatan, ejekan, dan sejenisnya. Juga, kita hanya mampu merasa jengkel terhadap kezaliman yang menimpa saudara-saudara kita, tetapi hingga hari ini tak mau belajar untuk mengatasinya.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa umumnya kita tidak benar-benar belajar dari kekurangan diri. Bahkan, hikmah-hikmah yang terkumpul dari sejumlah kesalahan sebelumnya akibat kekurangan diri seakan menjadi koleksi yang tak berarti atau dipandang tak perlu diartikan bagi kehidupan selanjutnya. Tapi anehnya, di saat yang sama kita lebih suka mengorek dan mengurai kekurangan orang lain, ketimbang memperbaiki kekurangan diri.
DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.
"Tiada yang bersifat santun, kecuali yang mempunyai kekeliruan; tiada yang bersifat bijaksana, kecuali yang mempunyai pengalaman" (HR. al Bukhari).
Banyak kegiatan yang berulang dilakukan setiap insan setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, atau bahkan setiap tahun. Shalat magrib hari ini, misalnya, persis sama dilakukan dengan shalat magrib pada waktu magrib sebelumnya. Bacaan al Al Fatihah juga demikian, selalu sama dalam setiap rakaat shalat. Sejatinya, perulangan itu menambah kualitas kemampuan diri kita dalam membaca dan memahaminya. Namun kenyataannya, perulangan yang sangat sering pun tak menjamin adanya peningkatan kemampuan di antara kita.
Sebahagian orang yang puluhan tahun hanya mampu mampu menghafal saja, tetapi tidak memahami makna, hari ini juga masih ada yang demikian. Sebahagian yang lain yang sejak masa remaja mampu membaca dan memahami makna ayat-ayat dalam Alqur'an, tetapi sampai hari tua tidak melanjutkannya dengan menerapkannya dalam kehidupan. Sebagai contoh, ada ayat yang mengajak untuk berbicara dengan baik dan penuh hikmah, tetapi tak sedikit orang yang hingga hari tuanya masih berbicara dengan penuh hujatan, ejekan, dan sejenisnya. Juga, kita hanya mampu merasa jengkel terhadap kezaliman yang menimpa saudara-saudara kita, tetapi hingga hari ini tak mau belajar untuk mengatasinya.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa umumnya kita tidak benar-benar belajar dari kekurangan diri. Bahkan, hikmah-hikmah yang terkumpul dari sejumlah kesalahan sebelumnya akibat kekurangan diri seakan menjadi koleksi yang tak berarti atau dipandang tak perlu diartikan bagi kehidupan selanjutnya. Tapi anehnya, di saat yang sama kita lebih suka mengorek dan mengurai kekurangan orang lain, ketimbang memperbaiki kekurangan diri.
DyStar Confidentiality Notice:
This message and any attachments are confidential and intended only for use
by the recipient named above. Unauthorized disclosure, distribution or copying
of this communication and the information contained in it is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and delete the
message and any attachments. Thank you.
Langganan:
Postingan (Atom)